Senin, 19 Mei 2014

Dika dan Cintaku


Sabtu malam, aku dan Dika ingin jalan-jalan mencari udara malam. Kebetulan malam ini bulan tengah purnama, jadi kami memutuskan untuk berkencan di area terbuka setelah selesai makan di salah satu Restauran di Jakarta. Sepertinya kami memutuskan untuk pergi ke salah satu tempat yang menjadi pusat kebanggaan Negara, Monumen Nasional atau yang lebih dikenal dengan nama Monas. Siapa tak kenal Monas? seluruh dunia mungkin sudah tahu seperti apa bentuk bangunan monumen yang satu ini. Dika menepikan motornya di dekat area bangunan yang menjadi tempat kami berkencan, aku dan Dika bersandar dekat di bawah bangunan Monumen. Ber-alaskan rumput kami berdua menikmati kesejukan malam.
“Dika, kamu tahu gak?” tanyaku yang sedang bersandar di bahunya.
“Tahu tentang apa?” Dika mengembalikan pertanyaan, sambil melirik kemegahan bangunan Monas.
“Aku bahagia banget berada dekat kamu, aku ngerasa sangat nyaman. Ditambah terangnya bulan malam ini, Monas-nya terlihat lebih indah ya, Dika.” kataku, yang sedang bersandar di bahu Dika menatap Monumen dan terangnya langit yang berornamen bulan purnama, terlihat kisi-kisi pelangi melingkari sinarnya. Dika menoleh ke mataku, ia melihatku yang sedang khusyuk menatap langit. Lalu ia mengarahkan pandangannya mengikuti arah pandang mataku, melihat pucuk bangunan monumen dengan langitnya yang megah.
“Indah kok, tapi kamu jauh lebih indah. Karena ternyata antara bangunan itu dan bulan di atas sana sangat kontras dengan apa yang terjadi di bawahnya. Kehidupan marginal dan tidak bermoral yang jauh dari keindahan, apalagi saat jam malam mulai menyapa.” Katanya lembut sambil mendenguskan pelan nafasnya yang mulai tidak beraturan.
“Kehidupan seperti apa, Dika?” aku masih menatap langit dengan purnamanya, tapi aku penasaran dan ingin menanyakan maksud detail perkataannya barusan.
“Kehidupan malam Ibukota dari sisi yang berbeda.” Jawabnya lirih berat sambil menoleh ke arah sekitar halaman Monas. Beberapa pemandangan sekitar memang kurang layak dilihat dari sejak kami menuju kemari.
“Ooh…. Yaa, seenggaknya itu bukan kehidupan kita.” Kataku sedikit mengerti isyaratnya, karena terkadang ada sesuatu yang hanya bisa dicerna dengan pikiran, tapi sangat sulit untuk dijelaskan dengan tulisan dan kata-kata. Dika mengembalikan pandangannya ke arah langit, hingga ia menatap bulan dengan mantap. Sementara aku melirik sejenak lengan kiriku, melihat Rolex yang menggelanginya sudah menunjukan pukul sebelas malam. Lalu Dika menoleh dan menatapku dari sisi samping, memerhatikanku saksama.
“Ternyata kamu gak tomboy-tomboy banget seperti yang dingiangkan banyak orang di sekolah, yah?” kata Dika sambil mengerutkan keningnya seperti orang yang sedang menilai-nilai sesuatu penuh pertimbangan.
“Memangnya kenapa?” aku menoleh ke wajahnya, mengembalikan pertanyaannya yang tidak ku-mengerti.
“Buktinya kamu bisa lembut di dekatku.” Terang Dika, setelah menoleh ke arah lain melepas tatapanku. Aku bangkit dari sandarku pada tubuh Dika dan duduk bersila. Lalu aku menggapai tangannya dan menuntun lembut posisi duduknya hingga menghadapkan Dika pas di depanku. Aku memegang tangannya lembut sambil menghela nafas secukupnya. Dika menatapku bingung.
“Dika. Setomboy-tomboy wanita, dia akan lunak jika berada dekat dengan seseorang yang dia cinta. Apalagi aku gak ngerasa tomboy tuh, aku seorang wanita tulen. Hanya saja mungkin aku sedikit keras kepala, dan ingat ya, Dika! aku bukan cewek jadi-jadian.” Aku merutuk ringan.
“Kalau kamu cewek jadi-jadian aku pasti gak mau, lagipula gak mungkin. Kalau buat aku itu yang penting asal kamu bukan cewek-cewekan saja.” Kata Dika, ia berdekah pelan. Entah apa maksudnya, tak ada yang lucu menurutku.
“Apa bedanya Dika cewek jadi-jadian dengan cewek-cewekan?” tanyaku. Aku mulai menatapnya serius.
“Ada persamaannya, ada perbedaannya. Persamaannya adalah mereka tidak menyukai lawan jenis dan hanya menyukai sesama jenis, perbedaannya itu ya jenisnya sendiri. Cewek jadi-jadian itu ialah seorang cowok dan bertubuh laki-laki tapi berprilaku seperti cewek, dan biasanya hanya suka dengan sejenisnya, laki-laki. Kalau cewek-cewekan itu tubuhnya memang cewek tapi jiwanya lelaki. Dan cewek-cewekan itu juga sukanya sesama jenis, perempuan.” Terang Dika panjang lebar.
“Berarti gue?!” tanyaku sambil melotot mengejang.
“Kamu mungkin masih tulen deh.” Jawab Dika tersengal, ia lalu terkekeh pelan.
“Kok gitu sih Dika, nyebelin banget!” Dika membuatku menggerutu kali ini, aku merasa tersinggung dan memasang muka kesal di hadapannya, melihat apa yang terjadi padaku Dika pun mengejang salah tingkah.
“Iya, maaf. Ngambek.” Ucap Dika mencoba menghangatkan suasana. Ia meraih pergelangan tanganku lembut, aku menarik tanganku cepat, tak membiarkannya.
“Aku punya prinsip, Dika. Kalaupun aku ini dibilang tomboy, aku mau menjadi wanita tomboy yang feminim, dan aku ingin merubah kesan tomboy itu menjadi sesuatu yang positif. Prilaku kita boleh tomboy seperti laki-laki, tapi hati harus tetap wanita!” jelasku, yang sedikit terlihat sebal. Dika berusaha mendengarkan khusyuk meski lebih terlihat cuek bagiku.
“Bisa, bisa.” Dika mengangguk-angguk sambil melihat beberapa sudut taman sesekali ke arah motornya yang hanya berjarak tiga meter dari tempat kami duduk, tapi sepertinya Dika lupa untuk melirikku. Ia berpikir sejenak.
“Banyak faktor sih yang membuat seorang wanita bersikap tomboy. Pertama; mungkin faktor kecewa terhadap konflik yang terjadi di dalam keluarga dan melampiaskannya dengan bersikap tomboy, contohnya mungkin seperti kamu.” Dika menoleh ke arahku menusukkan pandangannya, ia tertawa pelan. Aku sedikit tersenak tapi mencoba tetap tenang.
“Kedua; mungkin karena faktor lingkungan dan pergaulan. Dan yang ketiga; mungkin faktor patah hati.” Lanjut Dika meneruskan keterangannya sambil mengangguk-angguk kembali dan mendongakkan pandangannya sedikit lebih tinggi ke arah rambut ikal-ku yang terburai bergairah.
“Kayaknya kamu tahu banget tentang aku sih, Dika? Dukun ya?! Ayo ngaku?!” celetuk-ku berceloteh sambil tersenyum jahat menunjuk ke wajahnya. Ia menoleh menghindari jariku yang menohok-nohok ke arah wajahnya, Dika menangkap telunjukku.
“Eh, enak saja. Semua itu penelitian ilmiah, tahu…! bukan okultisme. Dan sebenarnya sikap mereka yang seperti itu terjadi karena hal yang sering dianggap sepele, yaitu kurangnya perhatian dari orang terdekat!” kata Dika dengan cepat menjelaskan. Aku mematung sejenak.
“Ikh, Dika lo bikin gue makin terpesona aja sih?! Luas banget pengetahuannya, kalah paranormal sama lo, Dika. Jangan-jangan gue udah dipelet nih, sama lo.” Kataku kembali berceloteh menuduhnya.
“Cewek kalau dipelet mungkin pada lari, apalagi kalau yang meletnya itu orang sakit kejiwaan.” Jawab Dika menanggapi tuduhanku dengan menjadikannya sebuah plesetan.
“Ngomong sama kamu mah emang gak pernah menang, ya? ada saja jawabannya.” Kataku menyerah, mengakui kepandaian bicaranya yang seperti Advokat. Dika tertawa senang, aku hening sejenak. Dika melihatku diam mulai perlahan meraih tanganku dan merangkul tubuhku yang sudah terasa dingin. Dika menghangatkan pelukannya, perlahan kami bersandar kembali. Dika melekatkan tubuhku dalam pelukannya, sementara tangannya membelai-belai mesra rambutku.
“Kamu tahu gak?” tanya Dika pelan memecah keheningan yang baru saja menyergap.
“Apa?” sahutku menyambut pertanyaan pelan Dika.
“Bulan tengah mengintip kita, sepertinya ia cemburu dengan kemesraan kita.” Aku ingin tertawa mendengar kata-kata gombal Dika, tapi tak jadi. Aku menahannya karena merasa ini bukan saatnya bercanda, sampai-sampai aku peringisan membendung tawaku yang ingin meledak.
“Kok, bisa?” kataku, menyeleneh.
“Bisa, karena sang matahari tetap diam dan tak pernah mau mendekatinya. Meskipun ia terus berputar sepanjang waktu mengelilinginya dengan bantuan bumi. Dan itu semua rela ia lakukan hanya demi mendapatkan cintanya sang matahari dan bersanding di sisinya.” Jelas Dika dengan nada sang pujangga yang tegas. Mendengar alasannya yang sedikit ngawur aku malah semakin mesam-mesem menahan gelak-pingkal, tapi aku harus tetap bertahan untuk tidak terkakah-kakah.
“Tapi aku setuju kok dengan mereka, mereka bisa saling melengkapi meski tak pernah bersanding. Aku rasa cinta mereka lebih abadi.” Sambungku menimpali celenehan-nya.
“Cinta hanya akan menjadi kesemuan abadi, jika tak untuk dimiliki. Apakah mungkin cinta bisa terus kukuh, tanpa saling merengkuh.” Dika sedikit menegaskan perkataannya. Dika melirikku, sepertinya ia menyadari diriku yang sedang peringisan menahan geli. Aku langsung mengubah sikapku, serius.
“Entahlah, gue lagi males mikir, Dika. Gue hanya ingin lo terus berada di dekat gue seperti sekarang, gak lebih.” Pungkasku mengakhiri gombalan Dika. Lalu aku kembali merangkulkan tangannya di tubuhku, membetulkan kembali letak posisiku dan melesakkan tubuhku dalam pelukannya. Beberapa saat tetap begitu, hingga tiba-tiba aku mendengar gaduh di lokasi lain yang tak begitu jauh dari posisiku saat ini. Aku menoleh ke tempat suara gaduh berasal.
“Dika, lihat deh orang-orang yang berjaket kulit hitam di sana. Sepertinya mereka sedang memeras pengunjung.” Aku sedikit berbelot.
“Sudahlah, jangan diganggu. Lebih baik kita menjauh darinya.” Kata Dika, yang sepertinya mulai terlihat panik.
“Tunggu, Dika. Hal kayak gini enggak bisa gue biarkan!” aku berdiri dari sandaran tubuh Dika.
“Kamu mau kemana?!” Dika menarik tanganku, mencoba menahanku karena khawatir aku akan bertindak macam-macam. Aku melepaskan pegangan tangannya dengan cepat.
“Sebentar, Dika. Gue mau bantuin orang itu.” Kataku dengan tegas. Jiwa lelaki-ku mulai timbul menenggelamkan sifat kewanitaannya. Aku berlari mantap, menghampiri beberapa orang berjaket dan berkulit hitam tersebut lalu berdiri dekat di belakang mereka.
“Wey! Lo bertiga ngapain meras-meras pengunjung! Preman kampungan lo ye, dasar bego!” teriakku keras melototi mereka sambil berkacak pinggang. Mereka menoleh ke arahku berang, sambil melipat tangannya di atas dada.
“Aduh… mampus deh, dasar cewek bodoh! Bisa-bisa jasad pulang nyawa melayang.” Dika merutuk dalam hatinya di kejauhan.
“Hey, kau diamlah! Kutusuk kau!” bentak salah seorang lelaki yang berbadan agak gemuk memakai topi, berlogat timur entah utara Indonesia aku kurang meniliknya.
“Kurang ajar sekali wanita ini, Bang. Tak kenal siapa kau. Kau beri saja dia, Bang! Mampuskan saja!” Sambung seorang lelaki yang lebih kecil dan agak kurus di sampingnya.
“Coba saja kalo lo bisa! Sini, luh! Maju.” Kataku yang sudah penuh gregat.
“Hei, kau tak kenal siapa aku?! Aku tusuk kau punya daging. Berani kau menghadang kita orang?!” Ucap seorang lelaki yang gemuk tadi, mengancam.
“Eh, bego! Ada juga kalian yang berani-beraninya nodong pengunjung! Meresahkan sekali.” Jawabku keras, sambil menunjuk mereka satu per-satu.
“Sudah, Bang. Kau tikam saja orang ini. Berani dia sama kau, Bang.” Kata seorang lelaki berambut gondrong berjaket kulit yang berada dibelakangnya.
“Diskusi terus lo, sini maju!” mendengar tantanganku mereka terlihat semakin geram, sementara aku merasa sangat gemas. Satu lelaki datang menghunuskan pisau kecilnya ke arah perutku, tapi aku menepisnya dan memutar balik lengannya. Lalu kupukul kepalan tangannya yang memegang pisau hingga mata pisau terlepas dari cengkam tangannya. Lelaki yang berambut gondrong di belakangnya menyusul hendak memukulku dari sisi berlawanan, tapi sekali lagi aku menangkapnya dengan mudah dan memelintir tangannya hingga posisi tubuhnya membelakangiku. Lalu kutarik kakinya yang renggang dengan kakiku hingga dia tersungkur mesra mencium alas. Satu serangan kembali datang dari sisi lain, tendangan meluncur cepat ke arah punggungku. Tapi tiba-tiba Dika datang dan menghalaunya dengan sepotong kayu balok yang ia cabut dari penyanggah pohon sekitar halaman Monumen. Dika memukul kakinya dengan cekatan dan “Brukk!” lelaki itu mengerang keras roboh, sepertinya ia bakal terpincang-pincang. Sementara sebagian yang lain masih berkunang-kunang merasakan pandangan yang gelap. Berkali-kali mereka mengerang merasakan rintih akibat seranganku. Tiba-tiba Dika menarik tanganku.
“Ayo gun, kita lari.” Kata Dika. Peluh di dahinya menunjukkan bahwa ia begitu panik.
“Kenapa, Dika? mereka sedang terpojok kok kita yang lari?” Aku menahan sejenak ajakannya.
“Sudah, ayo cepat! Kita ke motor dan segera pergi dari sini! Sekarang atau tidak sama sekali.” Dika memaksa. Akhirnya aku mengikuti perintahnya tanpa bertanya lebih dulu. Dika menyalakan motor Kawasaki Ninja-nya dan kami bergegas pergi keluar dari lokasi Monumen, saat ini jam dua belas malam.
“Kenapa sih, Dika. lo ketakutan gitu? Mereka kan cuman bertiga. Kalah pula!” Tanyaku yang sedikit kesal dan menganggap Dika pengecut.
“Aku bukan takut dengan tiga orang tadi. Tapi kalau kita lebih lama di sana, sepuluh kali tiga orang tadi bakal dateng.” Terang Dika di balik helmnya dengan sedikit berteriak sambil mengendarai motor. Aku hanya mengangguk ringan dan tidak bertanya lagi sebelum setelahnya kami merasa sudah agak jauh dari tempat tadi, Dika menghentikan mesin motornya. Aku turun sejenak dari motornya untuk merentangkan tanganku yang sedikit pegal usai bertikai tadi. Aku melihat Dika, hendak menanyakan sesuatu yang masih membuatku penasaran.
“Oh ya, Dika. Memangnya mereka bisa membelah tubuh? Kok kata lo mereka bakal tambah banyak?” kataku melanjutkan pertanyaan yang terputus di tengah-tengah berkendara tadi. Dika meluruskan tangannya ke atas, meregangkan ke samping dan ke belakang lalu berakhir meletakkan tangannya di atas tangki motor.
“Mereka berkelompok, itulah kenapa mereka berani melakukan aksi-aksi tadi.” Terang Dika dengan suara yang sedikit tersengal-sengal. Ia melepaskan helmnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang sedikit pening. Aku melihatnya capek.
“Kamu tahu darimana, Dika?” aku kembali bertanya, penasaran.
“Temanku, dia pernah mengalami kejadian seperti tadi. Dia sempat melawan waktu ditodong, tapi tiba-tiba mereka mamanggil teman-temannya. Alhasil, dompet berikut isinya dan ponsel miliknya diambil. Pulang-pulang temanku sudah babak belur dipukuli-nya karena melawan.” Dika mengedikkan badannya, ia membuka sarung pelindung tangannya dan melenturkan jari-jarinya. Lalu Dika memakai helmnya kembali dan menutup kaca pelindungnya. Ia menyalakan lagi mesin motornya, dan mulai mengendarainya dengan sedikit santai.
“Oh.. sepertinya mereka sangat terorganisir, ya? Seandainya semua orang di Indonesia kompak seperti itu mungkin kita bisa menjadi Negara yang sangat disegani di dunia.” Kataku sambil sedikit berteriak dari balik kaca helmnya, melanjutkan percakapan.
“Sebagian kecil orang Indonesia cukup kompak kok, dalam hal mencuri dan memeras harta milik saudaranya sendiri seperti tadi. Sama kompaknya dengan anggota parlemen yang saling berlomba-lomba memakan uang Negara milik rakyat.” Teriak Dika di balik helmnya memberikan pandangan dari sisi yang ada. Dika membelah malam dengan Kawasaki Ninja-nya.
“Sayang sekali ya, kita sedang krisis sosok seorang pemersatu Bangsa saat ini. Sampai-sampai ada yang saling perang antar suku, gondok-gondokan sesama partai, saling tikam sesama institusi, dan saling makan satu sama lain. Padahal mereka semua saudara.” Kataku menimpali, memancing pembahasan.
“Entahlah, untuk yang ini aku gak bisa menjawab! Lagipula kita masih pelajar.” Kata Dika, enggan berkomentar.
“Justru karena kita pelajar, kita harus terdidik. Terutama soal moral.” Kataku menegaskan.
“Ya..ya..ya.” pungkas Dika asal, tak ingin melanjutkan pecakapan yang kurang disukainya. Aku sampai di rumah sekitar setengah jam setelahnya, sementara Dika hendak pamit pulang. Aku membuka kunci pintu gerbang kecil dan menutupnya sangat pelan sambil menekap mulut berharap pintu meringankan suaranya. Orang rumah pasti sudah tidur, dan aku tak ingin menimbulkan kegaduhan. Jadi aku masuk melalui pintu samping dengan langkah pelan dan hati-hati. Melihat suasana dalam rumah agak gelap, aku meraba-raba menuju tangga dan berjalan pelan merayap menaiki anak tangga. Ketika sampai di kamar, tak banyak lagi yang kulakukan selain membenamkan tubuhku di atas kasur, lelah dan kantuk membuatku tertidur cepat dan nyenyak. Saatnya mendengkur senang dalam tenang, lelaplah kini menjemput pagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar