Senin, 19 Mei 2014

Kehidupan di Panti

Sampai di rumah, aku menepikan mobilku di sisi jalan depan rumah karena melihat mobil Ayah masih terparkir di depan garasi. Mungkin Pak Roni, sopir pribadi Ayah belum sempat memasukkannya ke dalam garasi, entah kemana beliau. Aku membuka gerbang kecil dan masuk ke dalam rumah. Aku melihat Ibu duduk di ruang tamu menonton televisi, mungkin sedang menungguku. Ia menoleh ke arahku sejenak lalu mengembalikan lagi pandangannya ke arah televisi.
“Anggun, kamu dari mana saja sih? dasar putri salju keluyuran terus. Kok jam segini baru pulang?” tanya Ibu yang sedang duduk di sofa, memainkan remote control menggonta-ganti channel siaran.
“Aku habis jalan-jalan, Bu. Ke mal sama temen-temen. Lagipula ini baru jam berapa? Tumben Ibu nanya.” Jawabku, lelah.
“Dari mal sih kusam begitu, kumal. Ibu bertanya karena kamu tidak pulang lebih dulu, ganti baju sekolah dulu bisa kan?!” Sindirnya sambil berceloteh panjang. Aku tak menjawab.
“Ya- sudah, kamu segera mandi sana! Rapikan kamar, belajar. Kumal begitu gak enak di-lihat, ikh.” Sambung Ibu sambil mengedikkan bahu dan kepalanya, melihat wajahku yang penuh minyak dan debu, jijik.
“Iya, Tante Desi yang cerewet. Ini juga anak Tante mau mandi, tapi sekarang kan akhir pekan. Besok libuur… masa belajar?! belajar terus capek tau Jeng, anggun juga kan butuh menyegarkan pikiran.” jawabku mendayu, sambil ku-mekarkan tangan di atas kepala.
“Huh, dasar tomboy setengah. Ya-sudah, kalau begitu kamu istirahat malam ini agak sore. Jangan bergadang! terus besok pagi kamu ikut Sista Desi, aku mau ke panti.” Ibu seperti sedang berhadapan dengan temannya saja, seolah-olah lupa kalau kerut di wajahnya selalu mengingatkan bahwa ia sudah punya anak. Aku sudah tak heran, kami selalu seperti ini.
“Hah, ke panti Bu?! Tumben kok Ibu yang super tomboy seperti ABG, enggak mau ngalahan ini ngajak anggun?” aku langsung melangkah cepat ke arah Ibu, duduk di sudut sofa yang terpisah, geleng-geleng kepala. Meskipun seperti teman, aku tetap menjaga etika saat berhadapan dengan Ibu, bagaimanapun Ibu yang melahirkan dan membesarkanku.
“Sudah, ikut saja. Boss Besar alias Ayah kamu itu tidak bisa temani Ibu besok, katanya ada janji dengan relasinya di Bandung.” Pungkasnya mendesis.
“Hmm… oke deh, Tante Desi yang super bohay. Kali ini anggun turuti ajakan Ibu” Jawabku mengayun-ayun, mengangguk sepakat.
“Kebetulan anggun juga sudah lama gak ke panti, kangen sama adik-adik di sana. Tapi… Isti masih ada ya, Bu?” lanjutku bertanya, sambil melilit-lilit rumbaian taplak meja.
“Isti yang seumuran aku itu yah? Eh, seumuran kamu ding?” Ibu terkekeh.
“Sepertinya masih ada sih, tapi Ibu jarang melihatnya. Mungkin sibuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler di sekolah dan pulang sore.” Tambahnya kembali.
“Oh… ya-sudah, Bu. Anggun ke kamar dulu deh, mau mandi. Bau.” Aku nyengir kuda.
“Sudah sana, mandi! Gosok tuh daki-nya. Hhrrggh..” Ibu bergidik jijik. Aku terkekeh pelan dan berlalu menuju kamar, sementara Ibu melanjutkan tontonannya. Setelah aku mandi karena merasa lengketnya kulitku yang bercampur lekatan debu, aku melakukan kebiasaanku sebelum tidur. Menulis curahan hatiku. Aku suka menulis curahan hatiku di laptop ketika hendak tidur, tapi sepertinya aku sedang tak bersemangat menulis malam ini. Meskipun tulisan di laptopku lebih terlihat berceceran tak berarah. Hanya berisi tentang hari-hari yang kulalui, dan sebagian besar dipenuhi cerita-cerita hidup yang tak begitu berarti. Jadi aku hanya membuka-buka file secara acak dan membaca-bacanya kembali sambil menunggu kantuk menyerang.

Aku benci menjadi dewasa, karena ketika dewasa aku tidak bisa merasakan puasnya dimanja. Aku dipaksa untuk mengalahkan keinginanku yang seperti anak kecil dan diharuskan bersikap seperti layaknya orang dewasa, padahal menjadi dewasa itu adalah beban. Aku tidak bisa merasakan kenikmatan tertawa lepas dan kebebasan menangis merengek-rengek tanpa takut diperolok-olok orang dewasa. Betapa bebasnya menjadi anak kecil, tak perlu berpikir keras tentang kehidupan, cukup menikmatinya. Bukankah itu yang namanya kebahagiaan? Lalu kenapa aku dipaksa untuk menghilangkan kebahagiaan itu ketika dewasa? Hidup menjadi tidak adil, segalanya berubah menjadi kesedihan dan semua kebahagiaan itu lenyap entah kemana. Padahal seharusnya ia tak pergi terlalu jauh dari masa kecilku. Seharusnya ia menjemputku yang sedang merasakan kesedihan. Lalu kenapa kesedihan begitu tega menyelimutiku tanpa memberikan kesempatan untuk kebahagiaan merangkulku? Kesedihan sepertinya terlihat sangat bahagia jika ia bisa terus melekat dalam hidupku, sedangkan kebahagiaan tak bisa berbuat apa-apa untuk menolongku yang sedang kesusahan. Pantas saja, menolong dirinya saja ia tak mampu, apalagi menolongku. Ia mati suri, jadi mulai sekarang aku berhenti mengharapkannya agar menjemputku, tapi yang harus aku lakukan adalah berjuang untuk menjemputnya kembali.

Di tengah-tengah santaiku yang sedang membaca tulisan di laptop, tiba-tiba aku jadi teringat sekilas percakapanku dengan Isti sewaktu masih kelas satu SMA dulu. Isti adalah salah satu penghuni panti milik Ibu Farida yang esok bakal aku dan Ibu kunjungi.
“Enak ya, jadi anak-anak. Gak ada yang melarang-larang, bisa bebas bertingkah tanpa takut salah, bisa selalu bermanja-manja sama orang tua mereka. Tapi sayangnya, anak-anak di sini tak bisa mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka.” Ucapku, yang sedang melihat anak-anak bermain di taman panti.
“Justru mereka beruntung bisa mendapatkan kasih sayang dari Ibu Farida, karena rasa sayang Bu Farida sama besarnya seperti rasa sayang orang tua pada anaknya.” Ujar Isti, yang duduk bersamaku di taman panti ber-alaskan rumput dan dikelilingi rumpunan bunga.
“Tapi… dia kan galak, Ti?” ceplosku, menanggapi perkataan Isti.
“Galak karena sayang beda gun dengan galak karena dendam.” Jawab Isti dengan tegas.
“Hmm… iya juga sih.” Pungkasku, sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk.

Satu tahun lebih sudah aku tidak pergi ke panti asuhan milik Ibu Farida, meskipun aku merindukan anak-anak panti di sana, dan mungkin anak-anak di sana juga merindukanku. Isti seumuran denganku, wajahnya cantik tapi sederhana. Dalam bidang pelajaran aku bagaikan langit dan bumi dengannya, kecerdasannya luar biasa dan sudah lebih dari cukup untuk membuatku iri dengan banyak prestasi di sekolahnya. Di mata adik-adik panti Isti adalah sosok seorang Kakak sekaligus Ibu yang bijaksana, meskipun terkadang sangat keras dan otoriter terhadap mereka jika stressnya kembali melanda. Isti adalah salah satu sahabat terbaikku dan Bimbim, keluargaku yang memang sudah mempunyai hubungan dekat dengan Ibu Farida dan kehidupan pantinya sejak aku lulus SD. Sedangkan keluarga Bimbim sudah jauh lebih lama lagi mengenal isi kehidupan dalam panti. Tapi sepertinya persahabatanku dengan Isti sedikit berubah, hubunganku dengannya melonggar beberapa tahun ini karena sesuatu. Aku juga belum tahu akan mengambil sikap seperti apa jika esok hari harus bertemu kembali dengannya. Aku memutuskan untuk ikut dengan Ibu ke panti karena berpikir mungkin di sana aku bisa meringankan kesedihan hatiku saat ini, menenangkan pikiranku yang sedang carut-marut.

Hari ini aku pergi bersama Bimbim dan Akew ke panti. Kami ingin merayakan ulang tahun salah satu anak asuh di panti, dan kebetulan sekolah sedang libur. Akew menyetir mobilku, Bimbim mengiringi kami dengan mobilnya. Sementara Reval menyusul dari arah yang berbeda bersama Bombom, mereka berdua sepertinya sulit berpisah jika bepergian. Bombom memang mempunyai mobil, tapi sayangnya dia parnoid mengendarai kendaraan. Alhasil Reval menjadi sopir pribadinya kemana-pun tujuan Bombom, karena Bombom tak akan pergi kemana-mana jika Reval tidak mau menyopir mobilnya. Mereka selalu berdempetan seperti dua tubuh yang berbeda dalam satu jiwa, saling ketergantungan. Bisa dibayangkan betapa repotnya mereka ketika keduanya mempunyai keperluan yang berbeda tapi saling membutuhkan. Contohnya ketika Reval hendak pergi ke acara kencan makan malam yang pertama kali dengan sang wanita idaman-nya di sekolah, Ratna. Wanita berponi tipis ini sudah menjadi dambaan Reval mulai dari pertama kali masuk kelas satu SMA. Karena sikapnya yang sangat pemalu tapi suka cengengesan, dan Reval yang tak jauh berbeda cengengesannya dengan Ratna, jadi kupikir mereka sangat serasi dan cocok. Reval hendak meminjam mobil Bombom karena sudah berjanji pada Ratna untuk menjemputnya dengan mobil, mungkin ia tak ingin mengecewakan wanita pujaannya itu dengan kencan hanya bertumpang sandal di atas jok motor, meskipun Ratna bukanlah wanita yang suka memandang seseorang dari status ekonomi dan sosialnya.
“Bom, Elu dimane? Gue ade perlu nih.” Ucap Reval di balik ponsel genggamnya saat menelepon Bombom.
“Ini Reval, ya? Kebetulan Reval, Bombom juga lagi butuh banget pertolongan Reval nih. Reval bisa kan ke rumah Bombom, sore ini?” tanya Bombom dengan kepolosannya.
“Aduh, Gendut lo begimane sih. Ngapa jadi lo yang butuh dinganan? minta tolong apaan emangnye? Jadi curiga nih gue.” Jawab Reval balik bertanya, khas.
“Rahasia dong Reval, Reval pokoknya ke rumah Bombom dulu, nanti baru Bombom kasih tahu deh kalau sudah sampai di rumah Bombom.” Tutur Bombom, tak ingin berkata jujur terlebih dahulu,  menahan jawabannya.
“Yaudeh, gue ganti busi si jagur dulu ya, kedinginan kena ujan ngambek nih dia.” celoteh Reval, yang lalu dengan sigap mengganti busi motor kesayangannya..
“Iya Reval, Bombom tunggu ya.” mufakat Bombom.
“Oke.” Pungkas Reval, sebelum menutup percakapan ponselnya.
Sore tiba, Reval bersiap-siap dengan penampilan terbaiknya, memakai kemeja putih kotak-kotak brgambar animasi kartun warna-warni. Kerah kemeja yang dimekarkan dengan celana khas gombrang membuat gaya-nya semakin eksklusif dipandang mata. Ia melaju dari rumahnya dengan sepeda motor GL PRO tahun 1990 kesayangannya. Menyiak angin yang menerpa rambut jambul tipisnya, 15 menit perjalanannya tak terasa, Reval telah sampai di depan pagar rumah Bombom. Reval malas memencet bel, entah mengapa. Ia menelepon kembali Bombom.
“Wey, Dut. Keluar lo.” Seru Reval dari balik ponsel. Bombom menjemputnya di luar pagar.
“Pencet bel dong Reval, kebiasaan.” Rutuk Bombom.
“Kagak ah, gue males. Tetangga gue kemaren tangannya melepuh gara-gara mencet bel.” Jawab Reval memberi alasan.
“Kok bisa sih, Val. Bikin Bombom takut saja.” Susul Bombom bertanya, memeluk kepalan tangannya di atas dada, bergidik.
“Iya, belerang panas dia pencet-pencet.” Ceplos Reval, tertawa, menepak pundak Bombom.
“Gak sekalian beling pecah dimakan.” Sambung Bombom, gerutu.
“Dut, gue kesini sebenernye mao pinjem mobil lo.” Ucap Reval, mulai serius.
“Duh, Bombom juga butuh Reval buat sopir, Bombom mau pergi ke acara pesta Om-nya Bombom.”  Jawab Bombom, memberi tahu.
“Waduh, bisa kacau nih kencan pertama gue.” Kata Reval, sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Terus gimana dong, Bombom butuh Reval buat jadi sopir.” Kata Bombom, mulai resah.
“Pake otak Dut.” Kata Reval, melototi Bombom serius.
“Memangnya otak bisa nyopir ya?” tanya Bombom, mengernyitkan dahi, bingung.
“Bukan itu Dut, pikir pake otak gimane caranye supaya acara lo lancar, acara gue sukses.”  Jawab Reval, menjelaskan. Lalu merangkul sahabatnya itu.
“Memangnya Reval tahu caranya.” Tanya Bombom, penasaran.
“Bentar ye, gue pikirin dulu.” Reval melepas rangkulannya, selangkah maju membelakangi Bombom, mendongakkan pandangannya ke langit. Setelah beberapa saat ia berpikir keras.
“Nah! Ketemu Dut!” Sentak Reval, mengetrikkan jarinya.
“Hah? Gimana? Gimana?” tanya Bombom, serius. Reval menatapnya berkaca-kaca, meyakinkan.
“Gue anter lo ke pesta om lo.” Jawab Reval, berseringai senang.
“Terus?” Bombom bertanya lagi, masih bingung.
“Terus gue tinggalin lo lah, gue kan pengen kencan. Selesai acara lo gue jemput. Udah ayo kita jalan, gak pake lama.” Reval menepak kaca spion mobil Bombom pelan.
“Hmm.. idenya lumayan bagus, oke! Bombom siap-siap dulu deh kalau begitu.” Bombom mengangguk-angguk, setuju.
“Yaudeh, gidah! jangan lama-lama. Jangan sampe kencan pertama gue berantakan.” Titah Reval, semangat.
“Iya, iya.” Pungkas Bombom sebelum masuk ke dalam rumah, bersiap-siap.
Setelah mereka siap dengan segala penampilan terbaiknya, Bombom memberikan kunci mobilnya pada Reval, sedangkan motor yang sudah dianggap seperti pacar pertama bagi Reval sementara waktu ia sandarkan manis di garasi rumah Bombom. Mereka berangkat setelah petang menjelang malam. Diiringi lagu blues yang berasal dari tape playlist mobil Bombom, mereka mengangguk-angguk santai, menikmati lagu dengan khidmat melewati ruas jalan yang mulai penuh oleh sinar-sinar temaram lampu malam. Sementara Ratna sibuk menghubungi Reval menanti kehadirannya yang tak kunjung datang, janji berkencan jam tujuh malam apa boleh buat jemputan baru sampai pukul setengah sembilan malam, meski tak mengapa baginya karena malam ini adalah akhir pekan. Sepertinya kencan perdana Reval akan berjalan lancar malam ini, tapi itu hanya berlaku jika tidak ada insiden di dalamnya. Kenyataanya tidak seperti yang diharapkan. Insiden kecil tapi berdampak besar, rupanya Reval lupa tadi sore ia memakan ketela ubi yang direbus Ibunya. Sepanjang perjalanan Reval terus menghiasi obrolan mereka dengan aktifitas buang anginnya, parfum mobil yang begitu harum lenyap seketika oleh aroma aneh yang berasal dari bokongnya. Sayang sekali, tak sampai di situ. Selesai makan malam mereka kembali memasuki mobil dan berjalan menuju pulang, Reval hendak mengantar Ratna sampai tujuan. Tiba-tiba Reval mulai menggeliat merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada perutnya, sepertinya ia sedang menahan rasa ingin buang air besarnya di tengah perjalanan menuju rumah Ratna. Keharuman ruangan dalam mobil pun semakin menjadi-jadi kala Reval sudah tak sanggup lagi menahan letusan yang berapi-api di dalam perutnya. Ratna pun yang awalnya masih bisa cengengesan saat ini sudah tak sanggup lagi menahan toleransinya.
“Kamu ngebetein banget sih!” semprot Ratna, Reval menoleh ke tempat Ratna duduk, menatapnya serius. Ratna cengengesan, malu.
“Maaf, Ratna sayang. namanya juga kentut. Ditahan sakit perut, dikeluarin jadi ribut.” kata Reval beralasan, Ratna kembali cengengesan. Suasana asyik kembali beberapa saat, akan tetapi beberapa menit selanjutnya, aroma aneh kembali menusuk lororng hidung Ratna.
“Tapi kenapa, kok baunya makin menyeruak ya?” celetuk Ratna, setelah aroma yang muncul semakin mencuat, sementara ponsel yang berada di dalam saku Reval terus berdering.
“Ah, yang bener? Perasaan kamu saja mungkin, Na.” elak Reval, coba menyanggah perkataan Ratna.
“Beneran kok, ini pasti berasal dari kamu deh, dari tadi kan cuma kamu yang selalu buang angin terus.” kata Ratna sontak, yang mulai bertambah ketidak-nyamanan-nya. Reval cengang. Menelan ludah. Reval mencoba menenangkan dirinya, ia mengangkat panggilan di ponselnya yang ternyata berasal dari Bombom.
“Iye, gue lagi di jalan. Udeh lo tunggu aje.” Kata Reval menanggapi suara di balik ponselnya, sebelum kembali menjawab perkataan Ratna.
“Bukan, Na. Mungkin itu hanya halusinasi kamu saja yang berlebihan.” Tepis Reval kembali, sementara mimik mukanya semakin terlihat merah padam, menahan ‘sesuatu’ yang terjadi di dalam perutnya, sekaligus malu. Cengengesan Ratna yang terkenal akut saat ini benar-benar lenyap entah mengapa.
“Aduh, kok makin menyengat ya.” Ratna semakin merasa tidak tahan, ia mulai berang. Reval semakin berkecamuk menahan segala kekacauan yang terjadi pada perutnya, tiba-tiba terdengar pelan suara celana yang dirobek, suara itu berasal dari bokong Reval. Ratna tersenak, ia menoleh ke arah Reval, geram. Merasa tak mungkin lagi mengelak, melihat tatapan menerkam dari Ratna yang begitu menyeramkan, akhirnya Reval menyerah.
“Hehehe… maaf, Na. nongol sedikit.” Kata Reval, cengengesan.
Mendengar dan menyaksikan hiruk-pikuk semua ini, Ratna melotot sinis, ia geram. Ratna memerintahkan Reval menghentikan laju mobilnya, Reval menahannya. Tapi Ratna memaksa, tak tahan. Akhirnya Reval menghentikan gerak ban mobil di sisi trotoar jalan besar, Ratna mendengus kesal, ia turun dari mobil dengan wajah penuh kecewa.
“KITA PUTUS!” Ratna menghentakan pintu mobil, dan segera pergi menumpang ojek motor yang berada tak jauh darinya. Reval tercenung sejenak.
“Rat! Ratna, tunggu!” Seru Reval dari dalam mobil. Tapi ia tak bisa menjemputnya karena menahan sesuatu, sebelum akhirnya Ratna terlanjur pergi meninggalkannya dengan ojek motor yang ia tumpangi. Reval pasrah kini, setelah lalu merutuki dirinya ia langsung melajukan mobilnya dengan tergesa-gesa karena ingin segera membebaskan hajat besarnya yang belum sempat diselesaikan, setelah hajatnya tuntas ia kembali melanjutkan perjalanannya hendak menjemput Bombom di tempat pesta Om-nya. Reval mendecitkan mobil, merasa sebal dengan malam yang dilewatinya. Ia parkir di luar tempat pesta, menunggu Bombom. Setelah beberapa detik menunggu di bangku sopir, Bombom menghampiri Reval dari luar mobil.
“Reval, lama banget sih!” rutuk Bombom, sebal.
“Iye, sorry tadi ban mobil lo bocor.” Kata Reval, beralasan, mengetuk-ngetuk stir mobil pelan sambil bersiul.
“Kok bisa bocor sih, Bombom baru sebulan lho ganti.” Timpa Bombom, Reval cengang, menelan ludah.
“Ee.. ee.. itu.. anu.” Gamang Reval hendak menjawab apa, ia menggaruk-garuk dan mengusap-usap pipinya, sambil menyilit giginya sesekali, pandangannya mengarah kosong.
“Sudah, ayo ngaku saja.” Tekan Bombom, menunjuk hidung Reval.
“Entar gue ceritain deh, udeh ayo naek dulu. Kite pulang.” Cetus Reval. Bombom mengangguk, berjalan menyebrangi Reval, membuka pintu mobil sebelahnya. Setelah mereka siap dengan sabuk pengamannya, Reval menyalakan mesin mobil kembali, tak lupa lagu blues yang menjadi favorit mereka digemakan agak sedikit kencang. Kepala dan jari-jari mulai berjoget ringan mengikuti irama. Mereka kembali menyisir temaram jalanan yang berkilatan.
“Terus, gimana kencannya? Sukses gak?! Ceritain ke Bombom, Val.” Tanya Bombom, di tengah perjalanan, sembari menggoyang-goyangkan kepalanya, ringan.
“Justru itu Dut, acara gue kacau berantakan!” sontak Reval, ia menepak klakson mobil, tak sengaja. Bombom teersenak.
“Kok, bisa?!” tanya Bombom, bingung.
“Lebih parahnya lagi, kencan pertama gue sekaligus kencan terakhir, dia mutusin gue, Dut!” kata Reval, mendongeng.
“Hah?! Ya ampun, kenapa bisa begitu Reval?” Bombom cengang, ringan.
“Udah deh, pokoknya kacau. Gue gak bisa cerita.” Kata Reval, menggeleng-gelengkan kepala.
“Tapi kan aneh Val, Reval kan ganteng, keren, macho. Pakai mobil pula.” Kata Bombom, ia menatap langit-langit kaca, sambil menempelkan kedua buku jarinya di pipi, bingung.
“Iye, sih. Soal itu lo emang bener banget!” kata Reval, mengangguk-angguk serius menanggapi Bombom.
“Iya, terus kenapa dia bisa sampai mutusin Reval?” Bombom bertanya kembali, penasaran.
“Sepele Dut, Cuma gara-gara gue kentut sepanjang acara.” Terang Reval.
“Hahh?!” Bombom tersenak, kaget. Ia tertawa terkikih-kikih.
“Lo kenape Dut, ketawa segala, seneng banget kayaknye liat temen susah.” Ujar Reval, menoleh lirak-lirik ke arah Bombom lalu kembali fokus ke depan.
“Bagaimana Bombom gak kaget, Reval. Bisa-bisanya Reval kentut sepanjang acara kencan.” Kata Bombom, lemas. Reval diam, enggan menanggapi. Bombom kembali cekakak-cekikik.
“Udah ah, jangan dibahas. Jangan ketawa lo, Dut.” Titah Reval, yang mulai merah padam. Sementara Bombom masih tergelak.
“Dut! Diem!” sontak Reval, Bombom celangap membisu lalu menekap langsung mulutnya, sesaat lalu, terkekeh geli kembali, pelan. Mungkin lain kali Reval harus benar-benar menyiapkan diri untuk lebih teliti dengan hal-hal kecil, karena terkadang sesuatu yang kecil bisa menjadi petaka besar, dan sesuatu yang besar lagi berat menjadi terasa mudah dan ringan, kalau saja menanggapinya dengan tenang dan benar, pun bergantung pada bagaimana cara langkah untuk menanganinya. Juga seandainya sesuatu yang buruk sudah terlanjur terjadi, maka alangkah baiknya ia menjadikan hal tersebut sebagai sebuah pelajaran kecil untuk melangkah menuju pendewasaan besar agar bisa menyikapinya dengan bijaksana. Bukanlah serta-merta hal yang menurut penilaian pribadinya sendiri buruk, itu menjadi buruk. Sangat bisa jadi yang dianggap baik itu hanya umpan yang menjerumuskan lebih dalam lagi ke lubang keburukan. Di balik hal-hal kecil yang terjadi, selalu terselip hikmah-hikmah yang besar. Mungkin kata-kata tersebut yang saat ini bisa Reval pelajari untuk dijadikannya sebuah nasihat ringan.

“Eh, itu sepertinya Kak anggun sudah datang, Kak Bimbim juga. Cepat bilang Kak Isti dan Ibu.” Kata Hafid, salah satu anak penghuni panti yang tengah bermain di taman.
“Iya Kak, Nisa ke dalam dulu ya, mau memberi-tahukan Ibu dan Kak Isti.” sahut Nisa, yang saat ini genap berumur delapan tahun, selang satu tahun dengan Hafid, yang sudah berumur sembilan tahun.
“Sudah, sana cepat. Biar Kakak yang menyambut Kak anggun dan Kak Bimbim.”
“Iya, Kak.” Cakapnya memerintahkan Nisa.
“Eh, adik-adik… Bagus, Denita, Rangga, Hafid. Mana anak-anak yang lain? Gimana kabar kalian? Kalian tahu gak, Kakak bawa kado dan makanan banyak di mobil buat kalian.”
“Sebagian anak-anak yang lain sedang di dalam Kak, menyiapkan persiapan acara ulang tahun untuk Nisa” jawab Hafid, lantang.
“Aku mau bantuin mereka dulu deh di dalam.” Kata Akew di tengah percakapan.
“Kew, bantuin gue dulu nih angkatin kado-kadonya, sekalian bawa ke dalam.” Kata Bimbim, yang sedang membuka kunci bagasi belakang mobilnya.
“Oh, iya Bim, maaf aku jadi lupa. Siap, siap!” celoteh Akew, terkekeh pelan.
“Kita baik-baik saja kok Kak, Kakak sendiri gimana?” jawab Denita, anak cerdas dan selalu menjadi peringkat di sekolahnya yang seumuran dengan Hafid.
“Kakak baik-baik saja kok Dek Nita. Lihat nih mata Kakak, wajah Kakak, sehat-sehat saja kan, gak pucat.” Kataku, sambil sedikit membelalak, menarik pelan sudut bawah garis mata.
“Hore.. Hore.. asyik, Kak anggun bawa kado banyak.” Selak Rangga, bocah yang sedang duduk di bangku TK tersebut, kegirangan.
“Kakak anggun bawa kue gak?” sambar Bagus, yang gemuk dan hobi makan.
“Bawa dong, sayang. Kue yang enak deh pokoknya.”
“Nyam.. Nyamm… Bagus jadi laper Kak.” Bagus mengunyah nikmat dalam mulutnya yang kosong, lapar.
“Sabar ya, Bagus. Nanti kita makan kue-nya bareng-bareng sama yang lain.” Tuturku, bermusyawarah.
“Iya, kak.” Jawab bagus, sepakat.
“Ibu ada di dalam?” tanyaku, mengacak.
“Ada, Kak. lagi dipanggil sama Nisa.” Sambut Hafid, mantap.
“Oh, ya sudah. Kakak ke dalam dulu ya.” Sahutku, sambil menatap bangunan utama panti.
“Kak anggun, mana kak kado sama makanan kue-nya?” kata Rangga, menagih.
“Kan Kakak sudah bilang nanti ya, Rangga sayang. Kado sama kue-nya kakak baru akan kasih waktu acara ulang tahun Kak Nisa dimulai.” Jawabku, memberi penjelasannya pada anak ini.
“Yaah, Ka..kak…” Gerutu Rangga, murung.
“Eits, iya dong. Kalau dikasih sekarang nanti yang lain cemburu, jadi harus sabar, pasti kebagian kok semuanya.” Kataku, mengingatkan.
“Asyiik.. benar ya Kak, jangan bohong.” Sahut Rangga, kembali berseri-seri.
“Iya, Kakak gak bohong kok, kakak ke sini sama temen-temen kakak juga, gak sendiri. Jadi bawa kadonya banyak.” Kataku.
“Asyik.. Asyik.. Kakak baik banget, terima kasih ya Kak.” Sambut Bagus.
“Iya, terima kasih juga sama Kak Bimbim, Kak Akew, nanti terima kasih juga ya sama temen Kakak yang belum sampai, mereka lagi di jalan menuju kesini. Kak Bombom dan Abang Reval.” ujarku.
“Oke, Kak anggun.” Jawab Denita.
“Terima kasih ya Kak Bimbim, Kak Akew.”  Seru mereka, serempak.
“Ii.. iya, sama-sama ya anak-anak manis.” Jawab Bimbim.
“Ya, sudah. Sekarang kalian bantu Kak Akew dan Kak Bimbim bawa kadonya ke dalam ya. inget! Gak boleh diambil sebelum acara ulang tahun Nisa dimulai.” Tegasku.
“Siap, Boss!” jawab Hafid, lantang.
“Sini Kak, kita bantuin.” Denita, memberi tawaran kepada Akew.
“Oke, anak-anak manis, terima kasih ya.” Kata Akew, lembut.
“Iya, Kak. Sama-sama.” Sambut Denita, cekatan.
Reval dan Bombom tiba di panti beberapa saat kemudian dan ikut bergabung bersama Bimbim dan Akew, aku pun masuk ke dalam panti dan Ibu Farida menyambutku dengan gembira. Setelah bertanya tentang kabar masing-masing, tentang keluargaku dan keluarga Bimbim, aku menanyakan keberadaan Isti.

                             ###CERITA KOSONG, ISI!###

Pagi cerah seperti yang diharapkan. Sejuk dan hangat beradu menjamah tubuh. Udara yang segar membuatku bernafas dengan lepas sambil melihat eloknya bunga-bunga di beranda rumah dari atas balkon, ditemani secangkir teh hangat kesukaanku, indahnya. Tapi, sekarang aku harus segera mandi, jika tidak Ibu akan marah karena menungguku lama. Karena tomboy itu bukan berarti jarang mandi dan tidak peduli kebersihan. Tomboy juga bisa terbingkai indah dari dalam hati. Jadi, tomboy itu harus bisa membentuk kedewasaan dari dalam, dan mengeluarkannya dengan bijak.
“Non, dipanggil Ibu. Mobilnya mau berangkat.” Seru Bi Ijah di balik pintu kamarku.
“Iya, Bi. Tunggu sebentar. Bilang saja ke Ibu anggun lagi siap-siap, nanti anggun ke bawah.” Sahutku dari dalam kamar mandi. Aku menyudahi mandiku dan membalutkan handuk di tubuhku segera usai seruan Bi Ijah, sambil berlari-lari kecil ke arah lemari hendak mencari baju pakaian yang akan kukenakan.
“Baik, Non.” Jawab Bi Ijah, mengerti. Aku membuka balutan handuk dan mengenakan pakaian layak segera. Aku memilih kemeja warna ungu, warna yang menjadi favoritku disamping warna jingga.
“Sudah dipanaskan Pak Roni mesin mobilnya?” tanya Ibu dari muka pintu ruang tamu.
“Sudah Bu, sini Bu biar barang bawaannya saya taruh bagasi mobil.” Pak Roni menawarkan, kepala dan punggungnya sedikit menunduk sambil mengangguk-angguk pelan.
“Oh, iya. Terima kasih Pak Roni.” Ibu menyambut tawarannya, membiarkan Pak Roni membawa barang bawaannya. Aku sudah hampir selesai dan hendak turun dari kamarku.
“Njeh, Bu. Maaf.” Pak Roni izin permisi membawa barang bawaan Ibu. Setelah rapi aku langsung menutup pintu kamarku dan menuruni anak tangga dengan cekatan.
“Ayo, Bu. Berangkat.” Ajakku semangat, saat mencapai bawah anak tangga.
“Kamu ngapain saja sih jeng di kamar lama banget, ikh.” rutuk Ibu menungguku mandi hingga selesai bersiap-siap. Aku memang bangun lebih siang pagi ini.
“Ya ampun, Ibu. Namanya juga perawan.” Aku hanya menjawab ringan, sambil merenggangkan celana jeans-ku yang sedikit robek-robek supaya terasa lebih pas.
“Perawan setengah jejaka maksudnya?” Ibu berdekah seru, meledek.
“Iiih, Ibu apa-apaan sih, aku cewek tulen lah! lupa ya kalau masa mudanya dulu juga seperti ini?” sindirku.
“Oh, Ibu kan gak pernah tua, jadi lupa tuh kapan masa mudanya.” Ibu terkekeh, mengelak senang.
“Memang agak susah sih, kalau bicara dengan Ibu-Ibu yang selalu muda.” Jawabku mengalah, tepok jidat. Entah kenapa wajahnya langsung berubah, sedikit merah padam.
“Sudah, ayo berangkat! Pak Roni menunggu di mobil.” Seru Ibu, ia menghampiriku. Menarik cekatan jari tengah dan telunjukku dengan tangannya lalu berjalan ke arah mobil yang sudah di-panaskan mesinnya oleh Pak Roni, mungkin sedikit tersindir karena aku panggil ‘Ibu-Ibu’ tadi.
“Iya.. iya, Sista. Pelan-pelan dong, aah..!” Aku hanya bisa pasrah menuruti tuntunannya sampai ia melepaskan tanganku. Dan tidak dilepaskannya sebelum aku masuk ke dalam mobil. Aku duduk di bangku belakang mobil sedannya, lalu menghela nafas dengan sedikit berat dan panjang.

1 komentar:

  1. ford fusion titanium - Titanium-arts.com
    Ford Fusion Titanium is a fusion titanium bar-fired stainless titan metal steel core chi titanium flat irons with titanium band rings an anti-carbonized magnet. The core is made of snow peak titanium flask 3-D titanium titanium granite oxide.

    BalasHapus