“Siang
anak-anak! bagaimana pelajaran kalian hari ini? Baik-baik saja tho?” tanya Pak
Harto, pemilik warung makan yang menurutku lumayan komplit. Dari mulai minuman
dan makanan ringan hingga makanan-makanan berat tersedia disini.
“Tanya kabar kita dong, Pak. Kenapa harus pelajaran yang ditanyain?” Bombom masuk lebih dulu mencari tempat duduk dan langsung mencomot gorengan di meja hidangan.
“Biasa, Pak. Bombom nangis lagi tadi, ditanya soal Matematika sama guru.” Sahut Akew yang mengiringi langkah Bombom menjemput bangku duduk, Bombom mendengus karena merasa diejek temannya.
“Ha.. Ha.. Ha.. Ha. Iya iya, maaf. Bapak melihat kabar kalian terlihat baik hari ini, jadi Bapak gak perlu bertanya lagi, lagipula kalian sudah kelas 3 SMA sekarang, jadi harus lebih fokus belajar.” Gelak Pak Harto, memberi nasehat sambil mempersilahkan kami duduk di bangku yang sudah tersedia di dalam dan di luar warung makan Pak Harto.
“Tenang, Pak. Otak kita tuh encer! Gak tahu deh kalo Bombom.” Tambah Reval yang lalu duduk di samping Bombom sambil memilis-milis cabai rawit di wadah gorengan.
“Kalian gak tahu saja otak Bombom itu manis seperti madu.” Sambung Bombom sambil mengunyah lahap gorengan di mulutnya.
“Ya-sudah, mau pesan apa? Bapak buatkan.” Kata Pak Harto lembut.
“Biasa deh, Pak. Kayak kemaren-kemaren.” Jawab Akew melambai tangan.
“Oh, iya.. iya.. Bapak sudah hafal makanan kalian. Baik, Bapak buatkan segera.” Pungkas Pak Harto. Lalu ia bergerak menyiapkan pesanan di balik meja warung. Aku pun duduk di bangku meja hidangan. Sambil menunggu pesanan, aku bangun dari dudukku dan mengambil beberapa botol minuman dari lemari Es yang berada di depan warung untuk mereka. Sementara Reval sudah lebih dulu bangun dari duduknya dan tengah sibuk memilih makanan kecil yang terpajang di depan warung.
“Pak, Bapak pernah denger rumor tentang Mega? Siswi yang meninggal di ruang praktek sekolah beberapa tahun lalu.” Tanya Reval sedikit mengangkat suaranya, saat sedang sibuk mengambil sebungkus kecil keripik yang terpajang di depan warung. Bimbim masih berdiri di luar warung sambil melihat-lihat sekitar, entah apa yang diperhatikannya.
“Oh, itu sudah lama nak, enam tahun silam.” Tanggap Pak Harto sambil menyeka piring yang masih basah dari dalam warung, Reval menyimak.
“Katanya sih, dari berita yang beredar, kematiannya karena disabotase oleh pacarnya yang satu kelas. Dengar-dengar pada saat itu ia tengah hamil, mungkin karena pacarnya enggan bertanggung jawab lalu membakarnya di ruang praktek sekolah yang sekarang menjadi ruangan terbengkalai itu.” Tambah Pak Harto, lalu kembali menyiapkan pesanan di belakang meja warung. Reval kembali ke tempat duduknya, membuka bungkusan keripik.
“Wih, serem juga ya?” Reval terdongak, mengangguk-angguk sambil mengunyah potongan-potongan keripik yang renyah.
“Iih.. bikin Bombom takut saja nih, Bapak!” Seru Bombom, sambil menabuh meja beberapa kali, kelihatan kalau dia mulai menggeliat takut.
“Wey! udah deh jangan bikin bulu kuduk gue merinding. Pak Harto udah deh.” Tambahku, menimpali seru Bombom.
“Bapak juga sering melihat penampakannya. Biasanya ia sering bermain di depan gerbang sekolah saat Bapak hendak pergi ke pasar dini hari.” Kata Pak Harto, malah melanjutkan cerita.
“Terus.. terus.. Pak?!” sahut Reval, penasaran.
“Pak Harto! Reval! apa-apaan sih kalian?!” Bentakku memotong pembicaraan mereka. Sudah tahu aku mulai ketakutan, mereka malah terkekeh ringan, membuat kesan suasana semakin seram saja.
“Nama pacarnya Lesgo, dia adalah siswa pindahan. 3 SMA, dia pindah ke sekolah ini dan gak lama mereka pacaran, ruang praktek terbakar.” Bimbim menambahkan dari luar warung yang ternyata ikut menyimak pembicaraan di dalam, ia malah menimpali.
“Berarti rumor itu benar-benar terjadi, Bim?” Akew malah menyambutnya kembali, sambil menggoyang-goyang sedotan dalam botol minuman yang baru dibukanya.
“Mana gue tahu? Yang pasti gue bisa lihat dimana dia sekarang.” Jawab Bimbim, datar. Sambil melihat bangunan belakang sekolah yang tidak jauh dari pandangannya.
“Hah, yang benar kamu Bim? Dimana?” cecar Reval menyambut kaget, bertanya.
“Di sekitar kita, dia sekelas dengan kita.” Kata Bimbim, masih dengan nada datar.
“Aaauhh…!! Reval, Bombom takut.” Kejut Bombom, merinding. Ia menarik-narik baju Reval.
“Cupcupcup… udah lo kalem aje. Hantu juga takut sama lo, Dut!” kata Reval, menenangkan.
“Bimbim! Akew! Sekali lagi lo bahas soal beginian gue tonjok.” Selakku kembali, mengancam kesal. Bimbim terkikih jahat.
“Sama cowok berani, tapi sama hantu takut.” Ledek Akew, terkekeh panjang.
“Beda, beda, beda! Cowok, cowok! Hantu, hantu! Iikh.” Jawabku, kesal. Cerita berhenti sejenak. Pak Harto menghidangkan pesanan kami beriringan. Reval menerimanya serius dan Akew masih dengan tenangnya. Bombom terus merapatkan posisinya pada Reval, sedang lalu perlahan Bimbim masuk dan duduk di sebelahku, ia terdiam kaku. Lalu suasana seperti sudah di-edit hening. Semua mulai terpaku geming.
“Wuaaaa…!!” kejut Bimbim, mengagetkanku. Bombom menggelingjang kaget.
“Aoww!” Sentak aku berteriak, juga karena tersenak kaget. Aku melototi Bimbim.
“Aaa lo mah rese banget!” jantungku hampir copot dibuatnya. Aku memicit perut Bimbim, kesal. Aku paling takut dengan cerita-cerita hantu, tapi Akew, Bimbim, Reval dan Pak Harto malah asyik menertawakan.
“Tanya kabar kita dong, Pak. Kenapa harus pelajaran yang ditanyain?” Bombom masuk lebih dulu mencari tempat duduk dan langsung mencomot gorengan di meja hidangan.
“Biasa, Pak. Bombom nangis lagi tadi, ditanya soal Matematika sama guru.” Sahut Akew yang mengiringi langkah Bombom menjemput bangku duduk, Bombom mendengus karena merasa diejek temannya.
“Ha.. Ha.. Ha.. Ha. Iya iya, maaf. Bapak melihat kabar kalian terlihat baik hari ini, jadi Bapak gak perlu bertanya lagi, lagipula kalian sudah kelas 3 SMA sekarang, jadi harus lebih fokus belajar.” Gelak Pak Harto, memberi nasehat sambil mempersilahkan kami duduk di bangku yang sudah tersedia di dalam dan di luar warung makan Pak Harto.
“Tenang, Pak. Otak kita tuh encer! Gak tahu deh kalo Bombom.” Tambah Reval yang lalu duduk di samping Bombom sambil memilis-milis cabai rawit di wadah gorengan.
“Kalian gak tahu saja otak Bombom itu manis seperti madu.” Sambung Bombom sambil mengunyah lahap gorengan di mulutnya.
“Ya-sudah, mau pesan apa? Bapak buatkan.” Kata Pak Harto lembut.
“Biasa deh, Pak. Kayak kemaren-kemaren.” Jawab Akew melambai tangan.
“Oh, iya.. iya.. Bapak sudah hafal makanan kalian. Baik, Bapak buatkan segera.” Pungkas Pak Harto. Lalu ia bergerak menyiapkan pesanan di balik meja warung. Aku pun duduk di bangku meja hidangan. Sambil menunggu pesanan, aku bangun dari dudukku dan mengambil beberapa botol minuman dari lemari Es yang berada di depan warung untuk mereka. Sementara Reval sudah lebih dulu bangun dari duduknya dan tengah sibuk memilih makanan kecil yang terpajang di depan warung.
“Pak, Bapak pernah denger rumor tentang Mega? Siswi yang meninggal di ruang praktek sekolah beberapa tahun lalu.” Tanya Reval sedikit mengangkat suaranya, saat sedang sibuk mengambil sebungkus kecil keripik yang terpajang di depan warung. Bimbim masih berdiri di luar warung sambil melihat-lihat sekitar, entah apa yang diperhatikannya.
“Oh, itu sudah lama nak, enam tahun silam.” Tanggap Pak Harto sambil menyeka piring yang masih basah dari dalam warung, Reval menyimak.
“Katanya sih, dari berita yang beredar, kematiannya karena disabotase oleh pacarnya yang satu kelas. Dengar-dengar pada saat itu ia tengah hamil, mungkin karena pacarnya enggan bertanggung jawab lalu membakarnya di ruang praktek sekolah yang sekarang menjadi ruangan terbengkalai itu.” Tambah Pak Harto, lalu kembali menyiapkan pesanan di belakang meja warung. Reval kembali ke tempat duduknya, membuka bungkusan keripik.
“Wih, serem juga ya?” Reval terdongak, mengangguk-angguk sambil mengunyah potongan-potongan keripik yang renyah.
“Iih.. bikin Bombom takut saja nih, Bapak!” Seru Bombom, sambil menabuh meja beberapa kali, kelihatan kalau dia mulai menggeliat takut.
“Wey! udah deh jangan bikin bulu kuduk gue merinding. Pak Harto udah deh.” Tambahku, menimpali seru Bombom.
“Bapak juga sering melihat penampakannya. Biasanya ia sering bermain di depan gerbang sekolah saat Bapak hendak pergi ke pasar dini hari.” Kata Pak Harto, malah melanjutkan cerita.
“Terus.. terus.. Pak?!” sahut Reval, penasaran.
“Pak Harto! Reval! apa-apaan sih kalian?!” Bentakku memotong pembicaraan mereka. Sudah tahu aku mulai ketakutan, mereka malah terkekeh ringan, membuat kesan suasana semakin seram saja.
“Nama pacarnya Lesgo, dia adalah siswa pindahan. 3 SMA, dia pindah ke sekolah ini dan gak lama mereka pacaran, ruang praktek terbakar.” Bimbim menambahkan dari luar warung yang ternyata ikut menyimak pembicaraan di dalam, ia malah menimpali.
“Berarti rumor itu benar-benar terjadi, Bim?” Akew malah menyambutnya kembali, sambil menggoyang-goyang sedotan dalam botol minuman yang baru dibukanya.
“Mana gue tahu? Yang pasti gue bisa lihat dimana dia sekarang.” Jawab Bimbim, datar. Sambil melihat bangunan belakang sekolah yang tidak jauh dari pandangannya.
“Hah, yang benar kamu Bim? Dimana?” cecar Reval menyambut kaget, bertanya.
“Di sekitar kita, dia sekelas dengan kita.” Kata Bimbim, masih dengan nada datar.
“Aaauhh…!! Reval, Bombom takut.” Kejut Bombom, merinding. Ia menarik-narik baju Reval.
“Cupcupcup… udah lo kalem aje. Hantu juga takut sama lo, Dut!” kata Reval, menenangkan.
“Bimbim! Akew! Sekali lagi lo bahas soal beginian gue tonjok.” Selakku kembali, mengancam kesal. Bimbim terkikih jahat.
“Sama cowok berani, tapi sama hantu takut.” Ledek Akew, terkekeh panjang.
“Beda, beda, beda! Cowok, cowok! Hantu, hantu! Iikh.” Jawabku, kesal. Cerita berhenti sejenak. Pak Harto menghidangkan pesanan kami beriringan. Reval menerimanya serius dan Akew masih dengan tenangnya. Bombom terus merapatkan posisinya pada Reval, sedang lalu perlahan Bimbim masuk dan duduk di sebelahku, ia terdiam kaku. Lalu suasana seperti sudah di-edit hening. Semua mulai terpaku geming.
“Wuaaaa…!!” kejut Bimbim, mengagetkanku. Bombom menggelingjang kaget.
“Aoww!” Sentak aku berteriak, juga karena tersenak kaget. Aku melototi Bimbim.
“Aaa lo mah rese banget!” jantungku hampir copot dibuatnya. Aku memicit perut Bimbim, kesal. Aku paling takut dengan cerita-cerita hantu, tapi Akew, Bimbim, Reval dan Pak Harto malah asyik menertawakan.
Siang itu jam istirahat, aku tidak sempat menyarap di rumah dan memutuskan untuk makan di kantin. Setelah kupikirkan ingin pesan makanan apa, mungkin bakso patut dikecap. Aku memesan dari salah satu stan yang berada dalam ruang kantin, salah satunya stan bakso milik Pakde Buloh. Begitu aku biasa memanggilnya, meski ada juga siswa yang memanggilnya Mas Buloh.
“Pakde, baksonya satu ya. anggun tunggu di sini saja.” ujarku depan stan gerobak Pakde Buloh.
“Oh iya, cahayu. Sebentar ya, Pakde sedang mencuci sayurannya.” balas Pakde Buloh dengan logat Jawanya yang kental.
“Iya, Pakde.” timpalku menirukan logatnya. Sambil melihat-lihat pemandangan ramai sekeliling kantin yang mulai penuh dengan murid-murid kelaparan, aku mengetuk-ngetuk meja Pakde membuat irama. Setelah menunggu, selang beberapa saat pesanan bakso panas siap tersaji di atas meja gerobak Pakde Buloh.
“Sini Pakde, biar anggun saja yang sambelin.” kusambar secepat kilat mangkuk bakso yang hendak Pakde berikan sambal. Karena laparku yang sudah memuncak, semangkuk bakso dari tempat penyajiannya hendak segera kubawa ke meja makan yang tersebar di ruang kantin, yang menurutku cukup besar untuk ukuran kantin sekolah. Sambil melirak-lirik mencari meja kosong untukku memulai ritual makan, aku berjalan menyusuri beberapa meja yang sudah penuh terisi oleh murid-murid lain. Saat tubuh lengkuk biola-ku mulai berderap melangkah, dengan gaya berjalan khas berjingjit, melengggak-lenggok seperti bebek karena postur tubuhnya yang demikian dan sulit ku-ubah. Tiba-tiba seorang siswa berlari dan menabrakku. “Gubrakkk prentaanng!” dengan adegan slow motion bakso di mangkuk yang tengah aku pegang jatuh berhamburan dan pecah. Aku mendongak kesal, melihat mangkuk bakso pecah berantakan sementara perutku sedang meronta-ronta. Aku mendorong dada lelaki itu, emosi.
“Eh, bego! kalau jalan hati-hati dong,
katarak lo ya?!”
sontak aku berteriak kesal sambil melototinya dengan
nada khasku yang memang terkenal sedikit
tomboy
dan urakan.
“Upss.. iya, maaf. gue sedang buru-buru.” jawab lelaki tersebut dengan sedikit tersengal, panik.
“Buru-buru banget sih, lo?! kayak mau ngambil gaji.” Emosiku
meledak-ledak, tapi aku masih menyempatkan pandanganku untuk mencermati
wajahnya. Dari ujung rambutnya yang ikal, dada bidang dan postur tubuh yang
putih tinggi semampai dengan sepatu converse
berwarna merah. ia bergeming sejenak, bingung hendak berbuat apa.
“Hmm.. perasaan gue baru lihat elo deh?!” tambahku sambil mengernyitkan alis, bercampur kesal dan penasaran.
“Hmm.. perasaan gue baru lihat elo deh?!” tambahku sambil mengernyitkan alis, bercampur kesal dan penasaran.
“Oh, iya. Gue siswa pindahan. Sekali lagi gue maaf.. gara-gara gue bakso lo jadi tumpah. Sumpah gue
gak merhatiin sekitar. Tapi gue ganti kok, lo pesan lagi gue yang bayar.” Ia terus berkomat-kamit sambil menggaruk-garuk
rambutnya yang terlihat sedikit panik.
“Eitss, enak saja lo, gak bisa dong! kalau lo mau ganti harus berkali-kali lipat.” Tegasku berkacak pinggang.
“Eitss, enak saja lo, gak bisa dong! kalau lo mau ganti harus berkali-kali lipat.” Tegasku berkacak pinggang.
“Oke, oke. Daripada panjang nih masalah, bagaimana kalau
gue traktir lo sampe puas?!” Mendengar perkataannya aku mulai memikirkan cara untuk
menguras uang saku di kantongnya, terlepas dari pemikiran bahwa orang ini
memang baik atau mungkin bodoh. Entah ini suatu kebetulan, teman-temanku berada
tidak jauh dari tempat kejadian.
Pikiran segera membesit di otakku
untuk mengajak mereka makan gratis hari ini.
“Bombom, Akew, Reval, kesini! Gue mau traktir lo semua makan.” Aku memanggil mereka seperti seorang Ibu yang memanggil anak-anaknya untuk makan. Hari ini sepertinya kami makan gratis, lagi. Bombom yang gendut berketurunan Tionghoa dari Kakeknya, Akew yang dewasa, luwes dan hobi membaca, berdarah Jawa asli meski sudah lama tinggal di kota, Reval yang berasal dari Betawi asli penghuni eretan Batavia yang humoris dan tak bisa diam, sedangkan aku berdarah campuran Jawa-Pasundan berkorset langsing dan sering dipanggil ‘Bebek’. Mereka bertiga adalah teman dekatku semenjak di SMA. Kecuali Akew yang sudah menjadi temanku dari kecil. Sementara anak baru yang mentraktirku pamit pergi bersama muka masamnya saat kami hendak menyantap hidangan di meja kantin dan memberikan uang untuk pembayaran ganti rugi beserta makan gratisnya.
“Nih duitnya, sorry gak bisa lama-lama. Gue lagi ada perlu.” sambil menyorongkan rupiah senilai seratus ribu di atas meja.
“Apes gue hari ini, mimpi apa gue semalam.” Lamat-lamat rutuk suaranya menyusup lirih ke telingaku.
“Iya, apes lo ketemu gue!” cetusku mengantar kepergiannya sambil mendengus senang.
“Siapa bek? Kok dia ngasih lo duit, baik bener.” tanya Reval penuh curiga.
“Sudah deh, lo makan saja mumpung gratis. Tuh, sambelnya lo habisin Val!” titahku sambil menyodorkan wadah sambal ke hadapan Reval.
“Jangan-jangan anggun habis ‘ber-operasi’ lagi ya, buat cari gratisan.” sindir Bombom dengan nada polosnya yang sedang mengunyah bakso di mulutnya. Akew tertawa kecil.
“Kalian gimana, sih? Kayak gak tahu gue aja. Pak Sambudi, Kepsek kita yang tampan itu. Masih kena juga gue kadali, apalagi coro kayak gitu.” Mereka tergelak. Pak Sambudi adalah Kepala Sekolah yang saat ini menjabat. Beliau tak luput dari segudang tipu-dayaku. Mulai dari sekedar meminta traktiran makan sampai merayu-nya untuk menolong temanku yang hampir tidak naik kelas karena sakit dan jarang mengikuti pelajaran sekolah. Untungnya, Kep-sek penggila lagu ‘Guns n Roses’ ini sangat lembut dan ramah terhadap murid-murid di sekolah.
“Awalnya tadi gue lagi bawa mangkok bakso, tiba-tiba anak tadi nabrak gue dan alhasil mangkoknya jatuh pecah dan berantakan. Yaa.. gue minta ganti rugi dong! ditambah gue sedang pengen-pengennya makan bakso.” sambungku sambil menyeruput nikmat teh manis dalam gelas.
“Sadiiss.. Kira-kira halal gak nih, baksonya?” celetuk Akew, terkekeh. Aku tersenak menyengkelit. Hening sejenak. Lalu kupasang muka kesal, marah. Tiba-tiba mata mereka tertuju padaku, henyak.
“Sudah-lah Kew! kalau gak mau sini gue yang makan, mumpung lagi lapar nih.” Aku langsung merebut bakso yang sedang Akew makan. Selintas memang terpikirkan pertanyaan Akew. Bagaimana kalau orangnya tidak ikhlas ya? Ah, entahlah aku hanya sedang menikmati kenakalan-ku.
“Enggak kok gun, becanda gue, begitu aja sewot.. sini ah gue juga lagi lapar nih.” Akew menarik kembali mangkuk bakso yang sempat kurebut darinya, mencoba menghangatkan suasana dengan caranya.
“Huhh, tinggal makan saja kok ribet Kew.” Balasku berlogat. Mereka terkekeh pasi. Aku menampilkan wajah geram kembali, mereka hening sejenak. Bombom menelan ludah. Sementara Reval tetap sibuk menyantap makanannya. Ia tak mengacuhkan sampai menyadari keheningan teman-temannya yang lain. Lalu mendongakkan wajahnya melirik teman-temannya yang lain sambil melumat bakso di mulutnya. Semua pandangan terpaku, kikuk. Beberapa detik kemudian…
“Biasa saja Val, makannya! Jangan serius-serius banget.” Aku menepak pundak Reval yang duduk di sampingku, ia tersedak.
“Uhug.. Uhug.. Busegghhh dah luuh..!! kagak boleh liat orang enak makan.” Melihat ekspresinya, gelak tawa kami berangsur-angsur membahana di ruang kantin.
Setelah makan di kantin aku menyempurnakan agenda jam istirahatku untuk pergi ke gudang belakang bangunan sekolah. Bangunan bekas kebakaran yang pernah digunakan sebagai ruang praktek, yang kini sudah terbengkalai. Untungnya, letak gudang yang harus melewati Musholla sekolah ini sudah menjadi tempat tongkrongan dan menjadi salah satu tempat favorit berkumpulnya murid-murid nakal di sekolah. Jadi aku tak perlu serius mengindahkan rumor yang beredar tentang gudang ini. Adanya kebun rindang milik warga sekitar menjadikan angin semakin bersemilir dan sepoi-sepoi. Mungkin karena jarang dipantau oleh pihak sekolah, tempat ini bagaikan surga bagi anak-anak yang ingin merokok atau main kartu.
“Bombom, Akew, Reval, kesini! Gue mau traktir lo semua makan.” Aku memanggil mereka seperti seorang Ibu yang memanggil anak-anaknya untuk makan. Hari ini sepertinya kami makan gratis, lagi. Bombom yang gendut berketurunan Tionghoa dari Kakeknya, Akew yang dewasa, luwes dan hobi membaca, berdarah Jawa asli meski sudah lama tinggal di kota, Reval yang berasal dari Betawi asli penghuni eretan Batavia yang humoris dan tak bisa diam, sedangkan aku berdarah campuran Jawa-Pasundan berkorset langsing dan sering dipanggil ‘Bebek’. Mereka bertiga adalah teman dekatku semenjak di SMA. Kecuali Akew yang sudah menjadi temanku dari kecil. Sementara anak baru yang mentraktirku pamit pergi bersama muka masamnya saat kami hendak menyantap hidangan di meja kantin dan memberikan uang untuk pembayaran ganti rugi beserta makan gratisnya.
“Nih duitnya, sorry gak bisa lama-lama. Gue lagi ada perlu.” sambil menyorongkan rupiah senilai seratus ribu di atas meja.
“Apes gue hari ini, mimpi apa gue semalam.” Lamat-lamat rutuk suaranya menyusup lirih ke telingaku.
“Iya, apes lo ketemu gue!” cetusku mengantar kepergiannya sambil mendengus senang.
“Siapa bek? Kok dia ngasih lo duit, baik bener.” tanya Reval penuh curiga.
“Sudah deh, lo makan saja mumpung gratis. Tuh, sambelnya lo habisin Val!” titahku sambil menyodorkan wadah sambal ke hadapan Reval.
“Jangan-jangan anggun habis ‘ber-operasi’ lagi ya, buat cari gratisan.” sindir Bombom dengan nada polosnya yang sedang mengunyah bakso di mulutnya. Akew tertawa kecil.
“Kalian gimana, sih? Kayak gak tahu gue aja. Pak Sambudi, Kepsek kita yang tampan itu. Masih kena juga gue kadali, apalagi coro kayak gitu.” Mereka tergelak. Pak Sambudi adalah Kepala Sekolah yang saat ini menjabat. Beliau tak luput dari segudang tipu-dayaku. Mulai dari sekedar meminta traktiran makan sampai merayu-nya untuk menolong temanku yang hampir tidak naik kelas karena sakit dan jarang mengikuti pelajaran sekolah. Untungnya, Kep-sek penggila lagu ‘Guns n Roses’ ini sangat lembut dan ramah terhadap murid-murid di sekolah.
“Awalnya tadi gue lagi bawa mangkok bakso, tiba-tiba anak tadi nabrak gue dan alhasil mangkoknya jatuh pecah dan berantakan. Yaa.. gue minta ganti rugi dong! ditambah gue sedang pengen-pengennya makan bakso.” sambungku sambil menyeruput nikmat teh manis dalam gelas.
“Sadiiss.. Kira-kira halal gak nih, baksonya?” celetuk Akew, terkekeh. Aku tersenak menyengkelit. Hening sejenak. Lalu kupasang muka kesal, marah. Tiba-tiba mata mereka tertuju padaku, henyak.
“Sudah-lah Kew! kalau gak mau sini gue yang makan, mumpung lagi lapar nih.” Aku langsung merebut bakso yang sedang Akew makan. Selintas memang terpikirkan pertanyaan Akew. Bagaimana kalau orangnya tidak ikhlas ya? Ah, entahlah aku hanya sedang menikmati kenakalan-ku.
“Enggak kok gun, becanda gue, begitu aja sewot.. sini ah gue juga lagi lapar nih.” Akew menarik kembali mangkuk bakso yang sempat kurebut darinya, mencoba menghangatkan suasana dengan caranya.
“Huhh, tinggal makan saja kok ribet Kew.” Balasku berlogat. Mereka terkekeh pasi. Aku menampilkan wajah geram kembali, mereka hening sejenak. Bombom menelan ludah. Sementara Reval tetap sibuk menyantap makanannya. Ia tak mengacuhkan sampai menyadari keheningan teman-temannya yang lain. Lalu mendongakkan wajahnya melirik teman-temannya yang lain sambil melumat bakso di mulutnya. Semua pandangan terpaku, kikuk. Beberapa detik kemudian…
“Biasa saja Val, makannya! Jangan serius-serius banget.” Aku menepak pundak Reval yang duduk di sampingku, ia tersedak.
“Uhug.. Uhug.. Busegghhh dah luuh..!! kagak boleh liat orang enak makan.” Melihat ekspresinya, gelak tawa kami berangsur-angsur membahana di ruang kantin.
Setelah makan di kantin aku menyempurnakan agenda jam istirahatku untuk pergi ke gudang belakang bangunan sekolah. Bangunan bekas kebakaran yang pernah digunakan sebagai ruang praktek, yang kini sudah terbengkalai. Untungnya, letak gudang yang harus melewati Musholla sekolah ini sudah menjadi tempat tongkrongan dan menjadi salah satu tempat favorit berkumpulnya murid-murid nakal di sekolah. Jadi aku tak perlu serius mengindahkan rumor yang beredar tentang gudang ini. Adanya kebun rindang milik warga sekitar menjadikan angin semakin bersemilir dan sepoi-sepoi. Mungkin karena jarang dipantau oleh pihak sekolah, tempat ini bagaikan surga bagi anak-anak yang ingin merokok atau main kartu.
“Gue ke belakang gudang
dulu ya sob.”
sambil menyelit
gigi.
“Wah, kayaknya punya kuncian nih, langsung ke belakang tiba-tiba. Buang asep ya?” Sindir Reval, terkekeh.
“Ada sebatang doang, sudah ya gue cabut ke TKP.” Aku yang merasa mereka sudah mengetahui sebagian kenakalanku tak mengelak soal ini. Aku menderapkan langkah ke arah gudang dan mulai mencari-cari tempat yang agak ramai. Setelah menemukan lokasi yang terlihat agak ramai, aku mulai menyamankan posisi. Kutepikan tubuhku di sandaran tembok bangunan yang agak bersih sambil mengeluarkan sepucuk korek gas dari selipan kaos-kaki dan mulai menyalakan api membakar perlahan ujung rokok di mulutku dengan penuh penghayatan. Isapan rokok mulai melahirkan kepulan asap, dan sesekali memedihkan mataku. Kegiatan ini sudah aku lakukan sejak kelas tiga SMP hingga saat ini. Meskipun aku hanya menyesapnya saat pikiran penat saja, seperti sekarang.
“Ada sebatang doang, sudah ya gue cabut ke TKP.” Aku yang merasa mereka sudah mengetahui sebagian kenakalanku tak mengelak soal ini. Aku menderapkan langkah ke arah gudang dan mulai mencari-cari tempat yang agak ramai. Setelah menemukan lokasi yang terlihat agak ramai, aku mulai menyamankan posisi. Kutepikan tubuhku di sandaran tembok bangunan yang agak bersih sambil mengeluarkan sepucuk korek gas dari selipan kaos-kaki dan mulai menyalakan api membakar perlahan ujung rokok di mulutku dengan penuh penghayatan. Isapan rokok mulai melahirkan kepulan asap, dan sesekali memedihkan mataku. Kegiatan ini sudah aku lakukan sejak kelas tiga SMP hingga saat ini. Meskipun aku hanya menyesapnya saat pikiran penat saja, seperti sekarang.
ELAKAN
JIWA
Akew dan kawan-kawan
tengah memeras murid-murid kelas X dan XI dengan alasan ongkos pulang dan
sebagainya.
Ketika mereka tengah
dalam aksinya,
tiba-tiba ‘anak
baru’ yang menabrakku di kantin beberapa waktu lalu
datang mencegah ulah Reval dan
kawan-kawan.
“Hei, sob! apa-apaan nih?! palak-palak adek kelas seenaknya.” Gertak ‘anak baru’
memecah kerumunan,
yang
parasnya sebelas dua belas dengan Andrea Hirata.
Saat kejadian terlihat mulai memancing perhatian banyak mata,
Bimbim yang sedang latihan bola basket di lapangan untuk persiapan kompetisi bulan depan
dengan
kawan-kawan se-timnya di sekolah melihat
huru-hara di samping kelas.
Bimbim melepaskan bola basket yang tengah di pegangnya dan berlari menghampiri
siswa pindahan tersebut.
Di samping dia tim
basket sekolah dia juga mengikuti ekskul Taekwondo
dan menjadi salah satu trend topic
para wanita di sekolah.
Bimbim yang mungkin lebih
kurang postur dan parasnya seperti Bruno Alves ini, tiba-tiba
menyeruak di antara huru-hara, menyorongkan dadanya mendorong anak baru
dan meremas kuat kerah bajunya
sambil melemparkan seringai bengis
dan menyorotkan mata nanarnya.
“Eh, lo jangan ikut campur, Bung!” ketus Bimbim menohok telunjuknya ke arah wajah anak baru. Disusul dengan serangan kepalan bogem mentahnya yang tejal, membuat anak baru hilang keseimbangan
dan tersungkur. Bimbim mengedikkan kepala, mendengus bengis.
“Bangun kau, Bung!” tambahnya. Sejenak anak baru merasakan gelap pandangannya, berkunang-kunang. Lalu ia menyeka darah yang keluar dari lorong hidungnya dengan tiba-tiba. Ia kembali bangkit dan mendongakkan serangan ke arah Bimbim. Bimbim menangkap serangannya, mudah. Tendangan keras menghantam sekali lagi ke arah perut. Gumamnya melihat darah keluar menyembur ringan dari mulut. Setelah itu serangan tidak datang dari Bimbim, melainkan berangkai dari Akew dan teman-temannya. Tak elak, ‘anak baru’ meronta-ronta sementara lokasi lengang dari pantauan guru.
“Bangun kau, Bung!” tambahnya. Sejenak anak baru merasakan gelap pandangannya, berkunang-kunang. Lalu ia menyeka darah yang keluar dari lorong hidungnya dengan tiba-tiba. Ia kembali bangkit dan mendongakkan serangan ke arah Bimbim. Bimbim menangkap serangannya, mudah. Tendangan keras menghantam sekali lagi ke arah perut. Gumamnya melihat darah keluar menyembur ringan dari mulut. Setelah itu serangan tidak datang dari Bimbim, melainkan berangkai dari Akew dan teman-temannya. Tak elak, ‘anak baru’ meronta-ronta sementara lokasi lengang dari pantauan guru.
Baru
saja aku mendengar gaduh. Seorang siswi melaporkan keributan di lantai bawah
kelas XI C. Ah, sudah bukan rahasia kalau keributan yang terjadi pasti berasal
dari mereka, sahabat-sahabatku. Tanpa pikir panjang aku segera berlari dari kelasku yang berada di lantai
dua. Aku tersentak saat mengetahui ‘anak baru’ yang menjadi sasarannya. Sedikit
kupaksakan lariku agar segera mencapai mereka dan
melerai keadaan yang sangat berkecamuk itu.
“Ya Tuhan, ada apa ini..?!!” aku melihat darah ‘anak baru’ keluar dari hidungnya dan luka memar pukulan yang ikut menyertai hingga matanya terlihat lebam. Aku menengahi pertikaian. Melihatku melakukan itu Bimbim segera menjauhkan keberadaannya dari lokasi. Tak ingin guru melihat kejadian ini aku segera membawa dan memapah ‘anak baru’ ke ruang UKS yang kebetulan letaknya tidak begitu jauh dari lokasi keributan.
“Ya ampun, kenapa sih lo sok jagoan banget?!” rutukku sambil mengambil alat kompres di kotak lemari P3K.
“Auw sshh…” desisnya saat kompresan menyeka darah di pelipis matanya.
“Diam sebentar bisa gak sih?! biar gue kompres dulu, duh!” bentakku. Selesai aku mengobatinya dan mengompres biru lebam di tubuh dan wajahnya, aku hendak meninggalkannya. Tapi tiba-tiba dia memanggilku dan terjadi perbincangan pendek.
“Tunggu, terima kasih ya. Udah mau ngobatin luka gue. Sebelumnya lo jutek banget, kenapa kok sekarang tiba-tiba lo mao repot-repot ngurusin luka gue?” katanya menyelidik, sambil merintih-rintih lirih.
“Iye, gak apa-apa kok. Gue cuma ngerasa gak enak beberapa waktu lalu udah meras duit lo buat mentraktir temen-temen gue makan. Sekarang lo malah kena buli mereka, sampai-sampai gue jadi kasihan melihatnya.” Ceplos-ku yang tak tega mendengar rintihnya.
“Ya Tuhan, ada apa ini..?!!” aku melihat darah ‘anak baru’ keluar dari hidungnya dan luka memar pukulan yang ikut menyertai hingga matanya terlihat lebam. Aku menengahi pertikaian. Melihatku melakukan itu Bimbim segera menjauhkan keberadaannya dari lokasi. Tak ingin guru melihat kejadian ini aku segera membawa dan memapah ‘anak baru’ ke ruang UKS yang kebetulan letaknya tidak begitu jauh dari lokasi keributan.
“Ya ampun, kenapa sih lo sok jagoan banget?!” rutukku sambil mengambil alat kompres di kotak lemari P3K.
“Auw sshh…” desisnya saat kompresan menyeka darah di pelipis matanya.
“Diam sebentar bisa gak sih?! biar gue kompres dulu, duh!” bentakku. Selesai aku mengobatinya dan mengompres biru lebam di tubuh dan wajahnya, aku hendak meninggalkannya. Tapi tiba-tiba dia memanggilku dan terjadi perbincangan pendek.
“Tunggu, terima kasih ya. Udah mau ngobatin luka gue. Sebelumnya lo jutek banget, kenapa kok sekarang tiba-tiba lo mao repot-repot ngurusin luka gue?” katanya menyelidik, sambil merintih-rintih lirih.
“Iye, gak apa-apa kok. Gue cuma ngerasa gak enak beberapa waktu lalu udah meras duit lo buat mentraktir temen-temen gue makan. Sekarang lo malah kena buli mereka, sampai-sampai gue jadi kasihan melihatnya.” Ceplos-ku yang tak tega mendengar rintihnya.
“Gue kira lo gak bisa kasihan. Tapi
maaf banget lho, gue gak suka mendapatkan belas kasihan dari
orang lain.
Apalagi dari orang yang
belum gue kenal.” Jawabnya dengan nada menyombong yang kulihat seperti
agak dipaksakan.
“Aduh, gue gak jadi kasihan ke lo deh. Tapi ke
temen-temen gue.
Khawatir kalau nanti
lo lapor ke guru yang enggak-enggak.”
Elakku, tepok jidat.
“Oke, apalah itu. Pertama gue terima kasih ke lo udah mau repot-repot membersihkan luka gue.
Kedua gue bukan cowok yang suka mengadu-adu seperti banci,
lagipula gue belum tahu seluk-beluk pergaulan di sekolah ini. Gue hanya melakukan sesuatu dan bertindak ketika naluri
alami gue menganggap hal tersebut
tidak benar, itu aja!”
“Bagaimana-pun lo juga harus tahu perbuatan lo akan
merugikan diri lo sendiri atau tidak. Baca kondisi dulu kek! siapa yang lo hadapi. Terkadang kebenaran tak bisa
diperjuangkan dari kesalahan yang dominan, pelajari itu!”
“Menurut gue kebenaran
itu patut diperjuangkan.
Jika tidak, kebenaran
hanya akan menjadi seonggok idealis basi.”
“Ya, sudah. terserah lo
deh.. Yang penting sekarang lo istirahat di sini, tunggu sampai gue kemari lagi.
Dan ingat! jangan kemana-mana, okey?!.” Ancamku, mengalihkan
pembicaraan.
“Kayaknya gak bisa deh. Gue harus masuk kelas, ada pelajaran yang harus gue ikuti.”
“Gue bilang gak boleh ya gak boleh! Asal lo tahu ya, gue gak mao guru tahu dan bertanya lebih banyak gara-gara melihat luka lo. Apalagi kalau pihak Yayasan sekolah sampai tahu soal ini. Jadi lo gak boleh keluar dari ruangan ini sampai jam pelajaran habis. Soal murid-murid lain yang melihat kekacauan tadi gue gak khawatir, mereka gak akan berani lapor guru kalau tahu yang berbuat ulah itu Bimbim.” Terangku.
“Kayaknya gak bisa deh. Gue harus masuk kelas, ada pelajaran yang harus gue ikuti.”
“Gue bilang gak boleh ya gak boleh! Asal lo tahu ya, gue gak mao guru tahu dan bertanya lebih banyak gara-gara melihat luka lo. Apalagi kalau pihak Yayasan sekolah sampai tahu soal ini. Jadi lo gak boleh keluar dari ruangan ini sampai jam pelajaran habis. Soal murid-murid lain yang melihat kekacauan tadi gue gak khawatir, mereka gak akan berani lapor guru kalau tahu yang berbuat ulah itu Bimbim.” Terangku.
“Ah, Entahlah. Mungkin kalau bukan lo yang bicara di hadapan gue saat
ini, gue gak akan mau
menurutinya. Tapi karena menurut gue lo itu aneh, oke.. gue bisa turuti kemauan lo hari ini. Gue istirahat di sini.”
“Baguslah, kalau lo bisa diajak
kerjasama.”
“Oh, iya. sebelum lo keluar dari
ruangan ini, boleh gue tahu siapa nama lo?”
“Nama gue anggun. Panggil saja anggun!”
“Baiklah, anggun. Nama gue Andika, lo boleh panggil gue Dika.”
“Oh, yup. Gue tinggal dulu ya, Dika. Lo istirahat saja dulu di sini, nanti gue antar pulang ke rumah lo,
bye!” timpaku.
“Hei.. hei, tunggu! gue bisa pulang sendiri kok! Auw..!” elaknya.
“Udah deh, lo jangan pura-pura kuat. Gak usah banyak komentar, diam dan istirahatlah!” telunjukku mengacung ke arahnya menirukan gaya seorang guru yang sedang menegur sang murid. Lalu aku berpaling dan keluar ruangan tanpa menunggu jawaban “Iya” darinya.
Selesai jam sekolah para murid bersiap pulang ke rumah masing-masing dan sebagian melanjutkan aktifitasnya yang boleh dibilang aneh dan tak punya tujuan. Dari mulai pacaran, nongkrong di pusat keramaian, hingga tawuran antar pelajar menjadi lumrah bagi mereka. Siang ini cuaca sangat mendung, sebentar lagi mungkin akan turun hujan. Aku harus segera mengantarkan Dika pulang dari sekolah karena tidak memungkinkan baginya untuk mengendarai motor Ninja Kawasaki-nya sendirian. Ku-papah ia dari ruang UKS menuju area parkir sekolah, lokasi dimana motornya dan mobilku berada.
“Sudahlah, Dika. motor lo gak bakal kabur kan disini? cepat naik!” Ia masih berdiri menatap motornya menimbang-nimbang sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilku. Aku pun mengantarkannya hingga tujuan. Tepat pukul tiga sore aku izin pamit dari rumahnya.
“Cepat sembuh ya, Dika. Lukanya. Gue pulang!”
“Hati-hati di jalan yah, thanks bantuannya hari ini.”
“Ok.” Kedipan mataku menyudahi perkataannya. Aku segera beranjak pulang dan hujan turun sebelum aku sampai di rumah. Menjelang senja, akhirnya mentari kembali cerah bersama pelangi yang mengantar hujan pulang ke rumahnya. Dengan secangkir teh hangat kesukaanku dan serangkaian bunga di beranda rumah yang Ibu rawat, aku bersandar di bangku teras sambil kembali melintasi memori kehidupan lampau bersama rindu pada kehidupan esok yang menyiratkan sejuta misteri.
“Hei.. hei, tunggu! gue bisa pulang sendiri kok! Auw..!” elaknya.
“Udah deh, lo jangan pura-pura kuat. Gak usah banyak komentar, diam dan istirahatlah!” telunjukku mengacung ke arahnya menirukan gaya seorang guru yang sedang menegur sang murid. Lalu aku berpaling dan keluar ruangan tanpa menunggu jawaban “Iya” darinya.
Selesai jam sekolah para murid bersiap pulang ke rumah masing-masing dan sebagian melanjutkan aktifitasnya yang boleh dibilang aneh dan tak punya tujuan. Dari mulai pacaran, nongkrong di pusat keramaian, hingga tawuran antar pelajar menjadi lumrah bagi mereka. Siang ini cuaca sangat mendung, sebentar lagi mungkin akan turun hujan. Aku harus segera mengantarkan Dika pulang dari sekolah karena tidak memungkinkan baginya untuk mengendarai motor Ninja Kawasaki-nya sendirian. Ku-papah ia dari ruang UKS menuju area parkir sekolah, lokasi dimana motornya dan mobilku berada.
“Sudahlah, Dika. motor lo gak bakal kabur kan disini? cepat naik!” Ia masih berdiri menatap motornya menimbang-nimbang sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilku. Aku pun mengantarkannya hingga tujuan. Tepat pukul tiga sore aku izin pamit dari rumahnya.
“Cepat sembuh ya, Dika. Lukanya. Gue pulang!”
“Hati-hati di jalan yah, thanks bantuannya hari ini.”
“Ok.” Kedipan mataku menyudahi perkataannya. Aku segera beranjak pulang dan hujan turun sebelum aku sampai di rumah. Menjelang senja, akhirnya mentari kembali cerah bersama pelangi yang mengantar hujan pulang ke rumahnya. Dengan secangkir teh hangat kesukaanku dan serangkaian bunga di beranda rumah yang Ibu rawat, aku bersandar di bangku teras sambil kembali melintasi memori kehidupan lampau bersama rindu pada kehidupan esok yang menyiratkan sejuta misteri.
GESTUR
JIWA
Hidup ini penuh cerita,
seperti cerita hidupku. Berbagai
cerita aku lewati masa demi masa, waktu demi waktu kutelusuri, dimana letak
akhir kehidupan menjadi sebuah tujuan dalam hidup. Ketika kutemui satu
titik jeda memberikan berbagai arti bernuansa kegelapan dan berirama kesedihan ataupun sebaliknya,
CINTA salah satunya.
Karena satu kata ini
bisa merubah semua arti. Alur ceritanya penuh dengan kejutan yang dalam satu waktu
bahkan terjadi dua emosi atau lebih. Ke-semuanya terhimpun
dalam sekejap saja lalu berubah, dan terus begitu sampai aku menemukan emosi
yang senada dan seirama dengan hati dan pikiran hingga aku tak sanggup menilai mana baik
dan mana buruk. Akan tetapi, ini masih kesimpulan awal yang pada akhirnya akan
menuntunku untuk menemukan telaga dan muara akhir dari sebuah makna cinta yang
belum pernah aku alami. Berapa banyak makhluk hidup ketika mengalami jatuh
cinta bahkan burung sekalipun, ia bisa menjadi karakter yang katanya gila. Tak ada yang gila
menurutku,
itu hanyalah sebuah ungkapan emosi
yang berbeda dari biasanya dan itu wajar.
Hanya saja ketika aku
mengalaminya, aku
tak bisa menyeimbangkan gejolak emosi tersebut. Selanjutnya, bahwa jatuh
cinta itu adalah sesi penting dalam hidup ini untuk belajar, belajar mengerti
dan mengontrol diri
bahwa ada gejolak emosi yang sangat dahsyat dan bagaimana Tuhan menciptakan itu
untuk aku sikapi dengan bijak.
Hari ini seperti biasa
aku berangkat sekolah pagi, sampai di sekolah tak banyak suasana yang aneh dari
hari-hari kemarin, kurasa. Tapi ada sedikit yang berbeda, bukan suasana sekolahnya,
melainkan suasana hatiku. Entah
kenapa aku merasakan khawatir dengan keadaan Dika, aku ingin mencarinya dan menanyakan kabarnya.
Jam istirahat tiba, saatnya bergerak.
Aku mencari Dika
untuk menanyakan keadaannya, mulai bertanya tentang lukanya hingga mengobrol
tentang kenapa ia pindah. Aku mulai turun-naik
tangga mengelilingi sekolah,
kulakoni hanya untuk mencari kelasnya yang ternyata berada di lantai bawah,
berbeda satu tingkat dengan kelasku.
Aku pun memberanikan
diri untuk datang ke kelasnya.
Setelah berhasil
menemukannya lalu kami duduk di sebuah bangku panjang yang berada di samping
luar depan kelasnya.
“Dika, luka lo sudah sembuh ya?” Tanyaku sambil menonjok
pelan perutnya mencoba untuk lebih akrab.
“Auww… pelan-pelan dong
gun, sakit tahuu!” Dika mengerang.
“Uppss.. iya maaf gue lupa, hehehe.” Kutekap mulut, nyengir
kuda dan mengelus-elus perutnya kembali mengharapkan ampun darinya.
“Iya, gun. gak apa-apa, dan thanks banget sebelumnya lo sudah…” Aku langsung memotong
pembicaraannya sebelum ia melanjutkan.
“Dika, kenapa lo pindah
sekolah?” selakku.
“Hmm… Orang tua gue
nomaden, jadi gue harus ikut kemana mereka pergi tergantung tugas bisnisnya,
dan paling tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan proyek-proyeknya. Mau gak mau gue juga harus pindah sekolah.”
Ujarnya parau.
“Oh, jadi orang tua lo
tukang bangunan proyek gitu
yah?! Yang mikul-mikul batu gitu.”
Sahutku, berlagak polos.
“Itu namanya kuli bangunan. Gue juga kurang paham detailnya, tapi intinya orang tua gue bukan kuli yang lo maksud.”
“Ooh, iya juga sih. Kuli bangunan mana mungkin punya rumah bagus.” Jawabku, mengangguk-angguk.
“Tapi gue rasa, soal kerja keras mereka gak kalah dengan apa yang orang tua lo lakukan. Hanya saja mungkin keberuntungan kurang berpihak pada mereka.” Sambungku, sambil sesekali menyapa teman-teman yang lewat depan kelas.
“Mungkin, tapi di balik keberuntungan juga ada yang namanya insting, kepandaian seseorang melihat peluang. Setiap langkah adalah peluang, dan Ayah gue pandai memaksimalkan setiap langkahnya untuk mengambil peluang.” Terangnya.
“Hmm.. kayaknya lo bakal gantiin bisnis Ayah lo nanti ya? Kok lo paham banget sih soal peluang.” Tanyaku, coba-coba menerawang.
“Gak juga, setiap orang punya idealisme dalam hidupnya masing-masing. Tergantung ide pemikiran seseorang untuk hidup. Terkadang ada seseorang yang enggan menerjang ombak dan lebih memilih gunung sebagai tempat yang tenang, meskipun di gunung tak sepenuhnya tenang.” Aku menyimak khusyuk, mengangguk-angguk, meski tak paham apa yang dibicarakan.
“Kita berhak memilih seperti apa hidup kita, dan alam yang menentukan. Tak heran, ada seseorang yang lebih memilih hidup sederhana di pelosok desa asalkan tenang, daripada mengejar harta di kota, tapi waktu seperti banyak terbuang untuk menikmati keindahan bernafas.” Lanjutnya.
“Dalam juga lo Dika pemikirannya. Ya, mungkin itu ideologi lo. Setiap orang mempunyai ideologi-nya masing-masing dalam memilih.” Aku menggoyang-goyangkan kakiku sambil menatap tali sepatuku, merenungi semua kata-katanya sejenak.
“Tapi apa yang lo katakan, sedikit banyak gue juga sependapat jika melihat dengan apa yang terjadi di rumah gue. Ayah gue sekarang sering ke luar kota dan jarang punya waktu buat keluarga.” Sambungku.
“Itu yang gue maksud.” Timpa-nya dengan nada kejut, aku menoleh ke arahnya. Menatap bengap matanya yang mulai sedikit susut dan beberapa perban yang sebagian sudah dibuka. Hening sejenak, seorang guru lewat di hadapan kami.
“Siang Pak.” Aku menyapanya, melemparkan senyum miring berbasa-basi.
“Oh, siang nak.” Jawab guru tersebut acuh tak acuh, lalu menjauh. Aku menoleh kembali ke arah Dika, ia sedang merintih kecil merasakan sedikit nyeri lukanya yang membaik.
“Itu namanya kuli bangunan. Gue juga kurang paham detailnya, tapi intinya orang tua gue bukan kuli yang lo maksud.”
“Ooh, iya juga sih. Kuli bangunan mana mungkin punya rumah bagus.” Jawabku, mengangguk-angguk.
“Tapi gue rasa, soal kerja keras mereka gak kalah dengan apa yang orang tua lo lakukan. Hanya saja mungkin keberuntungan kurang berpihak pada mereka.” Sambungku, sambil sesekali menyapa teman-teman yang lewat depan kelas.
“Mungkin, tapi di balik keberuntungan juga ada yang namanya insting, kepandaian seseorang melihat peluang. Setiap langkah adalah peluang, dan Ayah gue pandai memaksimalkan setiap langkahnya untuk mengambil peluang.” Terangnya.
“Hmm.. kayaknya lo bakal gantiin bisnis Ayah lo nanti ya? Kok lo paham banget sih soal peluang.” Tanyaku, coba-coba menerawang.
“Gak juga, setiap orang punya idealisme dalam hidupnya masing-masing. Tergantung ide pemikiran seseorang untuk hidup. Terkadang ada seseorang yang enggan menerjang ombak dan lebih memilih gunung sebagai tempat yang tenang, meskipun di gunung tak sepenuhnya tenang.” Aku menyimak khusyuk, mengangguk-angguk, meski tak paham apa yang dibicarakan.
“Kita berhak memilih seperti apa hidup kita, dan alam yang menentukan. Tak heran, ada seseorang yang lebih memilih hidup sederhana di pelosok desa asalkan tenang, daripada mengejar harta di kota, tapi waktu seperti banyak terbuang untuk menikmati keindahan bernafas.” Lanjutnya.
“Dalam juga lo Dika pemikirannya. Ya, mungkin itu ideologi lo. Setiap orang mempunyai ideologi-nya masing-masing dalam memilih.” Aku menggoyang-goyangkan kakiku sambil menatap tali sepatuku, merenungi semua kata-katanya sejenak.
“Tapi apa yang lo katakan, sedikit banyak gue juga sependapat jika melihat dengan apa yang terjadi di rumah gue. Ayah gue sekarang sering ke luar kota dan jarang punya waktu buat keluarga.” Sambungku.
“Itu yang gue maksud.” Timpa-nya dengan nada kejut, aku menoleh ke arahnya. Menatap bengap matanya yang mulai sedikit susut dan beberapa perban yang sebagian sudah dibuka. Hening sejenak, seorang guru lewat di hadapan kami.
“Siang Pak.” Aku menyapanya, melemparkan senyum miring berbasa-basi.
“Oh, siang nak.” Jawab guru tersebut acuh tak acuh, lalu menjauh. Aku menoleh kembali ke arah Dika, ia sedang merintih kecil merasakan sedikit nyeri lukanya yang membaik.
“Maafin temen-temen gue
ya, Dika.” Kataku
mendayu, menyambung kembali percakapan.
“Iya gak apa-apa kok, tadi
pagi Akew datang
ke kelas dan dia minta
maaf soal kejadian waktu itu.
Lagipula mungkin gue-nya
saja yang bodoh, sok
jadi pahlawan tapi gak tahu siapa yang gue hadapi.
Akew juga sudah mengajak berkenalan tadi, dia mudah
akrab, dan dia juga
berani menjamin gue di sini bakal baik-baik saja ke depannya.” –syukurlah kalau begitu.
Dari perkelahian itu selanjutnya ia mulai akrab dengan teman-temanku. Setelah Reval dan yang lain menyusul untuk meminta maaf padanya, Bimbim juga melakukan hal itu. Meski aku tahu permintaan maafnya terlihat sedikit terpaksa. Tapi meskipun mereka melakukannya karena desakkanku sebelumnya, setidaknya mereka beruntung karena Dika tidak memperpanjang masalah waktu itu. Setelah hari itu, aku banyak melewati hari-hari di sekolah dengannya. Dari janjian makan di kantin bersama, hingga saling tukar pikiran tentang sebuah ideologi pribadi masing-masing. Jujur saja aku mulai terhanyut olehnya, padahal tak kulihat sesuatu yang istimewa darinya. Atau mungkin karena sikapnya yang terlihat cuek tapi selalu menarik perhatian dan dinamis? entahlah.
EMOSI
JIWA
Saat pelajaran sekolah,
aku jarang memperhatikan fokus topik pembahasannya, tapi lebih sering memikirkan tentang
sesuatu di luar pelajaran.
Saat ini aku sedang
memikirkan perasaanku,
dan tentang perasaan makhluk hidup yang bernama lelaki. Pikirku, entah kenapa lelaki itu sulit
memahami perasaan wanita yang tengah jatuh cinta.
Mereka lemah mengartikan
prilaku dan keinginan wanita, terutama mengartikan perasaannya. Ketidak pekaannya ini membuat banyak
wanita terpaksa bersikap dewasa, meskipun wanita sangat haus dimanja. Tapi, ketika mengingat
seorang lelaki yang bernama Dika, aku melihat pribadi yang hangat dan mengalir. Hingga hari-hari berganti, minggu bergulir bertukar hari, aku mulai
merasakan getaran kencang setiap kali melihatnya.
Bagaikan terhipnotis hebat, aku
merasakan jatuh cinta padanya.
Hingga aku mulai menyadari keberadaannya telah membuat banyak wanita di sekolah
meliriknya. Aku harus mengambil
langkah cepat, bagaikan penumpang yang tak ingin
kehilangan karcis.
Aku mencuri start lebih dahulu dari yang lain agar tak ketinggalan finish
untuk merebut hatinya. Dalam
prinsipku, ada peraturan bahwa apa yang aku inginkan
harus aku dapatkan. Mungkin karena watak yang sudah
keras, jangankan janur kuning melengkung, sebelum bendera kuning berkibar aku
takkan pernah menyerah untuk mendapatkan
cintaku ini.
Pendirian keras yang
membuatku tetap pada tujuan, meskipun
terkadang kerasnya watak bisa menjadi bumerang.
Aku
makin tak kuasa menahan rasa.
Haruskah kupendam hingga
semuanya hilang dan tenggelam?
Oh,
tidak.. aku harus mengatakan apa yang tersembunyi di hati, agar semua bisa
menjadi lepas dan pernyataan ini mendapatkan jawaban yang jelas. Aku pun mencoba menghampirinya untuk mengatakan sesuatu padanya tentang perasaanku
ini, tapi sekali lagi aku tak mampu mengungkapkan
perasaanku di hadapannya, entah kenapa.
Pikirku, jika perasaan ini tak lekas lepas
dari sangkarnya akan menyiksa bathinku lebih dalam. Hingga karena
aku tak mampu mengungkapkan perasaan ini pada seseorang yang menjadi tujuannya, aku pun melangkah secepat lesatan
kilat. Aku harus berpikir cepat untuk
berusaha meredam kacaunya hati
dan berniat meruapkannya pada seseorang, temanku. Yah, sudah aku putuskan untuk mencurahkannya pada temanku,
tapi siapa? Awalnya aku berpikir menjadikan Reval
sebagai ‘tempat sampah’ dan menumpahkan isi
hatiku kepadanya bahwa aku sedang jatuh cinta pada seseorang. Aku memulai pilihan darinya, lalu kuhampiri ia saat sedang khusyuk melakukan aktifitas rutinnya
menggoda para wanita di depan kelas
dengan gaya khasnya Elvis Preshly, celananya yang agak gombrang membuat
goyangan kakinya membahana.
“Hai
cewek, hai manis.” dengan mata genitnya menyapa setiap wanita yang melintas di
hadapan-nya. Sambil memilis-milis rambut jambulnya yang sedikit, aku langsung
berderap ringan dan bersembunyi di balik sudut pintu kelas.
“Hrmm!” dehamku.
“Serampang serimping siapa itu disamping?! Mao gue kemplang apa gue banting-banting?!”. Duh! galak sekali Reval, gumamku dalam hati.
“Wooyyy! Tampan?!” aku menepak pundak Reval sengaja mengejutkannya. Dia pun terkejut hebat. Terlatah-latah dan komat-kamit hingga mencak-mencak silat budaya yang berasal dari suku-nya, Betawi.
“Kucing item mati! Eh, kodok! Eh, black cat dead(blekeded-suarakodok-) blekedeett!” aku pun jadi ikut tersentak meronta karena kaget menyaksikan ekspresinya. Aku menggeliat reflek menghindar dua meter darinya.
“Woy-woy ini gue anggun, sadar kong sadaarr!” aku melambai-lambaikan tangan sambil berteriak menyadarkan Reval yang setengah kesurupan, Reval sadar sambil nyebut-nyebut. Ia mengusap dadanya, geleng-geleng kepala.
“Hettdaahh luuh, ngagetin aja da ah” jawabnya khas.
“Iya, iya. Maaf bang.” Jawabku sedikit tersengal, karena ikutan kaget.
“Untung gue buru-buru menghindar, kalau enggak mungkin udah jadi kerupuk kena sikutan maut lo, Val.” Aku menarik nafas berat, dan menghembuskan panjang. Aku pun jadi mengusap-usap dada karenanya.
“Bukan begitu nggun, gue kirain lo memedi(Hantu)-nya si Mega nongol!” jawab Reval.
“Ah, lo sembarangan aja kalo ngomong! Memedi itu artis yang di televisi Val. Berarti gue artis dong.” Aku terkekeh ringan, tak ingin mengacuhkan ucapannya barusan.
“Itu mah Maudy, lo ngehayal-nye kejauhan!” semprot Reval. Aku terkekeh panjang.
“Nyengir aja lo kayak kuda.” Sewot Reval, sambil mengusap-usap dada, usai kaget.
“Biarin, weks.. Lagian lo kenapa mencak-mencak begitu kayak topeng monyet gak jelas, gue mau curhat nih sama lo.” Ucapku. Reval sedikit memasang ekspresi cengengesannya.
“Curhat apa sih, tumben lo curhat ke gue?” jawabnya sambil menggaruk-garuk kepala selesai kagetnya reda. Lalu cengengesan kembali.
“Kita duduk dulu deh di sini.” Aku menunjuk sebuah bangku di luar kelas.
“Harruuuh… gangguin orang ibadah aje lo, ah. Tapi oke lah. Yang penting jangan sampe lupa ye traktirannye.” Gerutu Reval sebelum akhirnya mau duduk, setelah akhirnya cengengesan lagi.
“Iye, iye. Udeh tenang aje.” Jawabku meniru ucapan Reval.
“Val, lo tahu gak?” tanyaku dengan nada parau, mencoba heningkan suasana.
“Iya, gun. gue tahu lo lagi nanya gue tahu apa gak.” Jawabnya asal. Aku menjaga suasana tetap serius.
“Gue lagi fall’n love!” senyum rona wajahku berpancar tiba-tiba. Aku menoleh ke arah lapangan sekolah sambil menggoyang-goyangkan kaki, menunggu tanggapannya.
“Hrmm!” dehamku.
“Serampang serimping siapa itu disamping?! Mao gue kemplang apa gue banting-banting?!”. Duh! galak sekali Reval, gumamku dalam hati.
“Wooyyy! Tampan?!” aku menepak pundak Reval sengaja mengejutkannya. Dia pun terkejut hebat. Terlatah-latah dan komat-kamit hingga mencak-mencak silat budaya yang berasal dari suku-nya, Betawi.
“Kucing item mati! Eh, kodok! Eh, black cat dead(blekeded-suarakodok-) blekedeett!” aku pun jadi ikut tersentak meronta karena kaget menyaksikan ekspresinya. Aku menggeliat reflek menghindar dua meter darinya.
“Woy-woy ini gue anggun, sadar kong sadaarr!” aku melambai-lambaikan tangan sambil berteriak menyadarkan Reval yang setengah kesurupan, Reval sadar sambil nyebut-nyebut. Ia mengusap dadanya, geleng-geleng kepala.
“Hettdaahh luuh, ngagetin aja da ah” jawabnya khas.
“Iya, iya. Maaf bang.” Jawabku sedikit tersengal, karena ikutan kaget.
“Untung gue buru-buru menghindar, kalau enggak mungkin udah jadi kerupuk kena sikutan maut lo, Val.” Aku menarik nafas berat, dan menghembuskan panjang. Aku pun jadi mengusap-usap dada karenanya.
“Bukan begitu nggun, gue kirain lo memedi(Hantu)-nya si Mega nongol!” jawab Reval.
“Ah, lo sembarangan aja kalo ngomong! Memedi itu artis yang di televisi Val. Berarti gue artis dong.” Aku terkekeh ringan, tak ingin mengacuhkan ucapannya barusan.
“Itu mah Maudy, lo ngehayal-nye kejauhan!” semprot Reval. Aku terkekeh panjang.
“Nyengir aja lo kayak kuda.” Sewot Reval, sambil mengusap-usap dada, usai kaget.
“Biarin, weks.. Lagian lo kenapa mencak-mencak begitu kayak topeng monyet gak jelas, gue mau curhat nih sama lo.” Ucapku. Reval sedikit memasang ekspresi cengengesannya.
“Curhat apa sih, tumben lo curhat ke gue?” jawabnya sambil menggaruk-garuk kepala selesai kagetnya reda. Lalu cengengesan kembali.
“Kita duduk dulu deh di sini.” Aku menunjuk sebuah bangku di luar kelas.
“Harruuuh… gangguin orang ibadah aje lo, ah. Tapi oke lah. Yang penting jangan sampe lupa ye traktirannye.” Gerutu Reval sebelum akhirnya mau duduk, setelah akhirnya cengengesan lagi.
“Iye, iye. Udeh tenang aje.” Jawabku meniru ucapan Reval.
“Val, lo tahu gak?” tanyaku dengan nada parau, mencoba heningkan suasana.
“Iya, gun. gue tahu lo lagi nanya gue tahu apa gak.” Jawabnya asal. Aku menjaga suasana tetap serius.
“Gue lagi fall’n love!” senyum rona wajahku berpancar tiba-tiba. Aku menoleh ke arah lapangan sekolah sambil menggoyang-goyangkan kaki, menunggu tanggapannya.
“Hmm… gue tahu gun pasti lo lagi
jatuh cinta kan? Ayoo ngaku?!
Hehehe.” Reval menggaruk-garuk kepalanya sambil cengengesan.
Wajahku perlahan mulai berubah merah padam, menahan diri agar tak naik pitam.
“Ya Tuhan, Revaal… gak bisa serius sedikit
kenapa sih?! Ggrrhhh..” semprotku, kesal.
“Setiap yang gue bilang, selalu lo ulang-ulang. Sudah tahu gue lagi jatuh cinta.” Tambahku, tepok jidat.
“Habisnye gue kagak paham tuh apa artinye jatuh cinta, setahu gue jatuh cinta ntu kagak enak bek, bangun cinta baru nikmat. Hehehe.” Reval terkekeh pelan.
“Kayak lirik lagu ya, Val? jatuh bangun aku mengejarmu, namun dirimu tak mau mengerti. Ku bawakan...” Reval menimpali sebelum aku selesai berdendang.
“Seember paasiir… Fals bek suara lo.” Potong Reval, bercekakan ia terpingkal-pingkal.
“Ah, rese banget sih lo, Val! Ggrrh..” Aku mulai geram. Sebelum akhirnya Reval terdiam, sejenak.
“Yaudah, coba lo jelasin apa ntu jatuh cinta?” cecar Reval, bertanya.
“Ah, Reval. Bagaimana sih, masa jatuh cinta saja gak ngerti. Jatuh cinta itu adalah…” aku berusaha menjelaskan, tapi terhenti. Reval menganga menunggu jawabanku yang sedang berpikir keras untuk menjelaskannnya. Hening menyergap kami sejenak.
“Gue juga gak tahu, Val. apa ya?!” aku malah terkekeh, menggaruk-garuk kepala karena tak bisa menjelaskannya.
“Ah, lo gimane sih bek? artinya aje lo gak paham.” Balas reval, meremehkan.
“Lagian lo sih, Val. Bukannya kasih masukan, malah buat gue jadi bete. Ikh.” Aku menahan malu, Reval masih meledek-ku dengan mimik wajahnya.
“Nih, biar gue aje deh yang jelasin. Fall itu kan jatoh, jatoh itu sakit. Love itu kan cinta, cinta itu adanye di hati. Berarti lo lagi sakit hati, bek. Karena hati lo jatoh ke perut.” Reval terbahak-bahak, meledek-ku senang.
“Grrhh.. gak tahu lah! selera humor lo terlalu tinggi sih, Val. jadi susah konek!” timpa-ku, mendengus kesal. Sementara Reval masih bercekakan terpingkal-pingkal.
“Kayaknya benar deh, gue salah pilih orang. Gak jadi deh Val curhatnya, dan traktirannya batal!” Reval tercenung menganga, menelan ludah, bingung dan menggaruk-garuk kembali rambutnya yang mungkin gatal, mungkin juga tidak. Meskipun sifat humornya sering menjadi obat untuk memecah keadaan tegang menjadi hangat, tapi sayangnya ia kurang pandai menempatkan humornya tersebut. Hingga terkadang membuat beberapa teman malas bercakap dengannya karena ujung-ujung pembicaraan-nya selalu memberi efek ngawur.
“Setiap yang gue bilang, selalu lo ulang-ulang. Sudah tahu gue lagi jatuh cinta.” Tambahku, tepok jidat.
“Habisnye gue kagak paham tuh apa artinye jatuh cinta, setahu gue jatuh cinta ntu kagak enak bek, bangun cinta baru nikmat. Hehehe.” Reval terkekeh pelan.
“Kayak lirik lagu ya, Val? jatuh bangun aku mengejarmu, namun dirimu tak mau mengerti. Ku bawakan...” Reval menimpali sebelum aku selesai berdendang.
“Seember paasiir… Fals bek suara lo.” Potong Reval, bercekakan ia terpingkal-pingkal.
“Ah, rese banget sih lo, Val! Ggrrh..” Aku mulai geram. Sebelum akhirnya Reval terdiam, sejenak.
“Yaudah, coba lo jelasin apa ntu jatuh cinta?” cecar Reval, bertanya.
“Ah, Reval. Bagaimana sih, masa jatuh cinta saja gak ngerti. Jatuh cinta itu adalah…” aku berusaha menjelaskan, tapi terhenti. Reval menganga menunggu jawabanku yang sedang berpikir keras untuk menjelaskannnya. Hening menyergap kami sejenak.
“Gue juga gak tahu, Val. apa ya?!” aku malah terkekeh, menggaruk-garuk kepala karena tak bisa menjelaskannya.
“Ah, lo gimane sih bek? artinya aje lo gak paham.” Balas reval, meremehkan.
“Lagian lo sih, Val. Bukannya kasih masukan, malah buat gue jadi bete. Ikh.” Aku menahan malu, Reval masih meledek-ku dengan mimik wajahnya.
“Nih, biar gue aje deh yang jelasin. Fall itu kan jatoh, jatoh itu sakit. Love itu kan cinta, cinta itu adanye di hati. Berarti lo lagi sakit hati, bek. Karena hati lo jatoh ke perut.” Reval terbahak-bahak, meledek-ku senang.
“Grrhh.. gak tahu lah! selera humor lo terlalu tinggi sih, Val. jadi susah konek!” timpa-ku, mendengus kesal. Sementara Reval masih bercekakan terpingkal-pingkal.
“Kayaknya benar deh, gue salah pilih orang. Gak jadi deh Val curhatnya, dan traktirannya batal!” Reval tercenung menganga, menelan ludah, bingung dan menggaruk-garuk kembali rambutnya yang mungkin gatal, mungkin juga tidak. Meskipun sifat humornya sering menjadi obat untuk memecah keadaan tegang menjadi hangat, tapi sayangnya ia kurang pandai menempatkan humornya tersebut. Hingga terkadang membuat beberapa teman malas bercakap dengannya karena ujung-ujung pembicaraan-nya selalu memberi efek ngawur.
Aku mencari ‘tempat sampah’-ku. Akhirnya aku memutuskan memilih Akew, pilihan kedua dan terakhir.
Sebab hanya akan
menambah beban pikiranku jika memilih
Bombom si cengeng itu, yang apabila ditanya oleh guru Matematika selalu
sengguk tangisnya yang menjawab. Yang ada nanti malah dia yang curhat, bukan
aku. Karena disamping Akew lebih dewasa dalam bersikap dan brilian dalam
memberikan masukan, dia juga yang
paling dekat denganku dan tahu persis bagaimana karakter seorang anggun.
####KALAU BISA ADA CERITA DISINI####
Dalam hal ini dan untuk saat ini, aku memang benar-benar tidak berniat mencari teman wanita di sekolah sebagai “Teman Curhat” atau bahkan sahabat dekat, disamping aku memang sukar menyambung dendang dengan pembahasan pergaulan mereka yang tidak jauh dari unjing-unjingan, aku pun merasa wanita lemah dalam bergaul. Mereka mudah marah dan sensitif, apatah itu konfliknya biasanya berlanjut dengan permusuhan perang ‘dingin’. Otakku ber-visual bak kemelut perang Shiffin nun kecamuk, dengan hunusan pedang yang siap menusuk dan menebas lawan. Kendati demikian, aku masih tetap bisa responsif dalam bergaul dengan siapapun, meskipun ‘sedikit’ jika itu adalah wanita, sedikit. Hasilnya jauh berbeda ketika aku bergaul dengan teman lelaki dan pria, mereka akan lebih asyik diajak bersenandung dalam canda gelak tawa dan tidak mudah marah, fleksibel dan berkembang dalam hal pergaulan. Apatah itu, untuk saat ini aku mencari teman curhat, bukan musuh ataupun lawan curhat yang hanya akan bertukar ‘tempat sampah’.
####KALAU BISA ADA CERITA DISINI####
Dalam hal ini dan untuk saat ini, aku memang benar-benar tidak berniat mencari teman wanita di sekolah sebagai “Teman Curhat” atau bahkan sahabat dekat, disamping aku memang sukar menyambung dendang dengan pembahasan pergaulan mereka yang tidak jauh dari unjing-unjingan, aku pun merasa wanita lemah dalam bergaul. Mereka mudah marah dan sensitif, apatah itu konfliknya biasanya berlanjut dengan permusuhan perang ‘dingin’. Otakku ber-visual bak kemelut perang Shiffin nun kecamuk, dengan hunusan pedang yang siap menusuk dan menebas lawan. Kendati demikian, aku masih tetap bisa responsif dalam bergaul dengan siapapun, meskipun ‘sedikit’ jika itu adalah wanita, sedikit. Hasilnya jauh berbeda ketika aku bergaul dengan teman lelaki dan pria, mereka akan lebih asyik diajak bersenandung dalam canda gelak tawa dan tidak mudah marah, fleksibel dan berkembang dalam hal pergaulan. Apatah itu, untuk saat ini aku mencari teman curhat, bukan musuh ataupun lawan curhat yang hanya akan bertukar ‘tempat sampah’.
Aku
lekas mencari Akew dari lubang buaya hingga lubang semut,
hingga akhirnya aku mendapati
Akew sedang memandang mantap setiap lembar buku yang tengah dibacanya dalam ruang perpustakaan sekolah, entah buku apa aku kurang mengindahkannya.
Aku langsung menculiknya dari perpustakaan
meskipun dengan bersusah payah, mengingat kedekatannya dengan buku bacaan lebih
intim daripada dengan sahabatnya sekalipun. Bagusnya aku berhasil
mengajaknya makan di kantin, setelah makan di kantin aku menceritakan pada Akew
semua tentang perasaanku terhadap
Dika. Setidaknya aku merasa
sedikit lega dengan tumpah-tuangnya ‘Emosi’ jiwa, akhirnya.
Meskipun secepat angin aku mengejar cintanya, terjatuh jua. Mungkin seperti itu kata-kata yang sesuai untukku saat ini. Kabar angin beredar bahwa dia telah mempunyai seorang kekasih, sedang aku lemah dalam menanggapi rumor meski itu hanya sekedar cerita burung angin lalu. Apalagi dalam urusan cinta, aku mana berani menanyakan langsung hal tersebut padanya? Didekatnya saja sudah membuatku berpeluh karena gugupnya. Ditambah sikapnya yang masih tetap dingin-dingin basah, membuatku sedikit ragu melanjutkan pengejaran cintaku, entahlah. Kukira mengejar cinta semudah bertikai, bagiku. Ternyata sulit juga ya? Hingga pada suatu malam di episode-episode berikutnya dalam harianku, aku membuka sepucuk surat cinta tergulung ikatan pita merah dan setangkai bunga mawar merah yang sampai kepadaku. Surat cinta yang pertama kalinya dalam hidupku. Mungkin karena aku tidak begitu memikat lawan jenis selama ini, sampai-sampai surat cinta pun menjadi hal yang asing bagiku. Untuk saat ini, aku benar-benar polos dalam urusan cinta-cintaan.
Meskipun secepat angin aku mengejar cintanya, terjatuh jua. Mungkin seperti itu kata-kata yang sesuai untukku saat ini. Kabar angin beredar bahwa dia telah mempunyai seorang kekasih, sedang aku lemah dalam menanggapi rumor meski itu hanya sekedar cerita burung angin lalu. Apalagi dalam urusan cinta, aku mana berani menanyakan langsung hal tersebut padanya? Didekatnya saja sudah membuatku berpeluh karena gugupnya. Ditambah sikapnya yang masih tetap dingin-dingin basah, membuatku sedikit ragu melanjutkan pengejaran cintaku, entahlah. Kukira mengejar cinta semudah bertikai, bagiku. Ternyata sulit juga ya? Hingga pada suatu malam di episode-episode berikutnya dalam harianku, aku membuka sepucuk surat cinta tergulung ikatan pita merah dan setangkai bunga mawar merah yang sampai kepadaku. Surat cinta yang pertama kalinya dalam hidupku. Mungkin karena aku tidak begitu memikat lawan jenis selama ini, sampai-sampai surat cinta pun menjadi hal yang asing bagiku. Untuk saat ini, aku benar-benar polos dalam urusan cinta-cintaan.
Dear:
Anggun
Dirimu bagaikan alunan lagu yang merdu, kemerduannya
yang mengantar tidurku. Kala kesunyian kabungi perasaan, dan hidup terlihat
kelabu, tanpamu. Meski aku tahu, kelabu tak selamanya buruk. Dan
terkadang kebahagiaan akan sampai ketika kita telah melewatinya, kelabu. Kelabu
adalah warna dari hatiku saat ini, dan hanya akan kembali cerah saat engkau
mewarnainya. Aku tenggelam, lalu
terdiam di antara mimpi dan kenyataan. Antara perasaan dan angan-angan, saat
menanti jawaban yang aku harapkan, bahwa aku…
Aku mencintaimu. Andika.
Ungkapan
singkat menggetarkan hatiku, mungkin
karena ini hal yang pertama kalinya dalam hidupku, sampai-sampai
aku bingung harus mengatakan apa.
Seorang anggun yang tidak takut lelaki meski harus bertikai adu fisik terguncang
oleh cinta. Tapi saat ini aku memang lemah. Hatiku bagaikan melayang-layang
di awan lepas kendali.
Sembari menatap cermin
dengan mata berkaca-kaca, beningnya
pipiku hingga terlihat merah merona, gembira. Memastikan bahwa aku
tidak sedang bermimpi,
aku mengerjapkan mata dan menampar pipiku ringan
untuk
meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi. Dan ternyata ini bukanlah mimpi. Betapa bahagianya aku, mendapat surat cinta yang pertama kalinya dalam
hidupku.
Malam ini aku tak bisa tidur nyenyak memikirkan tulisan
singkat dari sepucuk surat
yang lekat di pikiran.
Kata-katanya melukiskan
kebahagiaan sang sanubari yang membuncah.
Tapi sebelum aku melayang-layang lebih jauh di udara khayal, aku menyadarkan alam
bawah sadarku.
Sekali lalu mulai memikirkan apa yang harus aku lakukan esok
saat sekolah kembali menyapa hari dengan berbagai pelajarannya. Aku tak memikirkan pelajarannya, tapi aku
memikirkan apa yang harus aku lakukan saat bertemu lelaki yang kuidamkan nanti. Meskipun dalam hati ada sedikit keraguan
dan rasa curiga,
penasaran.
Bagaimana mungkin dengan
tiba-tiba sang pujaan hati yang kudambakan
hendak mewujudkan mimpiku begitu mudahnya.
Mentari pagi seperti
baru terlahir dari kandungannya, menyapa dari
balik
jendela kamar dan
melesap masuk hingga sempat memicingkan
mataku oleh sayup
silau-nya. Embun sepertinya telah
lama berlalu bersama tiupan lembutnya sang angin, meski bulirnya sedikit
menyisakan ruapan di kaca. Setelah kuhabiskan sarapan dan
membereskan kamar, aku lekas beranjak ke sekolah lebih pagi dari biasanya karena mobilku masih di bengkel sejak dua hari lalu.
Sementara dalam dada masih merasakan rona-nya isi
surat yang kuterima semalam, sampai-sampai
aku lupa mengerjakan PR yang ditugaskan oleh sang Guru. Aku sedang tak sempat memikirkan hal lain
selain rasa yang tengah bergejolak,
karena saat ini dalam benakku hanya ada layar
lebar tentang bayang wajahnya. Tibalah di sekolah, pemandangan sudah lumrah
terlihat ketika banyak murid saling mencontek
dan mengerjakan PR-nya di sekolah.
Ah, aku berpikir kenapa tidak
menyelam sambil minum air.
Akhirnya kusempatkan
waktu untuk membuat PR-ku
di sekolah seraya
berpikir kembali dan mensimulasi dalam otakku apa yang harus kukatakan dan
lakukan nanti saat bertemu muka
dengan lelaki impian.
Membuat rangkaian stimulan
agar berani ‘melangkah’. Selesai PR sudah, bunyi
bel sekolah mengiang menandakan jam pelajaran sekolah dimulai. Aba-aba seorang
murid untuk menghentikan gurau canda di kelas bahwa sang Guru yang keluar dari kantornya tengah
menuju ke ruang kelas.
Setelah tiba, Guru
memberi komando untuk mengumpulkan hasil tugas yang diberikan. Tertawa aku dalam hati gembira, seringai indah
tertuang dalam hati. Aku selamat dari hukuman meski nilainya C. Setidaknya aku
sudah mengerjakan PR-ku, meski di sekolah.
Jam istirahat, akhirnya kuputuskan dan memberanikan diri mengajak dia dan meminta sedianya untuk bertemu usai
semua pelajaran sekolah.
“Aku tunggu kamu pulang sekolah, di lapangan belakang dekat warung Pak Harto!” singkatku.
“Oh, iya. aku pasti datang kok.” Jawabnya, melempar senyum.
“Oke, sampai ketemu!” pungkasku. Lalu berusaha mengedipkan mata genit kikuk, gugup. Sekali lagi untuk saat ini aku memang tidak bisa mengeluarkan kata-kata lepas seperti obrolan kemarin dan lalu-lalu. Jadi aku hanya berbicara seperlunya dan langsung meluncur cepat untuk kembali lagi ke kelas. Mungkin karena menyangkut hati yang dibubuhi gejolak emosi jiwa dan distorsi-nya yang berbeda.
“Aku tunggu kamu pulang sekolah, di lapangan belakang dekat warung Pak Harto!” singkatku.
“Oh, iya. aku pasti datang kok.” Jawabnya, melempar senyum.
“Oke, sampai ketemu!” pungkasku. Lalu berusaha mengedipkan mata genit kikuk, gugup. Sekali lagi untuk saat ini aku memang tidak bisa mengeluarkan kata-kata lepas seperti obrolan kemarin dan lalu-lalu. Jadi aku hanya berbicara seperlunya dan langsung meluncur cepat untuk kembali lagi ke kelas. Mungkin karena menyangkut hati yang dibubuhi gejolak emosi jiwa dan distorsi-nya yang berbeda.
Aku pulang lebih lama
dari biasanya demi
menunggu sebagian besar murid-murid lain pulang.
Setelah kukira sekolah
agak sepi dari keramaian para murid, bergegas kaki mengayun melangkah seperti
langkah bebek melintasi pintu
gerbang sekolah yang masih dijaga oleh Pak Dormen,
penjaga gerbang sekaligus
keamanan di sekolah.
“Siang, Pak Dormen.” Sapa-ku berbasa-basi sambil nyengir kuda melintasi kumis tebalnya dengan adegan slow motion. Seperti biasa ia hanya melemparkan senyum miringnya sambil melotot, sementara aku hanya mengernyitkan dahi melihat kumis tebalnya berjoget dengan mimik tercenung. Enggan berlama-lama melihat kesangarannya, aku cepat-cepat meluncur ke tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya. Bagai topan menyiak bangunan di hadapannya, hingga debu bertebaran dimana-mana seperti kapas yang melayang-layang. Hentakan kaki seribu kupacu. Kukira dia telah menunggu di sana, tapi setibanya aku di dekat warung Pak Harto, tak kucium aroma parfumnya apalagi batang hidungnya. Beberapa saat aku menanti, panasnya sengatan sinar matahari membuatku semakin geram penuh harap. Sibuk menoleh kiri dan kanan aku sudah merasa di ujung bosan menunggu. Lalu dari kejauhan tampak sosoknya melambaikan tangan menandakan hendak menuju kemari, akhirnya-dalam hati-.
“Siang, Pak Dormen.” Sapa-ku berbasa-basi sambil nyengir kuda melintasi kumis tebalnya dengan adegan slow motion. Seperti biasa ia hanya melemparkan senyum miringnya sambil melotot, sementara aku hanya mengernyitkan dahi melihat kumis tebalnya berjoget dengan mimik tercenung. Enggan berlama-lama melihat kesangarannya, aku cepat-cepat meluncur ke tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya. Bagai topan menyiak bangunan di hadapannya, hingga debu bertebaran dimana-mana seperti kapas yang melayang-layang. Hentakan kaki seribu kupacu. Kukira dia telah menunggu di sana, tapi setibanya aku di dekat warung Pak Harto, tak kucium aroma parfumnya apalagi batang hidungnya. Beberapa saat aku menanti, panasnya sengatan sinar matahari membuatku semakin geram penuh harap. Sibuk menoleh kiri dan kanan aku sudah merasa di ujung bosan menunggu. Lalu dari kejauhan tampak sosoknya melambaikan tangan menandakan hendak menuju kemari, akhirnya-dalam hati-.
Aku tertegun sejenak melihat
senyum berlesung-pipitnya, seraya
kulemparkan senyum pasi yang penuh arti, yah.. Arti sebenarnya bahwa betapa bahagianya
hati ini setelah ia datang sambil berlari
melambai-lambai. Kali
ini jantungku berdegup kencang entah kenapa,
seperti sedang berkendara motor tak memakai helm lalu melihat razia Polisi
gabungan di depan. Kini dia menghampiriku. Oh, tidak. Rasanya seperti Pak Polisi menyempritkan
pluitnya menghentikan laju motor. Degupan jantung semakin meronta.
“Huuhft… maaf, ya. Aku telat datengnya. Maaf yaah.. Tuan Putri..” Ia berusaha berkata dengan lembut meskipun sedikit terengah. Ia merayuku, berharap aku baik-baik saja setelah lumatan matahari melalap kulit layaknya seseorang mengharap hujan datang di tengah terik padang pasir dan panasnya gurun sahara. Hatiku sangat gugup menghadapi ini, entah kenapa jantungku semakin berdegup tak menentu. Oh, Tuhan. beri aku kekuatan untuk hari ini, pinta-ku dalam hati. Mungkin aku bagai peselancar professional yang berselancar di atas ombak tanpa hambatan dalam berkata-kata, jika itu lain hal dari yang kuhadapi saat ini. Dan berhadapan dengannya, sadarku seperti tak mampu memikulnya untuk hendak menguasai keadaan. Jeda beberapa detik setelah ia di hadapanku, bawah sadarku memerintahkan sesuatu kepada otakku, agar terus memberi seruan pada sang lisan untuk menggerakkan bibirku. Setelah sebelumnya aku terus bergumam dalam sejuta bisunya.
“Huuhft… maaf, ya. Aku telat datengnya. Maaf yaah.. Tuan Putri..” Ia berusaha berkata dengan lembut meskipun sedikit terengah. Ia merayuku, berharap aku baik-baik saja setelah lumatan matahari melalap kulit layaknya seseorang mengharap hujan datang di tengah terik padang pasir dan panasnya gurun sahara. Hatiku sangat gugup menghadapi ini, entah kenapa jantungku semakin berdegup tak menentu. Oh, Tuhan. beri aku kekuatan untuk hari ini, pinta-ku dalam hati. Mungkin aku bagai peselancar professional yang berselancar di atas ombak tanpa hambatan dalam berkata-kata, jika itu lain hal dari yang kuhadapi saat ini. Dan berhadapan dengannya, sadarku seperti tak mampu memikulnya untuk hendak menguasai keadaan. Jeda beberapa detik setelah ia di hadapanku, bawah sadarku memerintahkan sesuatu kepada otakku, agar terus memberi seruan pada sang lisan untuk menggerakkan bibirku. Setelah sebelumnya aku terus bergumam dalam sejuta bisunya.
“Ka.. kamu, benar-benar mencintai aku??” tanyaku dengan
nada parau dan terbata-bata. Tubuhku
kini seperti tak bisa bergerak karena gugupnya. Ia
diam sejenak menghela nafas,
mengembalikan udara yang terbuang akibat berlari menuju ke tempat aku berdiri. Sepertinya Dika pun terlihat gugup. Ia
menunduk rukuk. Meletakkan kedua telapak tangan pada sepasang
lutut lalu mencengkamnya untuk mendapatkan pondasi.
Perlahan ia menengadahkan kepalanya menyerongkan pandangan ke arah lain. Sedang peluh di
sisi keningnya terjun bebas melesap ke rumpunan tanah di bawah setelah
sebelumnya meliuk indah melintasi lesung pipit-nya. Dika berdiri perlahan
sambil memantapkan pijakan kakinya, sekali terdongak melihat tiang listrik di
depannya. Lalu Dika menggaruk-garukkan rambutnya, ia sungguh-sungguh
berusaha menguasai suasana hatinya yang gugup.
“Hmm… iya. Aku mencintai kamu. Sejak
saat pertama kita bertemu
mata di kantin.” Jawabnya lembut. Ia mulai menyerang menatap mataku. Aku yang merasa tak mampu membalas tatapannya seperti
ingin kubenamkan saja wajah ini melesak ke dalam tanah.
“Terus, kenapa kamu
tidak mengungkapkannya ke aku dari kemarin-kemarin?” nada bicaraku yang tiba-tiba saja berubah lembut
membuatku tak menyangka bahwa ini terjadi, nyata.
“Aku gak tahu kamu
merasakan apa yang kurasakan atau tidak, tapi ketika Akew sempat mengatakan
kalau kamu menyukai
diriku, aku tak ingin
menyia-nyiakan kesempatan itu.
Kalau aku pun memang benar-benar
mencintaimu.”
Terang Dika menciptakan Cengangku, ternyata
Akew penyebabnya.
Tanpa sepengetahuanku, ia mengadukan
perasaanku padanya.
“Awas lo ya, Kew! Gue jitak lo, nanti!”
ancamku dalam hati yang bahagia.
“Tapi dari gunjingan banyak orang di sekolah
yang beredar,
bukankah kamu sudah mempunyai kekasih?” tanyaku menyelidik dengan
sedikit tersengal.
“Itu kan hanya gossip. Aku sengaja menutupi ke cewek-cewek lain agar tidak
mengejarku.”
“Kenapa begitu, why?” Aku mengedikkan bahu dan
membentangkan tangan meragukan
kebenaran ucapannya. Tiba-tiba ia menghampiriku, mendekat lima sentimeter dari jempol
kakiku.
“Karena aku takut rasa suka-mu padaku akan hilang jika mereka lebih dulu mendekatiku sebelum kamu. Karena aku merasakan ada getaran cinta di hatimu untukku.” Lalu Dika meletakkan perlahan jari telunjuknya di hidung jambu kancingku, ia memicitnya ringan.
“Karena aku takut rasa suka-mu padaku akan hilang jika mereka lebih dulu mendekatiku sebelum kamu. Karena aku merasakan ada getaran cinta di hatimu untukku.” Lalu Dika meletakkan perlahan jari telunjuknya di hidung jambu kancingku, ia memicitnya ringan.
“Iiihh, apaan sih lo, idung udah kecil
begini masih aja dipencet, gak kasihan banget nih orang.” Bahasa Tarzan-ku kembali keluar. Tapi ia malah melanjutkan serangannya dengan
menatapku dan mengunci pandangannya seperti mata elang yang melihat mangsanya. Aku pun tidak kuasa membalas tatapannya
dan menoleh ke arah yang berbeda,
tapi lagi-lagi Dika tak bergeming seraya
meraih daguku dan mengembalikan wajahku tepat berada di hadap wajahnya. Kini letak bibirku dan bibirnya hanya terpaut tiga
sentimeter saja. Hingga
tatapan mata kami saling beradu. Degup jantungku semakin meledak-ledak, seperti gemuruh petir menyentak kencang
saat sedang melamun hening. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan saat
ini, aku bingung.
Terhipnotis oleh tatapan
tajamnya dan tak kusadari bibirnya mendekat perlahan menggapai lembut bibir
mungilku. Oh Tuhan, dia menciumku. Tubuhku ingin menggeliat tak kuasa. Ini adalah ciuman pertamaku dengan
laki-laki lain yang tidak bisa kulukiskan dengan kanvas ataupun menjelaskannya
dengan pena. Dan untuk saat ini, mimpiku
terlihat lebih nyata dari sebelumnya.
TANGISAN JIWA
Aku
melewatkan banyak waktu berdua, dari mulai makan, nonton bioskop, dan olahraga
bersama di hari libur.
Apa yang orang katakan
memang benar, ketika kita sedang kasmaran, hubungan, pacaran, dunia serasa milik berdua saat berjalan bersama pasangan. Hal yang kini kurasakan saat bersama dengannya.
####ADA DIALOG intermezo DISINI####
####ADA DIALOG intermezo DISINI####
Dalam percintaan biasanya ada konflik yang namanya cinta segitiga
atau konflik orang ketiga.
Ternyata itu terjadi
pula padaku, Bimbim tak terima jika tahu aku harus berpacaran dengan Dika. Sekilas Bimbim memang terlihat mencintaiku, mungkin.
Tapi yang jelas ini semua terjadi bukan karena
cintanya, tapi karena ikatan
perjodohan yang dilakukan oleh keluargaku dan keluarga
Bimbim.
Dahulu, awalnya Aku, Bimbim, dan Akew adalah kawan sepermainan waktu kecil. Kami tinggal hanya terpisah beberapa blok saja saat itu. Meski sekarang tempat tinggal lama kami telah tiada karena digusur untuk keperluan pusat pemerintahan saat umurku 7th. Mau tidak mau kami harus mencari rumah baru. Saat itu Ayah Bimbim adalah orang berpengaruh di desa, ia menjabat sebagai lurah sekaligus sahabat Ayahku saat muda dulu hingga sekarang. Merasa kedekatan mereka sudah mendarah daging dan tak ingin berpisah jauh, Ayahku dan Ayah Bimbim ingin keluarga mereka lebih dekat lagi. Setelah sepakat mereka menjalankan rencananya, Ayah Bimbim membeli dua bidang tanah kosong di salah satu lokasi bilangan kota Tangerang, dan Ayahku yang membiayai pembangunan dua rumah sekaligus. Satu untuk keluargaku dan satu lagi untuk keluarga Bimbim. Menurutku itu mungkin menjadi hal ter-aneh dalam dunia persahabatan yang pernah ada, meskipun dengan alasan menjaga ikatan hubungan itu sendiri. Ternyata tak sampai di situ, mereka malah menginginkan lebih dekat lagi persahabatannya dengan menjodohkan anak mereka masing-masing, yaitu aku dan Bimbim yang sama-sama terlahir sebagai anak tunggal. Sejak saat itu aku dan Bimbim disetting untuk selalu satu sekolah meski tidak selalu satu kelas. Sementara Akew dan keluarganya yang merasa sudah menyatu bertetangga dengan keluargaku, selalu membuntuti kemanapun kami menetap. Hingga akhirnya keluarga kami ber-tiga tinggal berdekatan di perbatasan kota Tangerang-Jakarta. Merasa aneh dengan yang Ayah Bimbim dan Ayahku lakukan, aku pun sempat menanyakan perihal itu saat kelas satu SMA pada Ibuku. Ibu menceritakan sebagian alasan kenapa mereka membeli tanah dan rumah secara berbagi hingga menjodohkanku dengan Bimbim. Meskipun cerita yang Ibu paparkan belum cukup memuaskan rasa penasaran bathinku. Yang sedikit banyaknya, aku juga mengerti tentang bagaimana rasanya menyelami dunia persahabatan.
Latar belakang kehidupan masa muda mereka adalah preman. Meskipun demikian, sekarang Ayahku sudah taubat dan menyesali kesalahan-kesalahan masa-lalunya, ia meninggalkan kehidupan preman-nya saat bertemu Ibuku. Kekentalan persahabatan mereka berdua bermula dari perkelahian di pasar. Di tempat ini biasanya selalu ada yang namanya penguasa atau pemegang wilayah pasar tersebut, yang biasa dipanggil ‘Jagoan Pasar’. Mungkin karena pusat perbelanjaan ini menghasilkan uang besar untuk jagoan pasar yang tengah berkuasa, tak ayal memperebutkan dan mempertahankan daerah kekuasaan menjadi hal terpenting dan prioritas. Semakin besar dan luas daerah kekuasaannya, semakin banyak uang yang dihasilkannya dari pungutan liar kedai-kedai di pasar. Jagoan pasar punya wilayah masing-masing. Salah satu jagoan pasar meninggal dunia karena sakit yang dideritanya, dengan begitu wilayah kekuasaannya menjadi kosong, seperti sebuah kerajaan tanpa bakal raja pengganti. Ayahku dan Ayah Bimbim berniat untuk mengambil wilayah kekuasaan yang saat ini kosong dari masing-masing kubu yang berlawanan. Hingga akhirnya mereka bertemu pada satu titik dimana tempat itu menjadi pertengahan batas wilayah masing-masing. Syarat dan sistem yang mereka gunakan jika seseorang ingin menguasai wilayah, yang paling wajib dipenuhi adalah satu; mereka punya kekuatan untuk meruntuhkan kekuasaan lawan, kedua; tentunya punya anak buah, dan yang terakhir adalah bertarung dengan penguasa wilayah. Layaknya perang Uhud, mereka berdua bertemu dengan kegagahan. Duel satu lawan satu tanpa senjata menjadi syarat dan hukum wajib untuk menjaga keluhuran etika dalam memenangkan kekuasaan wilayah, yang mungkin sedikit bertolak belakang pada masa kini ketika pendidikan makin maju berkembang tapi moralitas dan etika jauh terbalik. Bagiku mereka lebih layak menyandang gelar ‘JAGOAN’ ketimbang teman-teman pria di sekolahku yang punya hobi tawuran beramai-ramai, meskipun mungkin itu menjadi bagian dari fase kenakalan murid-murid di sekolah. Suasana mencekam penuh geram dari kedua kubu, sebagian melontarkan umpatan-umpatan, meremehkan kubu lawan. Mereka saling menjagokan jagoan kubu masing-masing, sementara jagoan mereka tengah berhadap-hadapan saling melemparkan tajam sorot mata dan wajah geramnya. Seakan pertarungan akbar, ada penengah di antara kedua petarung sebagai penentu siapa nanti yang layak memenangkan pertarungan. Pertarungan klasik yang mungkin kini sudah punah, yaitu menggunakan gerakan atau gaya bertarung yang sekarang lebih dikenal sebagai jurus seni bela diri! Hmm.. sedikit masukan, sepertinya seni yang satu ini memang patut dilestarikan saat ini, mungkin karena aku khawatir seni yang satu ini akan punah, karena esensi seni ini mengajarkan kita bagaimana cara hidup yang bijak, dan mengerti etika bersikap. Keduanya tengah memasang posisi dan kuda-kuda sebagai tanda siap menerima atau memulai serangan, dengan gerak cekatan, menyiak, membandul dan mengeplek, gejikan, dan jingkrikan sebelum menyerang. Mereka memulai baku hantam menggunakan jurus masing-masing, mencari celah di balik rapatnya pertahanan lawan. Tapi setelah cukup lama bertikai, belum satupun dari keduanya tumbang, mereka sama kuat dan rapat. Tangan menebang, lawan menepis. Kaki menggejik, lawan menyiak, bandulan melesat, lawan menghindar. Hingga mereka tersadar lelah, tak satupun celah dari keduanya yang mampu ditembus lawan. Merasa tak mungkin melanjutkan pertarungan yang imbang, akhirnya mereka saling mengakui. Sepakat berunding dan membagi kekuasaan wilayah sama-rata. Dari pertarungan itu, mereka menjadi sekutu demi langgengnya kekuatan bersama menjaga wilayah. Hingga mereka pensiun dari dunia pasarnya saat ini, mereka tetap solid dengan persahabatannya.
Lepas pulang sekolah aku melangkah menuju lokasi mobilku terparkir, aku hendak membuka kunci otomatis mobilku dari jarak 3 meter. Bimbim datang dengan tiba-tiba, lalu ia menarik tanganku dan mencengkamnya, memaksa untuk ikut dengannya ke kejauhan dari keramaian.
Dahulu, awalnya Aku, Bimbim, dan Akew adalah kawan sepermainan waktu kecil. Kami tinggal hanya terpisah beberapa blok saja saat itu. Meski sekarang tempat tinggal lama kami telah tiada karena digusur untuk keperluan pusat pemerintahan saat umurku 7th. Mau tidak mau kami harus mencari rumah baru. Saat itu Ayah Bimbim adalah orang berpengaruh di desa, ia menjabat sebagai lurah sekaligus sahabat Ayahku saat muda dulu hingga sekarang. Merasa kedekatan mereka sudah mendarah daging dan tak ingin berpisah jauh, Ayahku dan Ayah Bimbim ingin keluarga mereka lebih dekat lagi. Setelah sepakat mereka menjalankan rencananya, Ayah Bimbim membeli dua bidang tanah kosong di salah satu lokasi bilangan kota Tangerang, dan Ayahku yang membiayai pembangunan dua rumah sekaligus. Satu untuk keluargaku dan satu lagi untuk keluarga Bimbim. Menurutku itu mungkin menjadi hal ter-aneh dalam dunia persahabatan yang pernah ada, meskipun dengan alasan menjaga ikatan hubungan itu sendiri. Ternyata tak sampai di situ, mereka malah menginginkan lebih dekat lagi persahabatannya dengan menjodohkan anak mereka masing-masing, yaitu aku dan Bimbim yang sama-sama terlahir sebagai anak tunggal. Sejak saat itu aku dan Bimbim disetting untuk selalu satu sekolah meski tidak selalu satu kelas. Sementara Akew dan keluarganya yang merasa sudah menyatu bertetangga dengan keluargaku, selalu membuntuti kemanapun kami menetap. Hingga akhirnya keluarga kami ber-tiga tinggal berdekatan di perbatasan kota Tangerang-Jakarta. Merasa aneh dengan yang Ayah Bimbim dan Ayahku lakukan, aku pun sempat menanyakan perihal itu saat kelas satu SMA pada Ibuku. Ibu menceritakan sebagian alasan kenapa mereka membeli tanah dan rumah secara berbagi hingga menjodohkanku dengan Bimbim. Meskipun cerita yang Ibu paparkan belum cukup memuaskan rasa penasaran bathinku. Yang sedikit banyaknya, aku juga mengerti tentang bagaimana rasanya menyelami dunia persahabatan.
Latar belakang kehidupan masa muda mereka adalah preman. Meskipun demikian, sekarang Ayahku sudah taubat dan menyesali kesalahan-kesalahan masa-lalunya, ia meninggalkan kehidupan preman-nya saat bertemu Ibuku. Kekentalan persahabatan mereka berdua bermula dari perkelahian di pasar. Di tempat ini biasanya selalu ada yang namanya penguasa atau pemegang wilayah pasar tersebut, yang biasa dipanggil ‘Jagoan Pasar’. Mungkin karena pusat perbelanjaan ini menghasilkan uang besar untuk jagoan pasar yang tengah berkuasa, tak ayal memperebutkan dan mempertahankan daerah kekuasaan menjadi hal terpenting dan prioritas. Semakin besar dan luas daerah kekuasaannya, semakin banyak uang yang dihasilkannya dari pungutan liar kedai-kedai di pasar. Jagoan pasar punya wilayah masing-masing. Salah satu jagoan pasar meninggal dunia karena sakit yang dideritanya, dengan begitu wilayah kekuasaannya menjadi kosong, seperti sebuah kerajaan tanpa bakal raja pengganti. Ayahku dan Ayah Bimbim berniat untuk mengambil wilayah kekuasaan yang saat ini kosong dari masing-masing kubu yang berlawanan. Hingga akhirnya mereka bertemu pada satu titik dimana tempat itu menjadi pertengahan batas wilayah masing-masing. Syarat dan sistem yang mereka gunakan jika seseorang ingin menguasai wilayah, yang paling wajib dipenuhi adalah satu; mereka punya kekuatan untuk meruntuhkan kekuasaan lawan, kedua; tentunya punya anak buah, dan yang terakhir adalah bertarung dengan penguasa wilayah. Layaknya perang Uhud, mereka berdua bertemu dengan kegagahan. Duel satu lawan satu tanpa senjata menjadi syarat dan hukum wajib untuk menjaga keluhuran etika dalam memenangkan kekuasaan wilayah, yang mungkin sedikit bertolak belakang pada masa kini ketika pendidikan makin maju berkembang tapi moralitas dan etika jauh terbalik. Bagiku mereka lebih layak menyandang gelar ‘JAGOAN’ ketimbang teman-teman pria di sekolahku yang punya hobi tawuran beramai-ramai, meskipun mungkin itu menjadi bagian dari fase kenakalan murid-murid di sekolah. Suasana mencekam penuh geram dari kedua kubu, sebagian melontarkan umpatan-umpatan, meremehkan kubu lawan. Mereka saling menjagokan jagoan kubu masing-masing, sementara jagoan mereka tengah berhadap-hadapan saling melemparkan tajam sorot mata dan wajah geramnya. Seakan pertarungan akbar, ada penengah di antara kedua petarung sebagai penentu siapa nanti yang layak memenangkan pertarungan. Pertarungan klasik yang mungkin kini sudah punah, yaitu menggunakan gerakan atau gaya bertarung yang sekarang lebih dikenal sebagai jurus seni bela diri! Hmm.. sedikit masukan, sepertinya seni yang satu ini memang patut dilestarikan saat ini, mungkin karena aku khawatir seni yang satu ini akan punah, karena esensi seni ini mengajarkan kita bagaimana cara hidup yang bijak, dan mengerti etika bersikap. Keduanya tengah memasang posisi dan kuda-kuda sebagai tanda siap menerima atau memulai serangan, dengan gerak cekatan, menyiak, membandul dan mengeplek, gejikan, dan jingkrikan sebelum menyerang. Mereka memulai baku hantam menggunakan jurus masing-masing, mencari celah di balik rapatnya pertahanan lawan. Tapi setelah cukup lama bertikai, belum satupun dari keduanya tumbang, mereka sama kuat dan rapat. Tangan menebang, lawan menepis. Kaki menggejik, lawan menyiak, bandulan melesat, lawan menghindar. Hingga mereka tersadar lelah, tak satupun celah dari keduanya yang mampu ditembus lawan. Merasa tak mungkin melanjutkan pertarungan yang imbang, akhirnya mereka saling mengakui. Sepakat berunding dan membagi kekuasaan wilayah sama-rata. Dari pertarungan itu, mereka menjadi sekutu demi langgengnya kekuatan bersama menjaga wilayah. Hingga mereka pensiun dari dunia pasarnya saat ini, mereka tetap solid dengan persahabatannya.
Lepas pulang sekolah aku melangkah menuju lokasi mobilku terparkir, aku hendak membuka kunci otomatis mobilku dari jarak 3 meter. Bimbim datang dengan tiba-tiba, lalu ia menarik tanganku dan mencengkamnya, memaksa untuk ikut dengannya ke kejauhan dari keramaian.
“Lepasin dong,
apa-apaan sih lo Bim,
sakit tahu tangan gue!” rontaku mencoba melepaskan genggaman
tangannya.
“Diam!! aku mau ngomong sama kamu!!” bentaknya.
Aku
mencoba
berontak dari genggaman tangannya yang tejal, tapi nihil. Aku
tak kuasa dan mengakhiri perlawananku untuk mengikuti keinginannya.
“Kamu jadian sama Dika?? Kamu pacaran? Hah, jawab?!” Tanya Bimbim
kepadaku dengan mata nanar.
“Kenapa Bim, hati gak
bisa dibohongi, gue memang
jadian sama dia dan gue cinta!”
Jawabku dengan suara berat.
“Gak bisa begitu dong, kita sudah dijodohkan, kamu lupa?!” Ia menatapku, menggoyang-goyangkan
telunjuknya yang diletakkan di kepalanya, coba mengingatkanku tentang perjodohannya.
“Apa lo juga lupa Bim,
kemana saja lo selama ini?!” sementara saputan air mata membendung kelopak di
mataku.
“Lo selalu cari sensasi dengan mendekati banyak wanita, dan gue gak terima itu!!” sambungku. Aku cemburu karena merasa Bimbim selalu menuhankan keegoisannya sebagai lelaki, membuatku berani berontak dari menjaga perjodohan yang orang tua kami canangkan.
“Lo selalu cari sensasi dengan mendekati banyak wanita, dan gue gak terima itu!!” sambungku. Aku cemburu karena merasa Bimbim selalu menuhankan keegoisannya sebagai lelaki, membuatku berani berontak dari menjaga perjodohan yang orang tua kami canangkan.
“Mereka yang dekati aku, bukan aku, kamu tahu itu!!” tegasnya.
“Tapi kenapa lo gak
jaga perasaan gue, lo anggap apa gue selama ini?? Apa gue salah memilih jalan
gue sendiri, dan lo pun gak berhak buat melarang-larang
gue, apalagi soal hati gue, kita gak terikat apa-apa!” pungkasku.
“Kamu memang gak pernah bisa berubah gun, terserah kamu! Aku capek meladeni amarahmu!” rutuk Bimbim, menahan kesal geramnya.
“Hah?! Gak salah ucap lo?! Itu kan lo! Bukan gue!” tohok telunjukku keras ke dadanya. Ia mengangguk-anggukan kepalanya menatap ke segala arah, kacau, sinis. Lalu menatapku kembali, menaikkan sedikit sudut bibirnya, meremas janggutnya perlahan, penuh murka. Satu detik berikutnya, “Plookkk!!” Dia mengayunkan tangan tejalnya ke wajahku, memecutkan buku tangannya menyengat rona merah pipiku. Wajahku terhempas dari tatapannya, aku menoleh kembali, mataku menatapnya, benci, marah.
“Puass lo?!” tatapku, geram.
“Tamparan lo gak terasa apa-apa bagi gue!” sambungku. Tiba-tiba air mata yang tadi sempat membendung pulupuk mulai pecah berlinang deras, dan bulirnya hangat meliuk-liuk di pipi merahku mewakili kekesalanku. Mendapat tamparan darinya membuatku semakin marah dan aku meninggalkannya setelah memberikan tamparan balasan. Ia diam bergeming, mematung. Mencoba menahanku, tapi mengurungkannya kembali. Hatiku sakit! satu sisi aku harus menuruti aturan main keluargaku dengan perjodohannya, di sisi lain aku mempunyai seseorang yang patut kupertahankan karena menjadikan-ku sang putri di hatinya. Aku menutup pintu mobilku kencang, ku-starter mobil dan menginjak pedal gas kuat hingga berdecit. Air mata mengucur deras, aku memukul-mukul stir mobil dan mencengkamnya keras, kesal. Aku hanya bisa menangis menghadapi dilema ini, meskipun aku tahu itu hanyalah hal bodoh yang kulakukan, dan tak mampu menyelesaikan permasalahan. Setidaknya, itulah hal terakhir yang dilakukan seorang wanita saat tak sanggup lagi menampung sakit di dadanya. Aku terus menancapkan laju sang mobil, meski tak bisa cepat karena jalan yang tidak sepi, aku terus mengikuti jalan mengelilingi ruas-ruasnya tanpa tujuan, hingga sore hari aku kembali lagi ke arah sekolah dan menepikan mobilku di tempat yang selalu menjadi pilihan utamaku untuk menenangkan diri.
“Kamu memang gak pernah bisa berubah gun, terserah kamu! Aku capek meladeni amarahmu!” rutuk Bimbim, menahan kesal geramnya.
“Hah?! Gak salah ucap lo?! Itu kan lo! Bukan gue!” tohok telunjukku keras ke dadanya. Ia mengangguk-anggukan kepalanya menatap ke segala arah, kacau, sinis. Lalu menatapku kembali, menaikkan sedikit sudut bibirnya, meremas janggutnya perlahan, penuh murka. Satu detik berikutnya, “Plookkk!!” Dia mengayunkan tangan tejalnya ke wajahku, memecutkan buku tangannya menyengat rona merah pipiku. Wajahku terhempas dari tatapannya, aku menoleh kembali, mataku menatapnya, benci, marah.
“Puass lo?!” tatapku, geram.
“Tamparan lo gak terasa apa-apa bagi gue!” sambungku. Tiba-tiba air mata yang tadi sempat membendung pulupuk mulai pecah berlinang deras, dan bulirnya hangat meliuk-liuk di pipi merahku mewakili kekesalanku. Mendapat tamparan darinya membuatku semakin marah dan aku meninggalkannya setelah memberikan tamparan balasan. Ia diam bergeming, mematung. Mencoba menahanku, tapi mengurungkannya kembali. Hatiku sakit! satu sisi aku harus menuruti aturan main keluargaku dengan perjodohannya, di sisi lain aku mempunyai seseorang yang patut kupertahankan karena menjadikan-ku sang putri di hatinya. Aku menutup pintu mobilku kencang, ku-starter mobil dan menginjak pedal gas kuat hingga berdecit. Air mata mengucur deras, aku memukul-mukul stir mobil dan mencengkamnya keras, kesal. Aku hanya bisa menangis menghadapi dilema ini, meskipun aku tahu itu hanyalah hal bodoh yang kulakukan, dan tak mampu menyelesaikan permasalahan. Setidaknya, itulah hal terakhir yang dilakukan seorang wanita saat tak sanggup lagi menampung sakit di dadanya. Aku terus menancapkan laju sang mobil, meski tak bisa cepat karena jalan yang tidak sepi, aku terus mengikuti jalan mengelilingi ruas-ruasnya tanpa tujuan, hingga sore hari aku kembali lagi ke arah sekolah dan menepikan mobilku di tempat yang selalu menjadi pilihan utamaku untuk menenangkan diri.
Tak
jauh dari sekolah, ada
sebuah tanah lapang yang sejuk jika sore hari, di pinggir lapangan ada sebuah pohon mangga tempat
aku
dan teman-teman biasa berkumpul
bersama saat pulang sekolah atau waktu-waktu senggang lainnya. Di bawah sebuah pohon mangga ada bale bambu yang Akew buat untuk bersantai.
Tak jauh dari situ
ada
warung Pak Harto, tempat biasa kami ‘mengutang’
dan makan-makan. Aku pergi ke warung Pak Harto untuk membeli minuman dan cemilan
untuk menemani renungku.
“Eh, nak anggun. Kok sendirian saja kesini? Teman-teman yang lain kemana? Kok enggak ikut.” tegur Pak Harto.
“Engga tahu Pak, anggun sendiri ke sini, sengaja mau menikmati udara sore di lapangan, di bawah pohon mangga.” Jawabku parau.
“Bapak lihat nak anggun sepertinya lagi sedih tho, ada apa? cerita sama Bapak.” Pak Harto menatapku, iba. Sambil mengelap piring yang usai dicuci.
“Gak apa-apa kok Pak, anggun habis kelilipan tadi kaca mobilnya gak ditutup.” jawabku memberi alasan.
“Pak Harto, anggun mau beli minuman sama cemilan.” Sambungku.
“Oh, iya. nak anggun ambil saja ndak usah bayar gak apa-apa kok, sudah ambil saja, nak anggun mau Bapak buatkan makanan apa?! Ada mie ayam, soto, mau?” Terangnya sambil menawarkan.
“Gak usah Pak, anggun sudah makan siang, anggun mau makanan cemilan saja, sekalian anggun ngutang dulu ya Pak.”
“Iya, nak anggun gak apa-apa kok.”
“Anggun ke lapangan dulu ya Pak, mau lihat anak-anak kecil main bola.” Kataku, berusaha melempar senyum.
“Oh, iya. nak anggun silakan.” ucap Pak Harto dengan senyum kembali.
“Terima kasih ya Pak Harto.” Senyumku, kikuk.
“Iya, nak anggun. Sama-sama.” Senyumnya kembali terlontar, lembut.
Aku melangkah dari warung Pak Harto ke tempat mobilku menepi, di bawah pohon aku langsung membenamkan tubuhku yang lelah, di sandaran batang pohon mangga, lalu duduk membungkuk, melingkari kedua lututku mengikatnya dengan pegangan kedua tangan. melanjutkan ratapan sakit hatiku. Isak sedu tangis bertabur, sesekali tertawa pelan melihat tingkah lucu anak-anak kecil yang bermain bola di sebrang sisi lapangan. Dua detik setelah tertawa, perlahan-lahan terdengar lagi isak sengguk tangisku yang bernada tapi tak berirama. Saat hangatnya bulir air mata meliuk-liuk indah di rona pipiku yang merana, tiba-tiba seseorang berdiri di belakang punggung kananku memberikan sapu tangan untuk mengusap air mataku, tanpa aku sadari dia sudah berada cukup lama di dekatku. Andika, dia hadir tepat di saat aku membutuhkan sandaran.
“Eh, nak anggun. Kok sendirian saja kesini? Teman-teman yang lain kemana? Kok enggak ikut.” tegur Pak Harto.
“Engga tahu Pak, anggun sendiri ke sini, sengaja mau menikmati udara sore di lapangan, di bawah pohon mangga.” Jawabku parau.
“Bapak lihat nak anggun sepertinya lagi sedih tho, ada apa? cerita sama Bapak.” Pak Harto menatapku, iba. Sambil mengelap piring yang usai dicuci.
“Gak apa-apa kok Pak, anggun habis kelilipan tadi kaca mobilnya gak ditutup.” jawabku memberi alasan.
“Pak Harto, anggun mau beli minuman sama cemilan.” Sambungku.
“Oh, iya. nak anggun ambil saja ndak usah bayar gak apa-apa kok, sudah ambil saja, nak anggun mau Bapak buatkan makanan apa?! Ada mie ayam, soto, mau?” Terangnya sambil menawarkan.
“Gak usah Pak, anggun sudah makan siang, anggun mau makanan cemilan saja, sekalian anggun ngutang dulu ya Pak.”
“Iya, nak anggun gak apa-apa kok.”
“Anggun ke lapangan dulu ya Pak, mau lihat anak-anak kecil main bola.” Kataku, berusaha melempar senyum.
“Oh, iya. nak anggun silakan.” ucap Pak Harto dengan senyum kembali.
“Terima kasih ya Pak Harto.” Senyumku, kikuk.
“Iya, nak anggun. Sama-sama.” Senyumnya kembali terlontar, lembut.
Aku melangkah dari warung Pak Harto ke tempat mobilku menepi, di bawah pohon aku langsung membenamkan tubuhku yang lelah, di sandaran batang pohon mangga, lalu duduk membungkuk, melingkari kedua lututku mengikatnya dengan pegangan kedua tangan. melanjutkan ratapan sakit hatiku. Isak sedu tangis bertabur, sesekali tertawa pelan melihat tingkah lucu anak-anak kecil yang bermain bola di sebrang sisi lapangan. Dua detik setelah tertawa, perlahan-lahan terdengar lagi isak sengguk tangisku yang bernada tapi tak berirama. Saat hangatnya bulir air mata meliuk-liuk indah di rona pipiku yang merana, tiba-tiba seseorang berdiri di belakang punggung kananku memberikan sapu tangan untuk mengusap air mataku, tanpa aku sadari dia sudah berada cukup lama di dekatku. Andika, dia hadir tepat di saat aku membutuhkan sandaran.
“Nih, usap air mata kamu.” ia mengulurkan tangannya
disamping leherku.
“Kok kamu disini? Sejak
kapan?!” tanyaku sambil
berusaha menghentikan senggukan.
“Aku nyariin kamu
kemana-mana, tadi aku tanya Pak
Harto katanya kamu di sini, aku
langsung saja kemari.”
“Ooh.” jawabku, dengan pandangan
kosong.
“Tapi, kenapa kok kamu menangis seperti ini, ada apa? Mungkin aku punya salah sama kamu,
cerita-lah!” tanya Dika, menyelidik.
“Gak ada apa-apa kok, lagi pengen nangis saja, kelilipan debu.”
jawabku singkat. Ia diam sejenak.
“Sudahlah, kalau kamu gak mau jujur kayak gini, buat apa kita
saling cinta, tanpa bisa saling
terbuka, karena bagaimanapun sensitifnya aku, aku tak mungkin
bisa meraba apa yang terjadi.” mendengar kata-kata itu dari bibirnya membuatku
sedikit tersentak dan agak kaget, tapi tak berusaha mengerti apa yang
dimaksud oleh ucapannya, lalu
aku meredamkan henyakku kembali.
“Memang begitu kan lelaki, gak ada yang peka seperti wanita.” Timpalku.
“Iya, sudah. Sekarang coba kamu ceritakan apa yang terjadi, dan berusahalah untuk jujur.” Aku hening sejenak, menimbang-nimbang apakah aku harus berkata yang sejujurnya atau harus menyembunyikan-nya, wanita memang sering berbohong, tapi itu semua dilakukan demi sesuatu yang menurutnya berharga untuk dipertahankan, tapi jika sudah memang semestinya terbuka, terbuka-lah apa yang disembunyikan itu, meski hanya sedikit yang bisa membuat wanita berkata jujur, karena kejujuran hanya untuk orang yang benar-benar dipercayai-nya. Ah, entahlah. Mungkin sudah seharusnya aku mengatakan yang sejujurnya pada Dika.
“Memang begitu kan lelaki, gak ada yang peka seperti wanita.” Timpalku.
“Iya, sudah. Sekarang coba kamu ceritakan apa yang terjadi, dan berusahalah untuk jujur.” Aku hening sejenak, menimbang-nimbang apakah aku harus berkata yang sejujurnya atau harus menyembunyikan-nya, wanita memang sering berbohong, tapi itu semua dilakukan demi sesuatu yang menurutnya berharga untuk dipertahankan, tapi jika sudah memang semestinya terbuka, terbuka-lah apa yang disembunyikan itu, meski hanya sedikit yang bisa membuat wanita berkata jujur, karena kejujuran hanya untuk orang yang benar-benar dipercayai-nya. Ah, entahlah. Mungkin sudah seharusnya aku mengatakan yang sejujurnya pada Dika.
“Maafin aku, Dika.” Aku
menoleh setelah beberapa saat menggumam,
tanpa berani menatap wajahnya.
“Maaf kenapa, sepertinya kamu merasa sangat bersalah, memangnya
kamu punya salah apa, hingga menangis seperti ini?!”
dia meraih tanganku,
memindahkan letak
posisi tubuhnya di
hadapanku.
“Maafkan aku gak
terbuka sama kamu selama ini.” Ucapku kembali menoleh, menatap tanah, menghindari
tatapannya.
“Terbuka soal apa? Kamu
jangan tutup-tutupi sesuatu dari
aku, aku gak suka!” ia menjemput kembali tatapanku.
“Harusnya aku bilang ke
kamu dari awal, kalau aku sudah dijodohkan dari kecil oleh orang tuaku.” Jawabku, terisak-isak.
“What??!!” sepertinya ia terkesiap mendegarnya.
“Iya, aku sudah
dijodohkan dengan seorang lelaki, anak
dari sahabat Ayahku. dan dia adalah Bimbim.” Pungkasku.
“Wow… hebat, kejutan
banget buat aku ya sayang,
ketika cinta semakin dalam dan terbentuk, kamu hanya perlu memecahkannya dalam
satu ketukan.”
Ia menyindir nyinyir.
“Aku
sayang banget sama kamu Dika, aku gak bisa pisah dari kamu!” Aku
mencoba meraih pelukan di tubuh hangatnya.
tapi apalah dayaku, ia
melepaskan pelukannya setelah
sesaat dapat ku-raih, bahkan
meski
aku memohon belas kasihannya.
Dia melangkah meninggalkanku dengan wajah yang merah padam,
mungkin ia
tidak bisa menerima kenyataan yang aku ungkapkan.
“Sudah, cukup!! Terima kasih atas semua, aku gak akan mengganggu kamu lagi, setelah semua ini.”
“Tapi, Dika. Please…” aku terus memohon. Dia tetap tak mengindahkan.
Sekarang, dia pun pergi berlalu meninggalkanku, sedang aku keadaan menangis. Tadinya, kukira dia bisa meredam tangisku, tapi ternyata tangisku makin menjadi-jadi. Sungguh tak kusangka aku menjadi selemah ini, setelah yang kuhadapi seolah menjadi akhir dari kehidupan. Hatiku tiba-tiba menjadi sangat sepi, yang aku rasakan saat ini betapa sangat tersiksanya dan sesaknya dada ketika kecewa datang melanda, berbuah perihnya sakit hati, menuai pedihnya patah hati.
“Sudah, cukup!! Terima kasih atas semua, aku gak akan mengganggu kamu lagi, setelah semua ini.”
“Tapi, Dika. Please…” aku terus memohon. Dia tetap tak mengindahkan.
Sekarang, dia pun pergi berlalu meninggalkanku, sedang aku keadaan menangis. Tadinya, kukira dia bisa meredam tangisku, tapi ternyata tangisku makin menjadi-jadi. Sungguh tak kusangka aku menjadi selemah ini, setelah yang kuhadapi seolah menjadi akhir dari kehidupan. Hatiku tiba-tiba menjadi sangat sepi, yang aku rasakan saat ini betapa sangat tersiksanya dan sesaknya dada ketika kecewa datang melanda, berbuah perihnya sakit hati, menuai pedihnya patah hati.
Hanya irama sunyi dan
hembusan angin buritan di lapang kini menerpa bulir-bulir air mata. Ketika senja dan sang surya mulai
menjauhkan wajahnya dariku, oh,
Tuhan... Mentari pun hendak pergi meninggalkanku. Emosiku lenyap menyambut sang mega merah, aku tetap terdiam dalam sedihku, bergeming.
Menanti rembulan menyapa dengan senyum kutukannya, aku
tersadar! saat melihat jam Rolex di
tangan menunjukkan pukul tujuh malam. Aku harus segera pulang, orang tuaku pasti mencemaskanku, mereka pasti mencariku.
Aku pun
pulang tanpa nada suara, tanpa irama. diam seribu bahasa.
#####TENTANG KEHIDUPAN PANTI######
Hari demi hari berlalu bersama gairahku yang surai memudar, meski aku mencoba untuk kembali menyatukan cinta kami, tapi dia tetap pada pendiriannya dan tak ingin menggangu aku lagi. Ketika aku coba mendekat dan bicara padanya dia selalu menjauhiku, sekali lagi meskipun aku memohon iba padanya, dia tetap tak mengacuhkanku. Aku merasa bersalah, dan entah dengan apa aku harus menebus kesalahan ini. Cinta, memang harus dimulai dengan kejujuran sejak awalnya. Mungkin itu pelajaran yang aku dapat dari hubungan ini.
#####TENTANG KEHIDUPAN PANTI######
Hari demi hari berlalu bersama gairahku yang surai memudar, meski aku mencoba untuk kembali menyatukan cinta kami, tapi dia tetap pada pendiriannya dan tak ingin menggangu aku lagi. Ketika aku coba mendekat dan bicara padanya dia selalu menjauhiku, sekali lagi meskipun aku memohon iba padanya, dia tetap tak mengacuhkanku. Aku merasa bersalah, dan entah dengan apa aku harus menebus kesalahan ini. Cinta, memang harus dimulai dengan kejujuran sejak awalnya. Mungkin itu pelajaran yang aku dapat dari hubungan ini.
DIALOG JIWA
Sore ini, aku berusaha
dan memaksakan diri untuk menerima semua kenyataan sambil memandangi metahari
kuning telur yang hendak menjemput malam, ditemani segelas teh hangat, aku
melihat bayanganku yang hadir menanmpakkan sosoknya, dia bernama Anggita, aku pun lalu bertanya padanya
perihal sedikit kehidupan yang aku alami.
“Wahai, Anggita. apakah
aku salah menutupi semua kejujuranku untuk mempertahankan kebahagiaanku?”
“Duhai Anggun, kenapa
engkau bertanya seolah engkau tidak mengetahui jawabannya, jika engkau tidak
tahu jawaban atas pertanyaanmu, maka kenapa tidak engkau rubah pertanyaannya
agar engkau bisa mengetahui jawabannya?” mendengar jawaban Anggita yang penuh
misteri, aku berusaha mengerti apa yang dikatakan bayanganku sendiri, ia datang
dan menjelma sebagai momok sang pencerah yang memberiku jawaban tapi ia
menyulitkanku dalam membentuk sebuah pertanyaan.
“Entahlah, aku hanya
tak ingin merubah pertanyaanku ketika pertanyaan lain tak terlalu penting untuk
kuketahui”
“Engkau takkan
menemukan jawaban pada pertanyaan yang tidak mempunyai jawaban, engkau hanya
akan menemukan jawaban setelah mengerti apa yang hendak engkau pertanyakan,
lalu, bagaimana engkau bisa bertanya sedang engkau sendiri tidak mengerti apa
yang engkau tanyakan?” oh..
tidak, Anggita membuat semua pertanyaanku tidak berarti, ia muntahkan
mentah-mentah setiap pertanyaan dan mengembalikannya padaku. Sebelum ia menghilang,
ia berpesan padaku.
“Ketika engkau
mempunyai masalah, janganlah membuat pertanyaan untuk mendapatkan jawaban agar
engkau bisa keluar dari permasalahan, tapi jadilah engkau bagian dari
pertanyaannya, dan biarkan isi dunia yang menjawabnya!!” sesaat setelah dia
pergi, aku mendapati teh di
meja
teras rumahku habis tak tersisa, aku
pun
tak tahu siapa yang menghabiskannya, mungkin diriku, mungkin juga bayanganku,
Anggita.
Matahari tengah bersiap
menyelimuti sinarnya dengan saput
redup, hendak menjemput sang malam. Kumandang adzan maghrib pun menyadarkanku
dengan bantuan sang mega merah,
mengingatkan waktu untuk
sholat maghrib sudah tiba. Selekas mungkin aku
bergegas mengambil air wudhu ke dalam
kamar mandi, selesai dengan ritual wudhu
kulanjutkan memakai mukena ungu kesayanganku yang berbahan katun lembut, aku
pun sholat maghrib di musholla rumahku yang letaknya tepat di samping dapur dan bersebelahan dengan
kamar mandi. Sementara Ayah masih berkutat dengan
berkas-berkas bisnisnya di meja kerja. Sedang Ibu
tengah menyiapkan santap makan malam untuk kami bersama bi Ijah. Selepas sholat aku tak
lupa melakukan serangkaian do’a dalam simpuhku, bait-baitnya ku-isi dengan
harapan-harapan, pengakuan dosa dan permohonan ampun atas segala kesalahanku dan Ayah-Ibuku,
memohon kebahagiaan untuk keluargaku,
berharap setitik senyumNya menyambut setiap bait dalam do’aku, berharap deraian
air mata yang menetes di atas sajadah bisa mengantarkan do’aku agar sampai
padaNya, berharap Dia mau merangkul kesedihan dalam hatiku karena diriku yang
selalu merutuki
keberadaanku sendiri.
Setelah Ayah merapikan map-nya,
dan Ibu telah siap dengan hidangan makan malamnya, kami pun siap menyantap
makanan di meja oval yang berada tepat pada tengah-tengah jantung rumah. Ketika
aku duduk hendak menyauk
nasi, yang meski aku sedang tak bernafsu untuk makan. Tapi Ibu selalu mengingatkan bahwa makan
adalah kekuatan, dan jika kamu tidak makan artinya kamu menyakiti sebuah
mahakarya ciptaan Tuhan yang istimewa yang Ia titipkan dalam jasmani manusia,
Dia-lah Ibuku, aku sering menganggapnya sebagai teman karena sifatnya yang
selalu berusaha bersikap seperti remaja layak diriku, tapi soal nasehat dan
kata bijak Ibu jauh pandang untuk mengeluarkan statement dan buah pikirnya. Sebagian besar ada benarnya buah jatuh
tak jauh dari pohonnya, mungkin Ibu sepertiku saat muda dulu, karena sifatnya
yang sok muda dan selalu marah jika dipanggil Bibi oleh teman-temanku, dan
lebih suka dipanggil sist atau miss Desi,
pun masih bisa toleran jika dipanggil tante.
Meski begitu Ia tetap sosok Ibu idaman. Suapan
pertama sampai di pintu mulutku, tiba-tiba Ayah
berkata padaku dengan nada minor menusuk yang paling sering diucapkan dan
paling tidak aku suka.
“Anggun, bagaimana hubunganmu dengan Bimbim?” tanya Ayah, sambil menunggu Ibu menaruh sayur di mangkuk dan lauk pauk di piringnya. Aku tak ingin mengecewakannya dengan jawaban yang membuat selera makannya hilang, karena menentang keinginannya berarti menyakiti perasaannya, aku tak sanggup mengecewakannya, cukuplah Dika yang kecewa padaku tapi tidak orang tuaku.
“Baik-baik saja kok, Yah.” jawabku dengan berpura-pura tenang dan berusaha menciptakan suasana bahwa keadaan memang baik-baik saja, sambil memotong potongan ayam goreng di depan saji.
“Anggun, bagaimana hubunganmu dengan Bimbim?” tanya Ayah, sambil menunggu Ibu menaruh sayur di mangkuk dan lauk pauk di piringnya. Aku tak ingin mengecewakannya dengan jawaban yang membuat selera makannya hilang, karena menentang keinginannya berarti menyakiti perasaannya, aku tak sanggup mengecewakannya, cukuplah Dika yang kecewa padaku tapi tidak orang tuaku.
“Baik-baik saja kok, Yah.” jawabku dengan berpura-pura tenang dan berusaha menciptakan suasana bahwa keadaan memang baik-baik saja, sambil memotong potongan ayam goreng di depan saji.
“Baguslah, kalau begitu. Jangan kecewakan Ayah. Orang tua Bimbim
adalah sahabat Ayah dari kecil.”
sambil mengangguk-angguk dan menyantap masakan Ibu bertanda hatinya lega karena
menganggap tak ada masalah dengan perjodohannya. Padahal dalam hatiku sangat
tersiksa dengan perjodohan ini, karena
begitu bertolak belakang dan kontradiksi dengan pilihan hatiku. Setelah semua dialogku
dengan Ayah, usai semua kegiatan kami
malam ini dan berakhir untuk melakukan rehat
malam menyiapkan kebugaran di esok hari, aku masih berpikir tentang jawaban
dari hasil dialogku
dengan bayanganku, Anggita. Aku tertegun sejenak di atas kasur violetku, berleyeh-leyeh hingga tidur mengantar lelapku menuju
pagi.
####PERCAKAPAN ISTI DAN BIMBIM####.
MIMPI JIWA
Ketika malam menunjukkan jarum jam di atas dinding kamar pukul sebelas malam, sesaat sebelum detik meninggalkan sang waktu di belakangnya, aku kaget luar biasa menyentak jantungku hingga terasa copot dari letaknya, suara gaduh yang berasal dari luar kamar, bunyi gelas pecah yang dibanting sepertinya berasal dari kamar Ibu dan Ayahku, suara keras tangisan sesekali menjerit dengan teriakan bersahut-sahutan menyayat kalbu. Ya Tuhan, apa lagi ini? Tanyaku dalam hati. Tidak lain semua itu berasal dari Ibu dan Ayahku, sepertinya mereka bertengkar hebat, akhir-akhir ini mereka memang lebih sering berselisih dari biasanya tapi tak sehebat malam ini, kejadian ini terjadi setelah Ayah sering pergi ke luar kota untuk keperluan bisnisnya, meski yang kutahu ia melakukan itu semua demi keluarga. Entah konflik apa yang terjadi antara mereka, aku tak cukup pandai menyimpul rangkumnya dalam pikiran yang kalut untuk mengurainya.
####PERCAKAPAN ISTI DAN BIMBIM####.
MIMPI JIWA
Ketika malam menunjukkan jarum jam di atas dinding kamar pukul sebelas malam, sesaat sebelum detik meninggalkan sang waktu di belakangnya, aku kaget luar biasa menyentak jantungku hingga terasa copot dari letaknya, suara gaduh yang berasal dari luar kamar, bunyi gelas pecah yang dibanting sepertinya berasal dari kamar Ibu dan Ayahku, suara keras tangisan sesekali menjerit dengan teriakan bersahut-sahutan menyayat kalbu. Ya Tuhan, apa lagi ini? Tanyaku dalam hati. Tidak lain semua itu berasal dari Ibu dan Ayahku, sepertinya mereka bertengkar hebat, akhir-akhir ini mereka memang lebih sering berselisih dari biasanya tapi tak sehebat malam ini, kejadian ini terjadi setelah Ayah sering pergi ke luar kota untuk keperluan bisnisnya, meski yang kutahu ia melakukan itu semua demi keluarga. Entah konflik apa yang terjadi antara mereka, aku tak cukup pandai menyimpul rangkumnya dalam pikiran yang kalut untuk mengurainya.
Begitu lelahnya aku
mendengar dan menyaksikan semua hiruk-pikuk pertengkaran dalam rumah tangga
yang kerap terjadi antara Ayah dan Ibu, hingga
aku bosan melerainya. Malam ini aku muak dan murka dengan
kehidupan rumah, aku memutuskan untuk pergi dari rumah berharap Ayah dan Ibu
peka melihat apa yang terjadi pada anaknya. Kemas barang dan aku melangkah melepas kehidupan
mereka, menjauh dari kecacatan rumah tangga karena pemudaran warna cinta di
dalamnya. Aku berjalan menjauh dari rumah sekali
lalu termangu mengutuk hidup ini, hanya hati yang
berbicara tanpa arah di sepanjang
jalan kaki melangkah.
Terkadang, mengetahui
sebuah karakter harus sambil berjalan, terkadang, baru hanya akan mengerti
bentuk diri setelah sesuatu melewati, bagaimana bentuk melewati sesuatu yang
diam itu sedang kaki mengayun di sisinya lalu membelakangi. Jawaban hanya akan
tercipta oleh sang diri sejati. Melampaui hanya akan membuat jarak lebih jauh,
terkadang itu bukan sesuatu yang diharapkan, terkadang itu hanya akan menjadikan
semu rona temaramnya sebuah tujuan. Pikiranku terus mengawang-awang di
kesunyian malam berusaha mengungkap semua tabir misteri sambil menentukan kemana
arah pacu hati berhenti.
Satu jam saja aku sudah beranjak dari rumah malam ini, perutku mengiba meminta belas kasihan, ternyata ia mulai merasakan lapar, aku menyisir pinggiran jalan besar yang terlihat lengang dan mencari sesuatu untuk mengganjal laparnya, berharap ia tersenyum kembali setelah apa yang dia inginkan mengisi harapannya. Suara piring yang berasal oleh benturan sendok mengiang di kupingku, membuatku tersenyum akan harapnya. Sesaat lalu kulihat sinar lampu berjalan, seorang tukang nasi goreng di jam dua malam dini hari masih berkeliling menandakan bahwa mungkin jajakannya belum habis, aku menghampirinya dan memesankan porsi satu piring nasi goreng untuk perutku yang mulai lapar. Baguslah, jajakan yang kupesan masih tersisa tiga porsi terakhir, membuatku bernafas lega karena bisa mengabulkan keinginan perutku yang tengah meronta-ronta. Sesekali penjajak nasi goreng ini bertanya tentangku yang masih berada di luar meski hari sudah dini, aku hanya mengatakan bahwa aku sengaja keluar rumah untuk mencari makan dan beralasan bahwa rumahku dekat.
Setelah makan aku menyusuri jalan mencari tempat beristirahat, kutinggalkan ‘sejenak’ rumah dengan kamar violetku, Ibu, Ayah dan semua kehidupan teman-temanku beserta isi ceritanya masing-masing. Simpang jalan kulalui dan kudapati sebuah bangunan Musholla kecil yang tersandar sebuah bedug di samping muka hadapnya berdempet dengan sudut salah satu latar bangunan. Tak kuasa menahan kantuk setelah makan tadi aku pun memutuskan untuk membebaskan kantukku dari ‘penjaranya’ di teras samping Musholla, berdekatan dengan sebuah bedug yang membelakangiku. Sesaat sebelum tidur aku sempat berpikir setelah pagi tiba entah bagaimana reaksi Ibu dan Ayah ketika menyadari bahwa anaknya tak ada di dalam kamar, tanpa mengindahkan segala pikiran-pikiran aneh yang berusaha menyembul dalam otak, lekas kuhilangkan semua pikiran itu bersama tusukkan angin yang berasal dari pusara-pusara belakang bangunan Musholla, aku pun tertidur.
Satu jam saja aku sudah beranjak dari rumah malam ini, perutku mengiba meminta belas kasihan, ternyata ia mulai merasakan lapar, aku menyisir pinggiran jalan besar yang terlihat lengang dan mencari sesuatu untuk mengganjal laparnya, berharap ia tersenyum kembali setelah apa yang dia inginkan mengisi harapannya. Suara piring yang berasal oleh benturan sendok mengiang di kupingku, membuatku tersenyum akan harapnya. Sesaat lalu kulihat sinar lampu berjalan, seorang tukang nasi goreng di jam dua malam dini hari masih berkeliling menandakan bahwa mungkin jajakannya belum habis, aku menghampirinya dan memesankan porsi satu piring nasi goreng untuk perutku yang mulai lapar. Baguslah, jajakan yang kupesan masih tersisa tiga porsi terakhir, membuatku bernafas lega karena bisa mengabulkan keinginan perutku yang tengah meronta-ronta. Sesekali penjajak nasi goreng ini bertanya tentangku yang masih berada di luar meski hari sudah dini, aku hanya mengatakan bahwa aku sengaja keluar rumah untuk mencari makan dan beralasan bahwa rumahku dekat.
Setelah makan aku menyusuri jalan mencari tempat beristirahat, kutinggalkan ‘sejenak’ rumah dengan kamar violetku, Ibu, Ayah dan semua kehidupan teman-temanku beserta isi ceritanya masing-masing. Simpang jalan kulalui dan kudapati sebuah bangunan Musholla kecil yang tersandar sebuah bedug di samping muka hadapnya berdempet dengan sudut salah satu latar bangunan. Tak kuasa menahan kantuk setelah makan tadi aku pun memutuskan untuk membebaskan kantukku dari ‘penjaranya’ di teras samping Musholla, berdekatan dengan sebuah bedug yang membelakangiku. Sesaat sebelum tidur aku sempat berpikir setelah pagi tiba entah bagaimana reaksi Ibu dan Ayah ketika menyadari bahwa anaknya tak ada di dalam kamar, tanpa mengindahkan segala pikiran-pikiran aneh yang berusaha menyembul dalam otak, lekas kuhilangkan semua pikiran itu bersama tusukkan angin yang berasal dari pusara-pusara belakang bangunan Musholla, aku pun tertidur.
Aku berada dalam
ruangan yang sangat agung dan megah, dengan gemerlap cahaya kebiruan meliputi
bagian dalam ruang, gaya bangunan bertekstur kerajaan islami abad Sulaiman
dengan banyak ornamen dan tiang pondasi di berbagai sudut ruang berlapiskan
saputan emas dan hiasan batu jamrud dan marjan mulia yang kaya akan ukuran. Aku
berjalan lamban dan mengayun melintasi permadani biru bercorak yang sangat
panjang, dengan sisi-sisi ragam bunga
yang kuanggap sebagai bunga surga, dari kejauhan
terlihat megahnya sebuah tahta dan di atas tahta berdiri sesosok bayangan yang
amat cerah bersinar cahaya terang hingga melingkupi sebagian besar ruangan yang
luas tersebut, di sisi kanannya terlihat seperti sosok yang kukenal. Begitu
lama kubutuhkan waktu untuk menghampirinya, seolah-olah aku tak sanggup
mencapainya karena jauhnya letak tahta dari pandangan, kurasakan lemas kaki
melangkah dan ku-urungkan niat untuk melanjutkan perjalanan, aku pun berlutut
perlahan menundukkan wajah karena letihnya, seketika tahta berada dekat di
hadapan saat aku mengangkat wajah. Menatapnya membuat pelupuk mataku memicing
karena silaunya, aku tertunduk kembali sesaat dan cahaya mulai menghindari
silaunya dari mataku ketika kuangkat kembali pandanganku dan melihat siapa
sosok di tahta itu.
Dia adalah Anggita,
saudari kembarku yang hanya sesosok bayangan, ditemani sesosok lelaki paruh
baya bersamanya di atas singgasana.
“Hai anggun, bagaimana kabarmu sekarang?” senyum sapa terlempar dari suara lembutnya Anggita.
“Entahlah, Git. dimana aku?” tanyaku yang sedang dalam kebingungan oleh fenomena ini.
“Tenanglah saudariku, meskipun engkau tidak tahu bagaimana kabarmu saat ini, yang pasti kita sudah bersama sekarang, lepaskanlah bebanmu, di sini engkau akan bahagia, ikutlah bersamaku.” Anggita memberikan tawaran seraya mengulurkan tangannya untuk kugapai dan bangun dari tunduk rebah lututku. Aku pun menggapainya dan tak bisa menolak ajakannya, lelaki paruh baya di sampingnya menyambutku dengan senyuman sejuk. Entah apa yang kurasakan, aku mengikuti saja keinginan mereka tanpa bisa menolaknya meski hati ingin.
“Kita mau kemana Git?” tanyaku menyelidik.
“Kita akan ke surga sayangku.” sambil menatap wajahku penuh senyum.
“Kenapa kita harus ke surga Git? bukankah surga hanya untuk jiwa yang telah lepas dari jasadnya, bukankah aku…” aku berhenti melanjutkan ucapanku mencoba menerka-nerka apa yang terjadi padaku, Anggita memegang kedua pundakku meyakinkanku dengan apa yang terjadi, matanya mengisyaratkan kejadian yang dimaksud adalah bahwa memang demikian adanya. Aku memaksa Anggita untuk mengatakan bahwa aku masih… tapi sebelum aku melanjutkan rasa tidak percayaku dan berkata pada Anggita, ia meletakkan jari telunjuknya di bibirku, sambil mengangguk-angguk memaksaku untuk menyetujui apa yang terjadi, air mataku berlinang, Anggita memelukku mencoba untuk menghangatkan keadaanku yang kecamuk.
Anggita lekas mengajakku keluar dari ruangan istana megah tersebut ditemani lelaki paruh baya yang terlihat sangat sejuk tadi, ketika sampai di beranda istana, Anggita melangkah pergi meninggalkanku sendirian, tapi aku tak bisa mengikutinya, sepertinya kakiku tak mampu bergerak mengejarnya, aku hanya bisa berjalan mengikuti langkah kaki di pelataran depan istana sementara lelaki paruh baya tadi tetap di muka pintu istana diam berdiri menatapku sambil tersenyum, tiba-tiba terdengar suara samar-samar dari bawah kanopi sebuah paviliun sekitar istana istana memanggil-manggil namaku, aku menoleh perlahan dan melihat bahwa yang memanggilku adalah sosok Nenek dan Kakekku yang telah tiada, membuatku begitu terkejut ketika di situ juga ada Bibi-ku, Bi Wiwin, dia adik Ibuku yang selalu menjadi tempat curhatku saat ia masih hidup, ia meninggal karena kanker paru-paru yang dideritanya, dan belum sempat mengecap pernikahan dalam hidupnya. Di sinilah letak kesedihanku, bahwa aku mempunyai penyakit yang sama dengan Bibi Wiwin, aku sangat takut mengalami nasib sepertinya. Aku telah mengidap kanker paru-paru sejak usia 9th, penderitaan hidup yang tak pernah orang lain tahu, bahkan sahabat-sahabatku, hanya Ayah dan Ibu yang mengetahui keadaanku, aku sering bersembunyi dari keramaian saat batuk darahku kambuh atau pun ketika darah mengalir bahagia dari hidung mungilku, menjalani hidup dengan sedikit terpaksa hanya untuk menanti akhir dari sebuah perjalanan kereta kehidupan.
Mungkin ini saatnya aku bergabung dengan mereka, mungkin ini memang sudah saatnya aku meninggalkan Ayah dan Ibu di rumah selamanya, meskipun umurku masih sangat muda saat ini. Kakek dan Nenek menatapku dengan bahagia, tapi Bibi Wiwin, pandangannya terhadapku terlihat sangat sinis. Sepertinya ia tak bisa menerima jika aku harus bergabung dengan mereka secepat ini, aku menghampiri mereka tapi tidak Bi Wiwin, sorot matanya yang tajam membuatku takut menatapnya. Ketika aku memeluk Kakek dan Nenek, Bi Wiwin tiba-tiba menarik tanganku dengan sedikit kasar, seperti hendak marah dan menatarku. Satu sisi aku bahagia bisa bertemu Bi Wiwin dan yang lainnnya, tapi di sisi lain aku bersedih harus meninggalkan Ayah dan Ibu di rumah selamanya.
“Anggun kamu kenapa ke sini? Sana pulang, Ibu pasti khawatir.” Bi Wiwin bertanya dengan nada yang tinggi.
“Gak tahu, Bi. anggun juga… kenapa bisa berada di sini, seingat anggun tadi…” sambil mengingat keberadaanku sebelum sampai di sini, Bibi langsung menyelak ucapanku.
“Sudah, kamu pulang sana! nanti kemari-lah kembali jika sudah waktunya.” Bibi mengusirku, lalu dia mendorongku dengan kuat hingga aku terjatuh, tak sadarkan diri.
“Hai anggun, bagaimana kabarmu sekarang?” senyum sapa terlempar dari suara lembutnya Anggita.
“Entahlah, Git. dimana aku?” tanyaku yang sedang dalam kebingungan oleh fenomena ini.
“Tenanglah saudariku, meskipun engkau tidak tahu bagaimana kabarmu saat ini, yang pasti kita sudah bersama sekarang, lepaskanlah bebanmu, di sini engkau akan bahagia, ikutlah bersamaku.” Anggita memberikan tawaran seraya mengulurkan tangannya untuk kugapai dan bangun dari tunduk rebah lututku. Aku pun menggapainya dan tak bisa menolak ajakannya, lelaki paruh baya di sampingnya menyambutku dengan senyuman sejuk. Entah apa yang kurasakan, aku mengikuti saja keinginan mereka tanpa bisa menolaknya meski hati ingin.
“Kita mau kemana Git?” tanyaku menyelidik.
“Kita akan ke surga sayangku.” sambil menatap wajahku penuh senyum.
“Kenapa kita harus ke surga Git? bukankah surga hanya untuk jiwa yang telah lepas dari jasadnya, bukankah aku…” aku berhenti melanjutkan ucapanku mencoba menerka-nerka apa yang terjadi padaku, Anggita memegang kedua pundakku meyakinkanku dengan apa yang terjadi, matanya mengisyaratkan kejadian yang dimaksud adalah bahwa memang demikian adanya. Aku memaksa Anggita untuk mengatakan bahwa aku masih… tapi sebelum aku melanjutkan rasa tidak percayaku dan berkata pada Anggita, ia meletakkan jari telunjuknya di bibirku, sambil mengangguk-angguk memaksaku untuk menyetujui apa yang terjadi, air mataku berlinang, Anggita memelukku mencoba untuk menghangatkan keadaanku yang kecamuk.
Anggita lekas mengajakku keluar dari ruangan istana megah tersebut ditemani lelaki paruh baya yang terlihat sangat sejuk tadi, ketika sampai di beranda istana, Anggita melangkah pergi meninggalkanku sendirian, tapi aku tak bisa mengikutinya, sepertinya kakiku tak mampu bergerak mengejarnya, aku hanya bisa berjalan mengikuti langkah kaki di pelataran depan istana sementara lelaki paruh baya tadi tetap di muka pintu istana diam berdiri menatapku sambil tersenyum, tiba-tiba terdengar suara samar-samar dari bawah kanopi sebuah paviliun sekitar istana istana memanggil-manggil namaku, aku menoleh perlahan dan melihat bahwa yang memanggilku adalah sosok Nenek dan Kakekku yang telah tiada, membuatku begitu terkejut ketika di situ juga ada Bibi-ku, Bi Wiwin, dia adik Ibuku yang selalu menjadi tempat curhatku saat ia masih hidup, ia meninggal karena kanker paru-paru yang dideritanya, dan belum sempat mengecap pernikahan dalam hidupnya. Di sinilah letak kesedihanku, bahwa aku mempunyai penyakit yang sama dengan Bibi Wiwin, aku sangat takut mengalami nasib sepertinya. Aku telah mengidap kanker paru-paru sejak usia 9th, penderitaan hidup yang tak pernah orang lain tahu, bahkan sahabat-sahabatku, hanya Ayah dan Ibu yang mengetahui keadaanku, aku sering bersembunyi dari keramaian saat batuk darahku kambuh atau pun ketika darah mengalir bahagia dari hidung mungilku, menjalani hidup dengan sedikit terpaksa hanya untuk menanti akhir dari sebuah perjalanan kereta kehidupan.
Mungkin ini saatnya aku bergabung dengan mereka, mungkin ini memang sudah saatnya aku meninggalkan Ayah dan Ibu di rumah selamanya, meskipun umurku masih sangat muda saat ini. Kakek dan Nenek menatapku dengan bahagia, tapi Bibi Wiwin, pandangannya terhadapku terlihat sangat sinis. Sepertinya ia tak bisa menerima jika aku harus bergabung dengan mereka secepat ini, aku menghampiri mereka tapi tidak Bi Wiwin, sorot matanya yang tajam membuatku takut menatapnya. Ketika aku memeluk Kakek dan Nenek, Bi Wiwin tiba-tiba menarik tanganku dengan sedikit kasar, seperti hendak marah dan menatarku. Satu sisi aku bahagia bisa bertemu Bi Wiwin dan yang lainnnya, tapi di sisi lain aku bersedih harus meninggalkan Ayah dan Ibu di rumah selamanya.
“Anggun kamu kenapa ke sini? Sana pulang, Ibu pasti khawatir.” Bi Wiwin bertanya dengan nada yang tinggi.
“Gak tahu, Bi. anggun juga… kenapa bisa berada di sini, seingat anggun tadi…” sambil mengingat keberadaanku sebelum sampai di sini, Bibi langsung menyelak ucapanku.
“Sudah, kamu pulang sana! nanti kemari-lah kembali jika sudah waktunya.” Bibi mengusirku, lalu dia mendorongku dengan kuat hingga aku terjatuh, tak sadarkan diri.
Dalam
gelap sebelum aku tersadar oleh
dorongan Bi Wiwin tadi, hatiku bertanya pada sang Tuhan yang menuliskan
kisah cerita hidupku ini, dimana dan seperti apa ia akan menyelesaikan
tulisannya, tapi karena ia tetap terdiam dan enggan menjawab, aku hanya bisa
pasrah menyerahkan semua bait-bait ceritaku ia selesaikan. Hingga kubuka
jendela mata dengan perlahan, mencoba mengerjap-kerjapkannya yang sebelumnya
kupicingkan karena terasa silau meraba retina, terdengar samar suara yang
kukenal.
“Dok.. dokter… anak saya dok…jarinya bergerak, cepat dokter!” sepertinya itu suara Ibuku dengan isaknya.
“Biarkan saya memeriksa, sebaiknya Ibu tunggu di luar dahulu, suster tolong dampingi saya.” mungkin itu ucap seorang dokter yang hendak memeriksa keadaanku, aku masih dalam keadaan hening setengah sadar, bahkan aku belum tahu pasti dimana aku berada sekarang.
“Tolong dok.. anak saya dokter!!” suara samar Ibu mengiba pada sang Dokter.
“Iya, Bu. Saya akan periksa keadaanya terlebih dahulu, silakan Ibu tunggu di luar agar kami bisa memeriksa keadaan anak Ibu.” dokter berusaha meyakinkan Ibuku yang belum sempat kutatap jelas bilur tangisannya, aku lemas tak berdaya. Dokter dan tim medisnya terlihat sayup-sayup sibuk memeriksa keadaanku yang baru siuman dari kolaps.
“Apa pasien masih hidup dokter?” terdengar lamat-lamat suara wanita, mungkin suster yang bertanya pada dokter.
“Sepertinya demikian suster, pasien masih hidup dan sudah sadar dari koma, tapi kondisinya masih sangat lemah, nanti tolong ganti selang infusnya ya suster, saya harus ke ruang Melati, kabari saya jika terjadi apa-apa.” jawab dokter yang telah usai menanganiku.
“Iya, Dokter.” jawab suster. Dokter pun keluar ruangan dan mengabarkan kondisiku kepada Ibu.
“Bagaimana Dokter, keadaan anak saya?” tanya Ibu cemas.
“Al-hamdulillah, sepertinya anak Ibu sudah sadarkan diri, hanya kondisinya masih lemah dan belum stabil, harus istirahat banyak untuk pemulihan kebugarannya.” jawab dokter menjelaskan pada Ibu. Meskipun ini bukan hal mengejutkan dan perdana dalam hidupku, aku memang sering kolaps seperti ini tapi Ibu tak pernah lelah menangisiku, ternyata sekarang masih belum saatnya dan bukan kolaps terakhir, meskipun statusnya sudah koma, pikirku.
“Syukurlah, boleh saya masuk Dokter?” tanya Ibu cemas.
“Silakan, Bu. Saya tinggal dulu karena ada pasien lain menunggu. Permisi.” pamit Dokter pada Ibu.
“Terima kasih Pak Dokter, silakan Dok.” setelah melepas dokter pergi dari muka ruang rawat, Ibu pun masuk ke dalam menghampiriku dan duduk di bangku dekat tempat tidurku, di Rumah Sakit. Ibu meremas-remas lembut tanganku dan mengelus-elus keningku, iba.
“Ibu, anggun dimana?” tanyaku mendayu, parau.
“Sayang, kamu sudah sadar nak?! Syukurlah.” Jawab Ibu, terisak.
“Ibu, anggun dimana? Bi Wiwin, Kakek dan Nenek tadi bersama anggun, mereka kemana Bu?” tanyaku pelan.
“Sayang, kamu bicara apa nak, mereka semua kan sudah meninggal.” Jelasnya, masih mengusap lembut kening dan rambutku.
“Memangnya anggun masih hidup ya, Bu?” tanyaku kembali.
“Tentu, sayang. Kamu masih hidup, buktinya Ibu masih disamping kamu. Ibu juga masih hidup sayang.” Jawab Ibu meyakinkanku.
“Kok anggun ada di sini, Bu?” tanyaku kembali yang masih bingung dan terus menggumam dalam hati.
“Waktu itu nak Bimbim mencari kamu pagi-pagi setelah kamu pergi dari rumah, katanya seseorang melihat kamu tak sadarkan diri di sebuah musholla, nak Bimbim langsung menyusuli kamu ke sana.” Terang Ibu.
“Syukurlah kamu sudah sadarkan diri, sayang. Ibu sangat khawatir. Kamu sudah satu bulan lebih tidak sadarkan diri.” Sambungnya kembali.
“Apa, Bu? Bukannya anggun hanya tidur beberapa jam saja, semalam anggun memang tidur di musholla usai makan nasi goreng.” Jawabku seingatnya.
“Sudahlah, sayang. Yang penting kamu sudah siuman sekarang.” Jawab Ibu mengalihkan perkataanku, Ibu mungkin tak ingin aku lebih keras lagi saat ini, karena kondisi tubuhku yang masih lemah.
“Ayah kemana, Bu?” tanyaku, lagi.
“Nak Bimbim sedang menjemputnya di Airport, sayang. Mungkin sebentar lagi datang.”
“Oh, Ayah gak ada di sini ya, Bu.”
“Nanti sayang, sebentar lagi Ayah pasti datang kok.” Pungkas Ibu. Suara dering berbunyi dari sebuah ponsel, sepertinya itu milik Ibuku, ia meraih ponselnya dalam sebuah tas yang berada di meja samping ranjang.
“Ya, halo.”
“Bu, bagaimana keadaan anggun?” terdengar suara samar dan lamat-lamat dari balik ponsel.
“Anggun sudah sadar Mas, Mas Adi dimana?” tanya Ibu, mungkin itu Ayah.
“Aku sedang menuju ke rumah sakit Bu, dengan nak Bimbim, mungkin setengah jam lagi sampai.” Pungkas Ayah.
“Iya, sudah. Jangan berlama-lama, segera-lah!” Ibu menutup ponselnya dengan risau. Setengah jam kemudian Ayah tiba di rumah sakit, hendak menuju ruang kamar tempat aku dirawat. Derap langkah bunyi sepatu terdengar ringan. Sementara dari luar bangunan rumah sakit terdengar sayup-sayup gema suara takbir dan tabuhan bedug yang bersahut-sahutan, apa mungkin sekarang sudah malam takbir, dan esok adalah lebaran hari raya Idul Fitri. Sedang aku melewatkan Ramadhan-ku di atas kasur, apa mungkin? Oh.. Tuhan, saat ini aku masih tak mengerti dengan sang waktu yang telah aku lewati, terasa begitu cepat. Aku masih merasa ragu dengan kenyataan yang sesungguhnya, jika harus memercayai bahwa mimpi yang terlalu singkat dalam tidurku tersebut sudah begitu banyak memangkas hari-hari dalam hidupku, atau mungkin aku masih tertidur dalam mimpiku?! Begitu aku terus bergumam dalam hati. Sesaat lalu Ayah menghampiriku, sedang matanya terlihat berkaca-kaca menahan tangis.
“Anakku… maafkan Ayah, sayang. Ayah sering mengabaikan kamu selama ini.” Ayah menatapku, memeluk erat tubuh lemahku yang masih terbaring, aku menatap kosong, lalu derai air mataku pecah tiba-tiba.
“Ayah, janji ya sama anggun. Jangan bertengkar lagi dengan Ibu, dan jangan pergi lama-lama lagi dari rumah.” Lemah suaraku membisik.
“Iya, nak. Ayah janji.” Ayah terus melelehkan air matanya.
“Mulai sekarang, Bu. Anggun akan mengenakan jilbab seperti Ibu. Anggun ingin berhijab, supaya bisa se-Anggun Ibu.” Aku menoleh dalam pelukan Ayah, menatap Ibu yang pipinya penuh dengan tumpahan air mata. Sementara Bimbim berdiri di sudut pintu kamar, menahan bendungan tangisnya yang berusaha ia sembunyikan, mengusap-usap ringan menyeka air mata yang terlanjur sedikit tumpah.
“Syukurlah, nak. Ibu bahagia mendengarnya, Ibu sangat menyayangimu.” Ibu yang sedang mengelus-elus kening dan rambutku lalu meraihku, ia memelukku, mengusap air mataku. Ayah memberikan pelukanku untuk Ibu, Ayah mengusap-usap punggung dan kepala Ibuku sambil menangis, hingga kemudian liukan air mata kami sedikit reda perlahan. Ibu berdiri kemudian, lalu Ayah menjemputnya, ke arah Ibu dan berdiri di hadapnya.
“Bu, maafkan Ayah.” Kata Ayah, lembut. Ayah memeluk Ibu, mencium kening dan rambutnya. Kemudian Ayah meraih dagu Ibu, menunggu tanggapan.
“Aku selalu memaafkanmu, Mas.” Jawab Ibu tersengguk-sengguk, mengangguk-anggukan kepalanya dengan tangisan senyum, Ayah memeluknya erat.
“Ayah…” bisikku, memanggilnya.
“Iya sayang, Ayah di sini.” Ayah melepas pelukan Ibu lalu menggapaiku, meremas ringan buku-buku jari-ku, dan mengusap lembut rambutku yang mulai terlihat surai luruh karena lamanya terbaring.
“Anggun rindu pelukan Ayah, pelukan yang sudah sangat lama sekali ingin anggun rasakan, pelukan Ibu dan Ayah.” Lalu, tangisan yang tadi sedikit reda terdengar deras kembali dan isak sengguknya semakin menjadi, mereka semua menangis bercucuran air mata, tak ada yang mampu membendung deraiannya, Bimbim pun berlinangan layaknya seorang bocah. Dan kini aku mendapatkan pelukan terhangat, pelukan Ayah yang begitu aku rindukan. Aku bahagia, Ayah dan Ibu akhirnya memelukku bersama-an malam ini.
“Dok.. dokter… anak saya dok…jarinya bergerak, cepat dokter!” sepertinya itu suara Ibuku dengan isaknya.
“Biarkan saya memeriksa, sebaiknya Ibu tunggu di luar dahulu, suster tolong dampingi saya.” mungkin itu ucap seorang dokter yang hendak memeriksa keadaanku, aku masih dalam keadaan hening setengah sadar, bahkan aku belum tahu pasti dimana aku berada sekarang.
“Tolong dok.. anak saya dokter!!” suara samar Ibu mengiba pada sang Dokter.
“Iya, Bu. Saya akan periksa keadaanya terlebih dahulu, silakan Ibu tunggu di luar agar kami bisa memeriksa keadaan anak Ibu.” dokter berusaha meyakinkan Ibuku yang belum sempat kutatap jelas bilur tangisannya, aku lemas tak berdaya. Dokter dan tim medisnya terlihat sayup-sayup sibuk memeriksa keadaanku yang baru siuman dari kolaps.
“Apa pasien masih hidup dokter?” terdengar lamat-lamat suara wanita, mungkin suster yang bertanya pada dokter.
“Sepertinya demikian suster, pasien masih hidup dan sudah sadar dari koma, tapi kondisinya masih sangat lemah, nanti tolong ganti selang infusnya ya suster, saya harus ke ruang Melati, kabari saya jika terjadi apa-apa.” jawab dokter yang telah usai menanganiku.
“Iya, Dokter.” jawab suster. Dokter pun keluar ruangan dan mengabarkan kondisiku kepada Ibu.
“Bagaimana Dokter, keadaan anak saya?” tanya Ibu cemas.
“Al-hamdulillah, sepertinya anak Ibu sudah sadarkan diri, hanya kondisinya masih lemah dan belum stabil, harus istirahat banyak untuk pemulihan kebugarannya.” jawab dokter menjelaskan pada Ibu. Meskipun ini bukan hal mengejutkan dan perdana dalam hidupku, aku memang sering kolaps seperti ini tapi Ibu tak pernah lelah menangisiku, ternyata sekarang masih belum saatnya dan bukan kolaps terakhir, meskipun statusnya sudah koma, pikirku.
“Syukurlah, boleh saya masuk Dokter?” tanya Ibu cemas.
“Silakan, Bu. Saya tinggal dulu karena ada pasien lain menunggu. Permisi.” pamit Dokter pada Ibu.
“Terima kasih Pak Dokter, silakan Dok.” setelah melepas dokter pergi dari muka ruang rawat, Ibu pun masuk ke dalam menghampiriku dan duduk di bangku dekat tempat tidurku, di Rumah Sakit. Ibu meremas-remas lembut tanganku dan mengelus-elus keningku, iba.
“Ibu, anggun dimana?” tanyaku mendayu, parau.
“Sayang, kamu sudah sadar nak?! Syukurlah.” Jawab Ibu, terisak.
“Ibu, anggun dimana? Bi Wiwin, Kakek dan Nenek tadi bersama anggun, mereka kemana Bu?” tanyaku pelan.
“Sayang, kamu bicara apa nak, mereka semua kan sudah meninggal.” Jelasnya, masih mengusap lembut kening dan rambutku.
“Memangnya anggun masih hidup ya, Bu?” tanyaku kembali.
“Tentu, sayang. Kamu masih hidup, buktinya Ibu masih disamping kamu. Ibu juga masih hidup sayang.” Jawab Ibu meyakinkanku.
“Kok anggun ada di sini, Bu?” tanyaku kembali yang masih bingung dan terus menggumam dalam hati.
“Waktu itu nak Bimbim mencari kamu pagi-pagi setelah kamu pergi dari rumah, katanya seseorang melihat kamu tak sadarkan diri di sebuah musholla, nak Bimbim langsung menyusuli kamu ke sana.” Terang Ibu.
“Syukurlah kamu sudah sadarkan diri, sayang. Ibu sangat khawatir. Kamu sudah satu bulan lebih tidak sadarkan diri.” Sambungnya kembali.
“Apa, Bu? Bukannya anggun hanya tidur beberapa jam saja, semalam anggun memang tidur di musholla usai makan nasi goreng.” Jawabku seingatnya.
“Sudahlah, sayang. Yang penting kamu sudah siuman sekarang.” Jawab Ibu mengalihkan perkataanku, Ibu mungkin tak ingin aku lebih keras lagi saat ini, karena kondisi tubuhku yang masih lemah.
“Ayah kemana, Bu?” tanyaku, lagi.
“Nak Bimbim sedang menjemputnya di Airport, sayang. Mungkin sebentar lagi datang.”
“Oh, Ayah gak ada di sini ya, Bu.”
“Nanti sayang, sebentar lagi Ayah pasti datang kok.” Pungkas Ibu. Suara dering berbunyi dari sebuah ponsel, sepertinya itu milik Ibuku, ia meraih ponselnya dalam sebuah tas yang berada di meja samping ranjang.
“Ya, halo.”
“Bu, bagaimana keadaan anggun?” terdengar suara samar dan lamat-lamat dari balik ponsel.
“Anggun sudah sadar Mas, Mas Adi dimana?” tanya Ibu, mungkin itu Ayah.
“Aku sedang menuju ke rumah sakit Bu, dengan nak Bimbim, mungkin setengah jam lagi sampai.” Pungkas Ayah.
“Iya, sudah. Jangan berlama-lama, segera-lah!” Ibu menutup ponselnya dengan risau. Setengah jam kemudian Ayah tiba di rumah sakit, hendak menuju ruang kamar tempat aku dirawat. Derap langkah bunyi sepatu terdengar ringan. Sementara dari luar bangunan rumah sakit terdengar sayup-sayup gema suara takbir dan tabuhan bedug yang bersahut-sahutan, apa mungkin sekarang sudah malam takbir, dan esok adalah lebaran hari raya Idul Fitri. Sedang aku melewatkan Ramadhan-ku di atas kasur, apa mungkin? Oh.. Tuhan, saat ini aku masih tak mengerti dengan sang waktu yang telah aku lewati, terasa begitu cepat. Aku masih merasa ragu dengan kenyataan yang sesungguhnya, jika harus memercayai bahwa mimpi yang terlalu singkat dalam tidurku tersebut sudah begitu banyak memangkas hari-hari dalam hidupku, atau mungkin aku masih tertidur dalam mimpiku?! Begitu aku terus bergumam dalam hati. Sesaat lalu Ayah menghampiriku, sedang matanya terlihat berkaca-kaca menahan tangis.
“Anakku… maafkan Ayah, sayang. Ayah sering mengabaikan kamu selama ini.” Ayah menatapku, memeluk erat tubuh lemahku yang masih terbaring, aku menatap kosong, lalu derai air mataku pecah tiba-tiba.
“Ayah, janji ya sama anggun. Jangan bertengkar lagi dengan Ibu, dan jangan pergi lama-lama lagi dari rumah.” Lemah suaraku membisik.
“Iya, nak. Ayah janji.” Ayah terus melelehkan air matanya.
“Mulai sekarang, Bu. Anggun akan mengenakan jilbab seperti Ibu. Anggun ingin berhijab, supaya bisa se-Anggun Ibu.” Aku menoleh dalam pelukan Ayah, menatap Ibu yang pipinya penuh dengan tumpahan air mata. Sementara Bimbim berdiri di sudut pintu kamar, menahan bendungan tangisnya yang berusaha ia sembunyikan, mengusap-usap ringan menyeka air mata yang terlanjur sedikit tumpah.
“Syukurlah, nak. Ibu bahagia mendengarnya, Ibu sangat menyayangimu.” Ibu yang sedang mengelus-elus kening dan rambutku lalu meraihku, ia memelukku, mengusap air mataku. Ayah memberikan pelukanku untuk Ibu, Ayah mengusap-usap punggung dan kepala Ibuku sambil menangis, hingga kemudian liukan air mata kami sedikit reda perlahan. Ibu berdiri kemudian, lalu Ayah menjemputnya, ke arah Ibu dan berdiri di hadapnya.
“Bu, maafkan Ayah.” Kata Ayah, lembut. Ayah memeluk Ibu, mencium kening dan rambutnya. Kemudian Ayah meraih dagu Ibu, menunggu tanggapan.
“Aku selalu memaafkanmu, Mas.” Jawab Ibu tersengguk-sengguk, mengangguk-anggukan kepalanya dengan tangisan senyum, Ayah memeluknya erat.
“Ayah…” bisikku, memanggilnya.
“Iya sayang, Ayah di sini.” Ayah melepas pelukan Ibu lalu menggapaiku, meremas ringan buku-buku jari-ku, dan mengusap lembut rambutku yang mulai terlihat surai luruh karena lamanya terbaring.
“Anggun rindu pelukan Ayah, pelukan yang sudah sangat lama sekali ingin anggun rasakan, pelukan Ibu dan Ayah.” Lalu, tangisan yang tadi sedikit reda terdengar deras kembali dan isak sengguknya semakin menjadi, mereka semua menangis bercucuran air mata, tak ada yang mampu membendung deraiannya, Bimbim pun berlinangan layaknya seorang bocah. Dan kini aku mendapatkan pelukan terhangat, pelukan Ayah yang begitu aku rindukan. Aku bahagia, Ayah dan Ibu akhirnya memelukku bersama-an malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar